@_Sadewa__ Mungkin beliau cuma nggak mau orang salah paham soal kedatangan petugas BPS. Kalau kemudian merasa perlu minta maaf dan menjelaskan, ya wajar saja. Nggak semua klarifikasi berarti sedang membela atau disuruh pihak tertentu.
@HartManu92330@kebolehjadian Sepakat kak. Faktanya desil itu untuk jaga keadilan. Bayangin kalau yang pengeluaran 2,5jt/kapita masih dianggap desil 1, terus yang penghasilan 500rb gimana?
Makanya desil 1-4 wajib dijaga bener-bener untuk yang paling rentan.
@SaputoWijoyo@dearpbs@pikiran_rakyat Terima kasih kak sudah meluruskan dengan bijak ๐
Betul sekali, pemutakhiran Data Tunggal Sosial Ekonomi memang butuh partisipasi aktif dari lingkungan terdekat. RT/RW dan Dinsos adalah pintu pertama untuk usulan agar pendataan BPS selanjutnya lebih akurat.
@Baikl4h@Bicaasaaal@LambeSahamjja Terima kasih kak sudah membantu menjelaskan dengan bijak ๐
Betul penjelasannya desil bukan vonis tetap,melainkan potret kondisi saat pendataan yg bisa berubah. Mekanisme usul/sanggah melalui RT/RW dan kelurahan memang jalurnya agar data di DKS bisa dimutakhirkan secara berkala.
@ImminentAdi@dinda877275@LambeSahamjja Wajar kalau khawatir dan emosi, apalagi yang dipertaruhkan kebutuhan makan sehari2. Kalau ada warga yg kondisi sebenarnya masih kesulitan tapi tercatat di desil tinggi,memang perlu dicek lagi datanya. Sanggah itu penting supaya kondisi di lapangan nggak berhenti di data yg keliru
@NoobieTa_@kompascom Kalau ada desil yang nggak sesuai, kritik boleh banget. Tapi menyimpulkan datanya sengaja dibuat supaya angka kemiskinan turun itu perlu bukti. Desil punya metode dan banyak variabel. Kalau ada ketidaksesuaian, gunakan usul-sanggah supaya datanya dicek dan diperbaiki.
@langitsenayan Wajar stresnya kak, PBI nonaktif emang bikin panik. Kalau desil di DTSEN naik gak sesuai kondisi real, itu bisa di sanggah kok. Lewat jalur yg sudah disediakan atau bisa Langsung ke Kelurahan/operator SIKS-NG bawa KTP KK, bilang mau sanggah desil DTSEN. Nanti diverifikasi ulang.
@devi_pray@LambeSahamjja@prabowo@bang_dasco@habiburokhman Kalau desil nggak sesuai kondisi warga, kritik dan sanggah itu wajar. Tapi jangan langsung disimpulkan disengaja. Desil bukan cuma soal gaji/aset, ada banyak karakteristik sosial-ekonomi yang dihitung. Kalau datanya keliru, ajukan sanggah supaya bisa diverifikasi dan diperbarui.
@TrishStrasser@SosmedAnu Justru petugas BPS dilatih buat cek detail, bukan asumsi sekilas. Air anget karena pipa kejemur itu fenomena umum di siang bolong. Desil 1-10 itu ditentukan dari pendataan ekonomi yang komprehensif, bukan dari 1 kejadian cuci tangan. Jadi gak perlu khawatir.
@Upik23 Logikanya bukan gaji 3 jt pasti lebih sejahtera dari gaji 10 jt. Desil itu pemeringkatan relatif, bukan dari gaji doang. Banyak faktor ikut dihitung kondisi rumah, aset, listrik, sanitasi, pendidikan, pekerjaan, kesehatan, dan kondisi keluarga lainnya
@royyana1304971 Punya rumah/motor nggak otomatis berarti kaya kak. Itu cuma salah satu faktor, bukan penentu tunggal desil. Motor bisa kredit dan memang kebutuhan buat kerja. Kalau desil nggak sesuai kondisi nyata, ajukan sanggah biar datanya dicek lagi.
@3Reflian_fam Kalau kondisi nyatanya seperti itu tapi masuk desil 6, justru layak dicek. Ajukan sanggah dan minta verifikasi data, supaya kondisi sebenarnya bisa diperbarui kalau memang ada ketidaksesuaian.
@xxibgdrgrnx Contoh ini malah menjawab pertanyaannya. Desil bukan ukuran kaya atau miskin, tapi posisi relatif kondisi sosial-ekonomi rumah tangga. Karena indikatornya banyak, gaji saja nggak cukup. Kalau hasilnya terasa nggak sesuai kondisi nyata, cek datanya dan ajukan sanggah.
@dewakasur_ Justru dari contoh itu kelihatan fungsi desil bukan label kaya atau miskin, tapi pemetaan kondisi sosial-ekonomi relatif. Gaji tinggi belum tentu berarti seluruh kondisi rumah tangga tinggi, begitu juga sebaliknya. Kalau hasil desil dirasa keliru, cek datanya dan ajukan sanggah.
@nitrian_ Ikut sedih dengernya,apalagi kalau kondisi ekonomi keluarganya memang masih membutuhkan bantuan. Kalau desil yang tercatat dirasa nggak menggambarkan kondisi sebenarnya. Coba ajukan sanggah dan minta verifikasi data supaya kondisi terbaru keluarganya bisa diperiksa dan diperbarui
@BelumAd03249227@ardisatriawan Mahalnya survei justru alasan kenapa hasilnya harus dikawal dan dikoreksi kalau ada yang nggak sesuai. Tapi jangan pukul rata seluruh kerja BPS sebagai sampah. Ada mekanisme pemutakhiran, ground check, dan usul-sanggah untuk memperbaiki data yang bermasalah.
@frans070707@ardisatriawan Yang merasa dirugikan karena desilnya nggak sesuai kondisi nyata, jangan pasrah. Bisa ajukan sanggah supaya data diverifikasi dan diperbarui. Tapi menyimpulkan welfare sengaja dikurangi demi MBG/Kopdes tetap perlu bukti kebijakan dan anggarannya.
@OtskieLabs@ardisatriawan Kalau semua dijadikan desil 1, malah nggak menggambarkan kondisi nyata dong. Desil itu kan pemeringkatan, bukan tiket bantuan. Yang penting datanya akurat. Kalau merasa desilnya keliru, ajukan sanggah dan minta verifikasi.
@ardisatriawan Karena desil makin banyak dipakai sebagai dasar penargetan, akurasi memang krusial. Tapi tiap program tetap punya syarat masing-masing, bukan otomatis desil berarti pasti dapat/tidak dapat. Kalau kondisi nyata beda dengan data, gunakan jalur sanggah untuk diverifikasi.
@yudskie_ Sehat2 buat semua
Kalau kondisi nyata memang lebih berat daripada desil yang tercatat, itu justru perlu disampaikan lewat jalur sanggah. Data sosial harus terus diperbarui supaya kondisi di lapangan nggak tertinggal dari data.