Cerpen tahun 2025 pertama dimuat di Omongomong. Saya didekasikan kepada Taun Besar Mulyono. Agak berat, sureal, tapi pantas dibaca.
Sila https://t.co/eAWSVEvHAz…
Orang tuanya tak pernah mengajarinya menjadi penyair, sehingga ia belajar pada pencopet di pasar dan pemungut pajak kasar. Kelesuannya adalah adat yang sopan dan hampir-hampir tak tersentuh dosa.
Cerpen Kala Lail:
https://t.co/2DnVuSu3tX
Tak punya tanaman untuk dirawat apalagi buah untuk dipetik. Sehari-hari hanya bisa duduk melamun menunggu hari berganti.
Aku takut itu menimpaku kelak. Tapi aku yakin, masa tuaku akan baik-baik saja selama aku bisa mengisi waktu dengan menulis
Menulis adalah pekerjaan seumur hidup. Menulis adalah pekerjaan yang paling mudah dilakukan bahkan oleh seorang tua renta.
Saya tahu bagaimana bosan dan menderitanya orang tua yang tinggal di perumahan sempit berpagar besi. Tidak punya halaman bertanah.
yang saya kelola selama ini.
Tapi saya masih penasaran, sebanyak itu apakah masih ada pertanyaan di luar sana yang belum saya jawab. Warga X, coba ajukan pertanyaanmu.
Saya sedang menyelesaikan ebook berisi 100 pertanyaan dalam menulis puisi. Semuanya membicarakan permasalahan yang dihadapai oleh para penulis yang masih berniat atau sedang menulis puisi. Semua pertanyaan saya jawab di ebook itu. Semuanya adalah hasil dari 144 kelas menulis …
Menulis puisi itu semudah memasak. Asal punya bahan dan tahu caranya.
Bedanya, mengerjakan puisi itu di pikiran bukan di dapur.
Jika pikiran tidak rapi, jarang digunakan, dan berantakan, mengerjakan puisi akan sangat melelahkan.
Ada beberapa hal yang merusak industri puisi, salah satunya adalah label bahwa puisi itu ya cinta-cintaan. Curahan hati. Kasmaran. Romansa. Patah hati.
Orang malu baca puisi. Terutama laki-laki. Akibatnya perpuisian tidak berkembang.
Puisi mengajarkan penulis untuk memakai seluruh panca indranya. Itu penting.
Penulis akan terlatih untuk menyampaikan satu halaman opini menjadi satu kalimat saja.
Saya meyakini, untuk menulis tulisan sastra prosa (cerpen, cerbung, novel) atau esai yang memikat sekalipun, penulis perlu belajar menulis puisi.
Puisi mengajarkan penulis untuk ketat pada penggunaan kosakata, baik diksi maupun jumlahnya.
Kenapa penulisan puisi tidak digerakkan sebagaimana cerpen atau prosa lainnya?
Kenapa puisi dianggap “Hanya ditulis dan dibaca oleh mereka yang diilhami,” dan jadi terkesan sakral.
Kenapa puisi tidak dibaca sebagaimana buku-buku lain di waktu senggang?
Sedang mengerjakan 3 ebook yang bisa membantu para penulis (puisi, cerpen, novel, script film dll.) baik yang pemula maupun profesional.
Ebook ini adalah hasil dari kelas menulis yang sudah berlangsung selama 3 tahun yang saya kelola.
Kira-kira pasang harga berapa ya?
aku menemukanmu
di kota yang kukecap
cipratan huruf-hurufnya
setiap hari ini.
kau kutemukan
tak berdiri juga tak bersandar.
satu senyum yang urung
berpijaran itu ternyata
hanya berjarak satu lengan.
namamu sudah lama di lidahku.
terjaga bersama ramai nama
-nama benda dan orang
dari perahu itu
aku (pernah) hampir
melompat
tapi kau menatapku
dengan danau utuh
yang berkedip
aku tak lagi ingin
mendayung
atau menjadi
apa pun selama
waktu yang dibutuhkan
muka air meluruskan
gelombang
aku ingin
menjadi muka
danaumu yang tipis
dan beriak
menjaga utuhmu
cermin tak dapat
menerjemahkan
hal-hal lain
selain sentuhan.
cermin adalah kosong.
segala yang dipantulkannya
adalah fasad-fasad
luar. sedang manusia
menyimpan sebuah kota.
di seberang, ia
masih keras kepala
menjulur akar
di retak trotoar itu.
aku akan terlambat
sampai batas kota.
barangkali akan
ada yang tiba-tiba
minta dihitung kelopaknya.
tapi di kota ini bayangan tak dapat mensiasati hujan. kota ini terlalu teduh untuk bayangan sekedar dikenal sebagai bayangan milik seorang pekerja yang duduk-duduk menunggu hidupnya reda, kata yang lainnya.
dan hujan
dan hujan
dan hujan
sejak kapan
kita menamai
sejuta tetes air
itu dengan
satu kata saja
kupastikan
sejuta tetes air
bulan november
amatlah berbeda.