@TaryokoL Serendah itu memang pejabat negara kita ya? Hanya mampu meladen mahasiswa. Dan anda ini gublok betul. Anda mengharapkan mahasiswa utk mendebat data dengan org yang menyaring data? Anda mengidealkan mahasiswa seperti profesor, tp pejabat tdk goblok sdh cukp.
Pagi hari, 30 April 2026, anak anda (10 tahun) lagi sekolah, jajan depan sekolah tiba-tiba ditabrak mobil. Kerumunan anak-anak dan pedagang jajanan terpental dan terhimpit mobil dan tembok sekolah. Kemudian anak anda meninggal dunia.
Pelakunya adalah Ahmad Mursidi (58), Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kabupaten Pandeglang. Sudah dijadikan tersangka sejak 14 Mei 2026. Dua minggu kemudian, pelakunya, dilantik jadi Staf Ahli Bupati Pandeglang.
Silahkan,
Mungkin anda semua mudah lupa, tapi saya ingatkan lagi: Kerusakan pendidikan yang diakibatkan program merdeka belajar jauh lebih besar dampaknya dari sekedar korupsi Chromebook.
Tapi melalui Korupsi Chromebook, kita mendapatkan panorama bagaimana jaringan ini bekerja, bagaimana yayasan (yang pernah terlarang disebutkan namanya) ini membagi peran dalam platform, kurikulum, dan menjadikan guru sebagai garda terdepan agen siar kebijakan merdeka belajar.
Eksploitasi guru yang dilakukan era Nadiem, diseleksi, dikumpulkan, dilatih di Jakarta untuk membela kebijakan pendidikan yang memenuhi Tiktok dan instagram telah menghancurkan watak guru sehingga profesi guru berada pada titik terendahnya: melanggar etika, menjadikan kelas sebagai ruang konten publik, anak sebagai figura dan meninggalkan tugas utama mereka untuk mengajar.
Kejahatan ini jauh lebih berbahaya, karena mengadu domba guru, membuat kasta baru GKK, dan memisahkan; sehingga guru-guru yang jelas akan kehilangan sertifikasi guru sebab pasal-pasal tunjangan guru hilang, secara paradoks mendukung orang yang akan menghapusnya. Ini adalah bentuk alienasi paling sempurna yang dialami profesi guru.
Aktor-jaringan ini, tidak punya kendala moral untuk kembali menggunakan guru sebagai pion pembela mereka dan mengeksploitasi guru menjadi penambang data anak. Jika anda pikir itu hanya persoalan guru, saya perlu membawa berita buruk: para guru ini adalah guru yang mungkin akan mengajar anak-anak anda semua, yang sampai hari ini anak-anak kita mengalami masalah literasi dan numerasi dasar yang sangat parah dan sulit diobati.
Jika seandainya dosa tersebut bisa dikonversi menjadi pidana, tuntutan jaksa untuk korupsi Chromebook hanyalah bagian kecil dari buku hitam merdeka belajar.
Jika anda berfikir mengungkap kembali kerusakan pendidikan oleh Nadiem Makarim adalah hal yang harus dibedakan dari kasus Korupsi Chromebook, anda salah besar, sebab korupsi Chromebook bagian dari besarnya kerusakan pendidikan era Merdeka Belajar, yang mungkin tidak bisa semuanya diadili dalam peradilan kita.
@GarengSmg Semua guru baik yang fresh graduate/lulus ppg, sudah honorer, honorer puluhan tahun diaduk dalam seleksi PPPK. Selama jadi menteri, tidak pernah dibuka CPNS Guru. Merusak karir guru.
Ingat baik-baik namanya, Nalince Wamang
Pelajar asli Papua, 17 tahun, tewas ditembak oleh tentara saat sedang mendulang emas di wilayah bekas aliran limbah tambang PT. Freeport demi mencari uang untuk kuliah
Dimiskinkan sistem, dibunuh aparat negara
Never forget, never forgive
TERUNGKAP: Agen intelijen Israel, Mossad, menjual rencana kepada Donald Trump untuk menumbangkan Iran seketika—namun rencana itu memiliki satu kelemahan fatal.**
Satu kesalahan kecil tersebut telah menyeret Amerika Serikat ke dalam pusaran perang yang mustahil dimenangkan, sekaligus memicu kepanikan global terhadap lonjakan harga minyak.
Dokumen rahasia yang dijual kepada AS oleh Direktur Mossad, David Barnea, menyajikan argumen jelas yang dapat diringkas dalam narasi empat bagian:
**Satu:**
Jaringan "LSM Iran" palsu di Barat akan menyebarkan narasi bahwa Pemerintah Iran telah membantai 30.000 atau lebih demonstran damai. Cerita ini direkayasa guna membentuk opini publik agar Barat mendukung serangan militer terhadap Iran.
**Dua:**
Amerika Serikat akan berpura-pura menuntut perundingan damai untuk mengalihkan perhatian pihak Iran, sehingga mereka hanya terfokus pada rencana perdamaian tersebut.
**Tiga:**
Di tengah pengalihan perhatian ini, angkatan udara AS dan Israel akan meluncurkan serangan mendadak untuk melenyapkan seluruh jajaran pemerintahan Iran, sehingga terjadi kekosongan kekuasaan secara total—termasuk melenyapkan para negosiator perdamaian mereka.
**Empat:**
Kelompok oposisi radikal di Iran yang telah dibina oleh Mossad, CIA, dan NED, akan mengambil alih kendali negara dan melantik Reza Pahlavi sebagai pemimpin boneka Washington dan Tel Aviv.
**AWALNYA BERHASIL**
Dan tahukah Anda? Setiap bagian dari rencana itu berjalan sempurna, kecuali satu detail utama yang mereka salah perhitungkan. Kesalahan inilah yang meruntuhkan seluruh skenario tersebut.
**1. Demonisasi Iran**
Kisah ini bermula pada Januari. Mossad dan CIA bekerja sama dengan kelompok oposisi radikal untuk menyulut kerusuhan. Kelompok bersenjata menghancurkan ratusan toko, ratusan ambulans dan bus, serta gedung-gedung pemerintah dan bank.
Anehnya, mereka menyerang 350 masjid—hal yang tidak lazim dilakukan oleh perusuh yang mengaku Muslim—namun tidak satu pun sinagoge yang diserang.
Ini adalah pemberontakan besar yang memakan banyak korban jiwa. Namun, peristiwa ini dikemas ulang oleh LSM palsu di Barat sebagai pembantaian puluhan ribu demonstran damai oleh "rezim". Mossad sengaja menciptakan angka kematian palsu yang lebih besar daripada jumlah korban yang dibunuh militer Israel di Gaza.
Bagian ini sukses besar. Media Barat, termasuk majalah *Time*, melaporkan angka kematian tersebut tanpa memverifikasi bahwa pendanaan LSM-LSM ini berasal dari kelompok propaganda politik Barat seperti NED.
**2. Perundingan Damai Palsu**
Bagian kedua juga berjalan mulus. Amerika tidak hanya berhasil mengadakan perundingan, tetapi Iran bahkan memberikan banyak konsesi dan menyetujui hampir semua tuntutan Washington. Sebenarnya, AS bisa saja berhenti di sini dan mendapatkan apa yang mereka inginkan secara damai. Namun, AS dan Israel tetap memilih melanjutkan ke tahap serangan.
**3. Melenyapkan Pemimpin Pemerintahan**
Tahap ini pun berjalan sempurna. Dalam serangan mendadak tanpa provokasi, AS dan Israel membunuh pemimpin tertinggi beserta 40 anggota pemerintahan Iran lainnya. Bayangkan kemarahan dunia jika hal serupa terjadi pada pemerintahan Inggris atau Jerman. Dunia pasti akan mengecamnya selama bertahun-tahun.
**4. Pemimpin Boneka**
Sesuai rencana, tahap terakhir adalah penyerahan kekuasaan kepada sosok "Juan Guaidó" versi Iran yang telah disiapkan. Media Barat mulai menyebarkan video warga Iran yang tampak senang untuk memberi kesan bahwa seluruh rakyat Iran mendukung perubahan ini. Namun, kenyataannya sebagian besar rakyat Iran merasa ngeri dan marah.
**KELEMAHAN FATAL**
Di sinilah letak kesalahan fatalnya. Rencana Mossad gagal memperhitungkan perubahan sikap rakyat Iran setahun terakhir.