Tokoh perempuan adat sekaligus pejuang lingkungan asal Merauke, Yasinta Moiwend (Mama Sinta), mendatangi Polda Metro Jaya, Jumat (29/5/2026). Kedatangannya bertujuan untuk melaporkan dugaan kerugian akibat pencatutan wajahnya dalam film berjudul Pesta Babi.
Mama Sinta mengaku kaget, kecewa, hingga sakit hati saat melihat wajahnya muncul tanpa izin dalam film tersebut saat menontonnya pada 8 April lalu.
"Bukan hanya merasa dibohongi saja, tetapi juga sakit hati. Sakit hati betul sampai hari ini. Kecewa, kenapa wajah saya dibawa kemana-mana lewat film itu," ungkapnya dengan nada emosional.
Mama Sinta meminta agar pemutaran film Pesta Babi segera dihentikan total mulai hari ini. Jika ada pihak yang masih nekat memutarnya, ia mendesak aparat penegak hukum untuk segera memproses hukum orang tersebut.
#MamaSinta #PoldaMetroJaya #PestaBabi #SindoNewsTV #SindoNews
Guys, ada pernyataan dari Menkeu Purbaya yang menurut gue adalah salah satu slip of tongue paling mahal yang pernah diucapkan pejabat Indonesia di forum publik dalam waktu lama.
Dan dampaknya langsung terasa Malaysia dan Singapura bereaksi keras dalam hitungan jam.
Apa yang Purbaya katakan:
Di Simposium PT SMI 2026 sambil lalu Purbaya melontarkan ide:
Kapal lewat Selat Malaka nggak kita charge ya.
Sekarang Iran meng-charge kapal lewat Selat Hormuz. Kalau kita bagi tiga Indonesia, Malaysia, Singapura, lumayan kan.
Kalimat itu terdengar santai.
Tapi dampaknya tidak santai sama sekali.
Dalam hitungan jam Menlu Singapura dan Menlu Malaysia sudah keluar dengan pernyataan keras. Purbaya terpaksa meralat sendiri.
Reaksi Singapura langsung dan tegas:
Menlu Singapura Vivian Balakrishnan:
Hak akses transit dijamin untuk semua orang.
Kami tidak akan berpartisipasi dalam upaya apa pun untuk menutup, melarang, atau mengenakan biaya tol di lingkungan kami.
Ini bukan pernyataan diplomatik yang halus.
Ini penolakan keras yang disampaikan secara publik yang artinya Singapura merasa perlu merespons secara resmi karena menganggap pernyataan Purbaya cukup serius untuk diklarifikasi.
Reaksi Malaysia bahkan lebih keras:
Menlu Malaysia Mohamad Hasan:
Tidak ada negara yang dapat secara sepihak menentukan akses ke Selat Malaka.
Apa pun yang akan dilakukan di Selat Malaka harus melibatkan kerja sama keempat negara.
Tidak ada keputusan sepihak.
Malaysia bahkan menyebut empat negara Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Thailand yang punya pemahaman bersama tentang status selat ini.
Dan menegaskan bahwa dasar kesepakatan yang sudah ada tidak bisa diubah secara sepihak oleh siapapun.
Mengapa ini serius secara hukum internasional:
Selat Malaka bukan milik Indonesia saja.
Selat ini diatur oleh hukum laut internasional UNCLOS yang menjamin hak lintas transit bagi semua kapal dari semua negara tanpa diskriminasi dan tanpa pungutan.
Ini bukan aturan yang bisa diubah dengan keputusan satu negara.
Bahkan kalau tiga negara pantai sepakat sekalipun mereka tidak bisa begitu saja memberlakukan tarif karena melanggar prinsip kebebasan navigasi yang dijamin hukum internasional.
Dan lebih dari 90.000 kapal per tahun melintas di sana sekitar seperempat dari seluruh perdagangan global.
Ini bukan jalur domestik.
Ini adalah arteri perdagangan dunia.
Yang paling menggelitik dari seluruh situasi ini:
Purbaya mengucapkan ini di konteks "mode survival" mencari sumber pendapatan baru untuk negara di tengah tekanan fiskal.
Dan idenya adalah meniru Iran yang meng-charge kapal di Hormuz.
Tapi ada perbedaan fundamental yang sepertinya tidak dipertimbangkan sebelum kalimat itu keluar:
Iran mengklaim kedaulatan penuh atas Selat Hormuz. Dan dunia tidak setuju itulah kenapa ada konflik bersenjata yang sedang berlangsung sekarang.
Indonesia tidak bisa dan tidak seharusnya menginspirasi diri dari tindakan Iran yang sedang memicu perang sebagai model kebijakan fiskal.
Dan ini yang paling miris:
Di saat yang sama Purbaya bicara soal mencari pendapatan baru dari Selat Malaka ada fakta-fakta berikut yang terjadi di dalam negeri:
- Triliunan anggaran MBG tidak sampai ke makanan anak-anak.
- Motor listrik Rp1,2 triliun gudangnya masih terkunci.
- BPOM tidak punya anggaran untuk sampling keamanan pangan.
- Portal SPPG tutup tapi dapur terus bertambah tanpa transparansi.
- Manajer Kopdes direkrut 30.000 orang tapi tidak ada yang tahu siapa yang bayar gajinya termasuk Purbaya sendiri.
Sumber kebocoran anggaran yang sudah ada di depan mata tidak ditutup.
Tapi energi dipakai untuk memikirkan tarif di selat internasional yang secara hukum tidak bisa diberlakukan.
Ide mencari pendapatan baru itu sah dan perlu. Indonesia memang butuh sumber fiskal baru.
Tapi ide yang keluar tanpa kajian hukum internasional yang matang di forum publik yang langsung memicu reaksi diplomatik dari dua negara tetangga itu bukan tanda pemerintahan yang beroperasi dengan sistem yang rapi.
Itu tanda bahwa bahkan di level pejabat tertinggi fiskal ada pernyataan yang keluar tanpa melalui proses review yang memadai.
Dan dalam situasi "mode survival" yang Purbaya sendiri deklarasikan kegagapan seperti ini tidak bisa diabaikan.
Selat Malaka tidak bisa ditarifkan secara sepihak. Itu fakta hukum internasional yang tidak bisa diubah dengan keinginan sepihak manapun.
Tapi yang lebih penting dari itu: sumber kebocoran yang sudah ada dan terbukti di depan mata di program-program yang sudah berjalan itu yang seharusnya jadi prioritas untuk ditutup dulu sebelum mencari sumber pendapatan baru yang tidak realistis secara hukum.
Perbaiki yang bocor di dalam rumah sendiri.
Sebelum memikirkan tarif di jalan raya milik dunia.
Bentrok pecah di depan Kampus UMI Makassar, Jumat (24/4/2026) malam!
Aksi peringatan 30 tahun tragedi 'Amarah' berujung ricuh karena mahasiswa memblokir Jalan Urip Sumoharjo sejak sore. Kemacetan parah memicu kemarahan ratusan driver ojol dan warga, yang akhirnya nekat menyerbu untuk membubarkan barikade mahasiswa. Di tengah protes pengendara yang merasa dirugikan, orator mahasiswa sebelumnya sempat bertahan menyuarakan tuntutan: "Kalau bukan kami yang menyuarakan ini, siapa lagi agar Andrie Yunus mendapatkan keadilan?" Situasi akhirnya kembali kondusif setelah pihak kepolisian turun tangan, membubarkan sisa massa, dan membuka akses jalan raya untuk masyarakat.
A thank you, in their own words 🫶
The Artemis II crew wanted to share their thanks to everyone who followed along during their journey, and share a reminder that there’s still more human exploration—and Artemis content—coming.
Signal, WhatsApp, Telegram & iMessage all have serious security problems:
> Signal makes it easy for hackers to steal your account by requiring your number. They had a hack last year.
> WhatsApp let anyone grab 3.5 billion phone numbers in a hack last year.
> Telegram doesn’t encrypt most chats by default — their servers can read them.
> iMessage lets Apple see your messages if they’re backed up to iCloud.
XChat is the only secure encrypted messaging app.
Three years since the first flight of Starship, the next generation is here. New ship. New booster. New engines. New pad and new test site. SpaceX engineers are working to solve one of the most difficult engineering challenges in history: developing a fully, rapidly reusable rocket
Pemerintah RI menyampaikan duka cita mendalam atas gugurnya Praka Rico Pramudia, prajurit Indonesia dalam misi perdamaian UNIFIL, yang mengalami luka berat akibat ledakan artileri dari tank Israel di dekat Kota Adchit Al Qusayr pada 29 Maret 2026.
Sejak insiden tersebut, Kementerian Luar Negeri RI menyebut pemerintah Indonesia melalui koordinasi erat dan intensif dengan pihak UNIFIL, pemerintah Lebanon, serta tim medis di Beirut telah memastikan penanganan medis dilakukan secara cepat dan optimal.
Selain menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya kepada keluarga yang ditinggalkan, pemerintah juga memastikan negara hadir untuk memberikan penghormatan terbaik bagi almarhum atas pengabdian dan pengorbanannya dalam menjaga perdamaian dunia. 24/4/2026
—-
Gak ke luar sekalian dari BoP? Kok betah satu circle sama entitas yang menewaskan prajuritnya ya?
👉 https://t.co/viwraSnmMT
Year 3025.
In the ruins of a lost civilization, they found something strange.
A system that could write reports, generate slides, and think ahead — all in seconds.
“They had this... in 2025?”
It wasn’t just AI.
It was AgnesAI.