Punya keluarga 1 orang kurangajar bgt anjing, daridulu udah dibaekin balesnya selalu njelekin, emang mulut sampah bgst. Kurang baek apa keluarga inti gw ke dia dari dulu? Giliran gw gabisa terusin bantu malah gitu balesannya. Liat bae ntar akhir taun balik abis tu orang.
Miskonsepsi tentang Pu Siṇḍok
Dalam Prasasti Pucangan bahasa Sanskerta Pu Siṇḍok disebut sebagai 'yavapati' (raja Jawa), bukan raja Mataram. Mataram pada periode tersebut hanyalah nama sebuah wanua (desa) di watak (wilayah) Kahulunan yang berada di sekitar Temanggung, Jawa Tengah.
Dalam pemerintahan Mahār��ja Balitung pun Mataram hanya nama sebuah wanua di watak Parhyangan haji, menandakan bekas lokasi kedaton. Ini terkonfirmasi kemudian dalam prasasti² bahwa Mêdang, bhumi Mataram, Mamratipura, Poh Pitu, Nyū Gading, Watu Galuh, dan lainnya hanyalah lokasi kedaton yang berpindah-pindah mengikuti raja yang berkuasa saat itu.
Ketika sang makudur menyeru dalam sumpahnya memohon perlindungan kepada leluhur yang diperdewakan sebagai pelindung kedaton di Mêdang, di bhūmi Mataram, dan di Watugaluh, menunjukkan bahwa itu semua adalah masa lalu yang masih dihormati. Karena itu tidak bisa ditafsir bahwa Mahārāja Siṇḍok adalah penguasa 'Mêdang di bhumi Mataram di Watugaluh.' Saat berkuasa, Mahārāja Siṇḍok beristana di Tamwlang, bukan Watugaluh.
Jadi, Mahārāja Siṇḍok adalah maharaja Jawa, bukan terbatas di Mataram Kuno
Terjemahan stanza V Pucangan Sanskerta:
'Ada seorang raja yang bagaikan permata mahkota, yang mengalahkan banyak gerombolan raja (musuh), terkenal di seluruh tiga dunia, sebanding dengan singa karena kehebatannya yang luar biasa, yang lama menguasai Bumi, dengan berbagai macam kesejahteraan berupa hadiah yang tak terhitung, serta Keberuntungan yang tidak ada habisnya. Dia adalah raja Jawa, yang dikaruniai kemuliaan, ketenaran dan kekuasaan, dialah Śrī Īśānatuṅga.'
@motherlander Inilah yg salah di pendidikan kita. Entitas2 seperti Majapahit, Panjalu, Singhasari, dll. itu masing2 dianggap sebagai negeri yg berbeda. Padahal nama2 tadi hanyalah ibukota. Seharusnya Kerajaan Jawa dianggap 1 kesatuan dengan ibukota yang ber-pindah2.
Ternyata ada berita paleontologi baru dari Indonesia😅
Feliopsis paleojavanica
Kucing pantherine purba bertaring besar dari Trinil, Jawa Timur. Awal ditemuin tahun 1911, sempet dikira harimau sampe di 30 Juni 2026 ada riset yang menunjukkan kalo mereka spesies tersendiri
Orang Jawa dan bagian Kepulauan Nusantara lainnya yang sekarang jadi Indonesia mengambil rujukan sejarah budidaya padi dari Malaka aja dah aneh.
Prasasti-prasasti berbagai kerajaan Hindu-Buddha maupun kitab-kitab kuno mereka dah sering memuat sawah maupun bendungan irigasi kok.
@warrioroflove__@Paramecwara Jelas karena kami punya peradaban dan budaya. Sementara suku monyetlu itu masih perang antar kampung saat kami punya kerajaan agung
Geger! Kiai Jepara Tegaskan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) Haram!
Ahmad Mudhoffar, pengasuh Pondok Pesantren Al-Husna Internasional, Mayong, Jepara, Jawa Tengah, menyatakan secara tegas penolakan terhadap program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Penolakan ini berlaku bagi seluruh keluarga besar Al-Husna, mulai dari jenjang KBIT, TKIT, SDIT, SD Tahfiz, SMPIQ, hingga SMAIQ.
Ia menganggap tindakan menerima program MBG selama beberapa bulan terakhir sebagai sebuah dosa, sehingga pihak pondok pesantren memutuskan untuk bertobat dan menghentikannya.
Berdasarkan kaidah agama, memfasilitasi atau menolong terjadinya perbuatan yang haram/maksiat hukumnya adalah haram.
Penolakan keras ini didasari oleh keyakinan bahwa pengelolaan program MBG dari hulu hingga hilir telah menjadi sarana ajang korupsi besar-besaran, yang menurutnya hal ini sudah nyata terjadi dan bukan sekadar prasangka lagi.
@AloysioWisnu992@philipdj@beurgantao Kalo saya sendiri malah mikirnya Semarang itu akar katanya Sarang ditambah infix -um hehe. Anyway, soal bandek-isasi tadi. Di Pekalongan utara (logat å), toponimi Si- dibaca Se-. Contohnya desa Sijambe bakal dibaca Sejambe, kali Sipait dibaca Sepait
Keberadaan Dihyang atau Dieng sebagai gunung suci tempat pemujaan leluhur telah tercatat dalam prasasti² sejak 808-809 Masehi. Namun, Dihyang sebagai kota para pendeta yang dikelilingi taman bunga dan telaga suci baru tercatat dalam Prasasti Lintakan (12 Juli 919)
@beurgantao Kerajaan Jawa dan Sunda, penduduk etnis Jawa dan Sunda persebarannya tumpang tindih dari Sukabumi hingga Bojonegoro. Toponimi Jawa jg diyemukan di Sukabumi dan Bogor yg notabene-nya tidak tersentuh Demak atau Mataram.
@beurgantao Kalau batas politis menurut saya tetap, karena wilayah2 Jateng seperti Dieng, Pekalongan, Banjarnegara, Batang dll itu memang wilayah politis Jawa sejak awal dan dibuktikan dengan bukti arkeologisnya (tidak ada peninggalan kerajaan Sunda). Namun, saya menduga bahwa sebelum adanya