pola yang sama.
apakah permainin tahn 2010 n 2008 juga akan sama dengan 2026?, sehingga bisa untuk menjustifikasi akan juara. syangnya tdak. pendapat itu hnya utal atik gatuk angka sja. bukan permainin yg akan d mainkn
Joachim Klement mungkin punya metodenya sendiri, tapi EA Sports juga punya reputasi yang nggak kalah mentereng soal prediksi juara Piala Dunia.
Dalam 4 edisi terakhir, mereka prediksi 4 kali dengan tingkat akurasi 100%.
2010 → Spain ✓
2014 → Germany ✓
2018 → France ✓
2022 → Argentina ✓
Metodenya sederhana, mereka simulasikan seluruh turnamen ratusan kali di game FIFA mereka. Semua 48 tim, semua 104 pertandingan, dengan squad resmi dan rating pemain yang terupdate. Hasilnya diambil dari pola yang paling sering muncul.
4 kali mereka lakuin itu. 4 kali bener.
Untuk 2026, simulasi mereka nunjuk Spanyol. Dan ada satu pola yang menarik, Spanyol juara dunia 2010 tepat setelah mereka juara Euro 2008. Mereka masuk ke 2026 sebagai juara Euro 2024. 16 tahun kemudian, dengan pola yang sama persis.
Kalau gue jujur, prediksi EA Sports soal Spanyol jauh lebih masuk akal dibanding Joachim Klement yang nunjuk Belanda sebagai juara.
Tapi kalau lo, lebih percaya yang mana? 🤔
#WorldCup2026
Lo tau ada Ekonom asal Jerman yang udah 3x bener nebak juara Piala Dunia?
Dan untuk Piala Dunia 2026 juga dia udah punya jawabannya.
2014 → Germany ✓
2018 → France ✓
2022 → Argentina ✓
Namanya Joachim Klement. Dia bahkan gak punya background sepak bola sama sekali. Dia ahli matematika, ekonom dan investment strategist asal Jerman yang kerjaannya sehari-hari analisis pasar saham.
Pertama kali dia bikin model prediksi ini tahun 2014. Klement menggunakan teknik algoritma matematika dan ekonomi yang dikuasainya untuk memprediksi juara Piala Dunia. Beberapa variabel yang ia pertimbangkan antara lain:
GDP per capita negara → infrastruktur sepakbola, kualitas akademi, dan akses ke fasilitas latihan itu mahal. Negara kaya punya fondasi lebih kuat.
Populasi → semakin besar populasi, semakin luas talent pool yang bisa dipilih.
Suhu rata-rata negara → ini yang paling unik. Negara dengan iklim lebih hangat cenderung punya pemain yang lebih terbiasa main di kondisi fisik tertentu.
FIFA ranking tim → sebagai representasi kekuatan tim saat ini.
Dan satu variabel lagi yang dia akui sendiri: luck. Faktor keberuntungan ikut dimasukkan secara eksplisit ke dalam kalkulasinya, karena bagaimanapun sepakbola tidak pernah bisa sepenuhnya diprediksi.
Untuk 2026, dia memprediksi Belanda yang bakal keluar sebagai Juara Piala Dunia, mengalahkan Portugal di Final.
Klement sendiri tetap bilang bahwa jangan terlalu percaya sama dia, tapi susah juga untuk diabaikan begitu aja kalau track record-nya sudah 3 dari 3.
Belanda juara dunia tahun ini, prediksi yang masuk akal atau terlalu jauh?
İnsanlar için kaybetmenin acısı, aynı miktarı kazanmanın verdiği mutluluktan iki kat daha şiddetlidir.
Bu yüzden yatırım yaparken veya karar alırken asıl odak noktamız "kazanmaktan ziyade, kaybetmemektir."
Saat masih kuliah di UGM, saya mendengar kabar seorang diplomat muda Indonesia di London berani tampil di BBC World Debate, berhadapan dgn diplomat senior Ramos Horta, di saat atmosfer internasional sedang menyudutkan Indonesia. Diplomat muda Indonesia itu tampil gemilang menjaga nama Indonesia tegak berwibawa. Di situlah pertama kali saya mendengar namanya: @dinopattidjalal.
Beberapa tahun kemudian, saat sedang menempuh progam PhD di Illinois, kami berjumpa langsung. Dino datang ke Chicago menjelaskan keadaan mahasiswa dan diaspora Indonesia pasca-9/11. Yg kami temui adalah diplomat muda yg cerdas, artikulatif, dan mampu menangani persoalan rumit dgn ketenangan diplomatik yg sulit ditiru.
Tahun 2012, sebagai Dubes di AS, Dino menggagas Kongres Diaspora Indonesia pertama di Los Angeles, mempertemukan diaspora dari seluruh dunia. Saya termasuk yg ia undang. Ia lalu mendirikan FPCI, komunitas kebijakan luar negeri terbesar dan berpengaruh, yg ikut melahirkan generasi diplomat baru, ujung tombak kita di panggung global.
Menguasai substansi, rekam jejaknya teruji, dan pengalaman memimpinnya luas. Itulah Dino. Karier diplomatiknya panjang dan ajeg, kecintaannya pada politik luar negeri Indonesia begitu dalam. Dino Patti Djalal, bukan karbitan jadi diplomat, bukan pula karbitan jadi pejabat.
• Reporter: "Can you tell us how you experienced the penalty shootout and how you decided on the penalty takers?"
🚨🗣️ Luis Enrique: "Simple. To choose the takers, we did what we always do. There were 6 genuine penalty specialists and they were selected based on their preparation."
في وحدة من الجامعات الألمانية، قرروا يسوّون اختبار علمي علشان يعرفون: هل البقرة تحس بألم وقت الذبح الإسلامي أو لا؟ استخدموا جهاز اسمه EEG يراقب إشارات المخ، ويحدد إذا فيه ألم أو لا، وكم قوته.
جهزوا البقرة للاختبار، شبكوا الأجهزة، وذبحوها.
وفي أول ٣ ثواني من الذبح…
🚨 TERKINI : Sejumlah pejabat tinggi Italia telah menolak mentah-mentah saran dari utusan khusus Donald Trump, Paolo Zampolli (dia orang Italia btw), yang menginginkan Italia menggantikan Iran di Piala Dunia 2026.
Mereka berpendapat tiket ke Piala Dunia harusnya didapatkan dengan perjuangan di lapangan bukan dari lobi-lobi memalukan seperti ini.
📝 @USATODAY
@LambeSahamjja Gak nyangka diusia skrg bisa melihat jiwa patriot bangsa persia yg slm ini cm baca di sejarah dan bs melihat langsung knp persia bnr2 begitu jaya dalam sejarah jg budayany bs tersebar k banyak daerah.
Diskak Mat Chatib Basri, Prabowo Kelabakan dan Minta Break.. Lagian kok perhitungan ekonomi berharap pada leaked atau kebocoran yang didapatkan atau dicegah?! Mana pemahaman Tax Ratio juga ngawur..
Terence Tao explains the math behind today’s LLMs is actually simple. Training and running them mostly uses linear algebra, matrix multiplication, and a bit of calculus, material an undergraduate can handle. We understand how to build and operate these models.
The real mystery is why they work so well on some tasks and fail on others, and why we cannot predict that in advance. We lack good rules for forecasting performance across tasks, so progress is largely empirical.
A key reason is the nature of real-world data. Pure noise is well understood, perfectly structured data is well understood, but natural text sits in between, partly structured and partly random. Mathematics for that middle regime is thin, similar to how physics struggles at meso-scales between atoms and continua.
Because of this gap, we can describe the mechanisms but cannot yet explain capability jumps or give reliable task-level predictions. That mismatch, simple machinery versus hard-to-predict behavior, is the core puzzle.
----
Video from 'Dr Brian Keating' YT Channel (Link in comment)