Seorang ahli saraf ngabisin waktu 20 tahun buat ngebuktiin kalau nulis pakai tangan ternyata bisa ngubah cara kerja otak dengan cara yang nggak bakal bisa ditiru sama ngetik.
Tapi lucunya, hampir nggak ada yang pernah baca hasil penelitiannya.
Ini yang dia temuin:
Gw punya temen yang tipe orang yang kalau kantor lagi ada masalah dia yang pertama dicari.
Bukan karena jabatannya paling tinggi. Bukan karena dia paling vokal di rapat. Tapi karena semua orang tau kalau ada yang stuck, dia yang bisa bantu selesaikan tanpa drama.
Datang tepat waktu.
Kerja selesai sebelum deadline.
Tidak pernah komplen di depan atasan.
Tidak pernah cari perhatian. Kalau ada yang butuh bantuan dia bantu tanpa hitung hitungan.
Tipe yang kalau tidak masuk sehari semua orang ngerasa ada yang kurang.
Dua tahun dia kayak gitu.
Dan dua tahun itu juga dia tidak naik jabatan sekalipun.
Yang naik justru orang yang kalau ada masalah sibuk presentasi soal masalahnya.
Bukan selesaikan masalahnya.
Gw pernah tanya ke temen gw lo tidak capek?
Dia ketawa kecil sambil ngomong Capek.
Tapi gw tidak tau harus ngapain.
Masa gw tiba tiba jadi orang yang banyak ngomong di rapat padahal bukan gw banget.
Dan di situ gw ngerti masalah yang sebenernya.
Bukan soal dia kurang kerja keras. Tapi soal dia tidak paham atau tidak mau paham bahwa di banyak kantor Indonesia kerja keras yang tidak terlihat itu sama dengan tidak kerja keras.
Atasan tidak bisa nilai apa yang tidak mereka lihat.
Dan yang rajin lapor.
Yang rajin kelihatan sibuk.
Yang rajin muncul di depan bos di momen yang tepat mereka yang dapat credit.
Meskipun yang beneran ngerjain adalah orang lain.
Ini realita kantor Indonesia yang jarang dibahas terang terangan.
Kita punya budaya kerja yang masih sangat menghargai penampilan kerja di atas kualitas kerja. Rapat yang panjang dianggap produktif. Orang yang banyak ngomong dianggap punya ide. Orang yang pulang telat dianggap dedikasi meskipun pekerjaannya sudah selesai jam 4 sore.
Dan orang seperti temen gw yang kerja beres tanpa banyak cingcong justru terlihat seperti tidak ada kontribusinya.
Yang paling bikin gw mikir
Kantor itu sebenarnya butuh dia jauh lebih dari dia butuh kantor itu.
Tapi kantor itu tidak pernah menunjukkan itu.
Dan temen gw baru sadar hal itu justru waktu dia resign.
Satu minggu setelah dia pergi tiga orang berbeda yang menggantikan pekerjaannya satu per satu datang ke dia minta tolong jelasin ini itu.
Lewat WhatsApp pribadi.
Di luar jam kerja.
Tanpa bayaran.
Saya harus akui, jantung saya berdetak kencang, ingatan saya kembali menyergap tajam saat melihat berita bencana di Sumatera pekan ini.
Dulu, hampir dua dekade lalu, saya ada di sana. Bukan sebagai pengacara, melainkan penerbang sipil yang dipanggil negara, berdesakan di lambung pesawat tua. Ya, pesawat TNI AU uzur.
Kami terbang gila-gilaan, hampir tidak kenal pagi, siang, atau malam. Seringkali, kami sudah harus take off dari Halim sebelum subuh. Tujuannya: Banda Aceh.
Kami bawa Hercules C-130 yang sudah sepuh itu. Pesawat itu, Bapak-Ibu sekalian, adalah potret jujur bangsa ini: tua, berisik, kurang terawat, tapi untungnya sangat andal dan pekerja keras.
Di dalam perutnya yang gelap, kami duduk di jaring samping. Telinga berdengung raungan Allison T56.
Jika Anda mau tau, bau di dalam kabin itu adalah campuran unik: solar, minyak mesin yang bocor halus, keringat relawan yang tidak mandi tiga hari, dan aroma timpahan mi instan basi.
Intensitasnya? Luar biasa. Bandara Sultan Iskandar Muda (SIM) mendadak menjadi terminal paling sibuk di dunia. Ada Hercules TNI, ada C-17 Amerika, ada Ilyushin dari Rusia, semua berebut slot. Air Traffic Controller (ATC) kita seperti pesulap. Semua ingin cepat, semua jadi pahlawan tanpa berharap bintang.
Ironinya adalah pada sistem logistik kita.
Di satu sisi, kita punya Hercules TNI yang bertempur mati-matian, mengangkut puluhan ton barang. Di sisi lain, muncul pahlawan yang datang dari sektor yang paling tidak kita duga: Maskapai Sipil.
Ya, maskapai-maskapai besar seperti Lion Air dan Batavia Air ikut menyumbangkan free lift dari Jakarta. Mereka menggunakan pesawat komersial, kursi dilepas, diisi karung beras. Mereka bergerak karena kemanusiaan, mendahului banyak surat izin dan nota dinas yang mungkin masih diketik di kantor-kantor pusat.
Dan pahlawan sejati di udara adalah Susi Air. @susipudjiastuti Saat pesawat-pesawat besar TNI dan asing fokus ke Banda Aceh, Meulaboh dan Simeulue masih jadi titik buta. Landasan hancur, Susi dengan dua pesawat kecil Cessna Caravan-nya mengangkut obat-obatan dan susu bayi. Susi dan crew pilot asingnya terbang nekat, masuk ke landasan perintis. Mereka adalah antitesis dari birokrasi yang kaku. Contoh nyata bagaimana rule of law itu sejenak harus tunduk pada rule of need. Kebutuhan lebih dulu, baru administrasi.
Saya ingat, interaksi kami dengan crew Susi itu terasa sangat kontras. Di dekat Hercules yang penuh serdadu, mereka berdiri di samping Caravan kecil, mengenakan kaos, mengangkut sendiri kardus-kardus tanpa forklift mewah. Salah satu pilot asingnya pernah menyindir, "Saya pikir tugas saya hanya lobster, ternyata saya juga delivery harapan kemanusiaan." Tawa kami pecah. Tawa terdengar pahit tapi kejujurannya nyata hanya berharap pahala.
Saat ini, kita kembali menghadapi bencana di Sumatera. Apa yang berubah? Infrastruktur mungkin lebih baik. Teknologi komunikasi pasti lebih canggih. Namun, saya khawatir, jiwa gotong royong yang non-bureaucratic itu justru semakin menipis. yang jelas saya tidak dipanggil lagi menerbangkan pesawat, mungkin pilotnya sudah banyak. Mungkin juga karena memang tak ada landasan yang bisa didaratin fix wing. Mungkin juga kita makin terbiasa menunggu instruksi pusat, menunggu dana cair, menunggu SOP selesai dicetak.
Padahal, semangat yang dibutuhkan saat bencana adalah semangat Susi Air: bergerak cepat, tidak bertanya izin, dan langsung menuju titik yang paling terluka. Semangat yang harusnya diwarisi oleh setiap aparatur sipil dan militer.
Sudah saatnya kita belajar dari Hercules tua dan Cessna kecil.
Aset terbaik bangsa ini bukanlah pesawat baru atau regulasi yang tebal, melainkan keberanian mengambil risiko dan keikhlasan untuk bergerak tanpa menunggu tepuk tangan.
Jika tidak, setiap bencana hanya akan jadi pengulangan tragedi birokrasi yang mematikan.
#ethadisaputra #majalahforumkeadilan #tsunamiaceh #operasikemanusiaan #hercules #susiair #dahlaniskan #hukumdanlogistik #militersipil #bencanaindonesia
Skala bencana dan korban terdampak sebesar itu gak diakui sebagai "Bencana Nasional".
Tapi proyek ecek-ecek untuk memperkaya segelintir orang disebut "Proyek Strategis Nasional".
Rezim para bandit.
@Ary_PrasKe2 Giliran uang masuk aja pake standar konglomerat..
Giliran uang keluar pake standar rakyat melarat..
Tunjangan rumah 50jt/bulan udh ditanggung rakyat..
Masa pake gas melon yg diperuntukkan utk masyarakat miskin..
Nicholas Saputra revealed that he never attended his graduation ceremony after completing his architecture degree at Universitas Indonesia in 2007.
"Males aja. Pertama, panas dan macet."
@northernseaaa Harusnya acara yg kaya gini yg diperbanyak..bukannya acara joget2 ga jelas dan acara gosip rumah tangga artis.. rakyat skr digiring utk ngikutin acara ga jelas, supaya pejabatnya bebas mau ngapain.. rakyatnya diajak ngikutin tren artis supaya ga sempat lg berpikir kritis..
Mengapa banyak yg bilang bahwa suami itu tempat curhat paling aman?
Karena semuanya akan berhenti di dia. Tak akan menyebar.
Kok bisa?
Apa yg mau disebar? Dia nyimak aja kagak.