ᅠ
Ditambah dengan kotak besar di pelukan. Bebanku jadi terasa dua kali. Harusnya kutinggalkan saja kardus ini di ruang kelas agar tak perlu repot-repot dibawa pulang. Namun, nasi sudah jadi rengginang. Alhasil aku tetap menggotong kardus misterius ini sampai ke Dungeon.
ᅠ
ㅤ
“Terima kasih banyak atas kelas pada malam hari ini. Kalau ada pembahasan yang belum paham, kalian bisa menghampiri ruangan saya secara pribadi.” Tubuhnya merunduk. “Belakangan ini, kastel diguyur hujan, saya menyarankan untuk tidak terlalu banyak aktivitas diluar. Hati-hati dijalan dan selamat malam!”
ㅤ
ㅤ
“Materi kita pada malam hari ini sudah selesai. Sesuai dengan janji sebelumnya, saya ingin membagikan materi pembahasan hari ini (https://t.co/tfCCm9CCVQ)—dann ada hadiah untuk kalian.” Perkamen dan beberapa kotak melayang ke tiap meja. “Hadiah ini jangan dibuka sampai terbuka sendirii, lhoo! Disimpan!”
ㅤ
ㅤ
“Murid saya memang semuanya keren! Terima kasih pendapatnya.” Senyuman merekah. “Seluruh pendapat kalian benar. Mewajibkan penggunaan tongkat memang bisa membantu mengembangkan kemampuan sihir. Namun di sisi lain,” sambungnya, “aturan yang terlalu kaku justru bisa menghambat perkembangan kemampuan alami. Kita sudah lihat sendiri, di beberapa wilayah seperti Afrika, sihir tanpa tongkat justru berkembang dengan baik. Tapi, diluar itu semua, pada akhirnya, yang paling menentukan kemampuan tetaplah penyihirnya, bukan alatnya.”
ㅤ
ㅤ
Angguk diberikan, setuju dengan pendapat yang dilayangkan penyihir muda. “Memasuki tahun 1920-an, penggunaan tongkat menjadi hal yang umum di Amerika Utara, meskipun setiap penyihir, termasuk wisatawan, diwajibkan memiliki izin kepemilikan tongkat.”
Wisteria menepuk kedua tangannya guna mendapatkan atensi. “Materi kita selesai! Tapi, masih ada sisa waktu. Mari kita main sebentar.” Maniknya mengedar “Saya akan memberikan satu pernyataan. Teman-teman boleh pilih setuju atau tidak setuju beserta alasannya. Siap?”
ㅤ
ㅤ
“Menurut saya, hal tersebut ada plus minusnya. Penyihir muda tidak sembarangan melakukan praktik sihir di luar jangkauan. Ada kontrol, ada batasan, sehingga penggunaan sihir lebih terarah dan tidak disalahgunakan.
Namun, di sisi lain, pembatasan seperti itu juga bisa membuat penyihir menjadi kurang terbiasa mengontrol sihir mereka secara mandiri di luar lingkungan yang diawasi. Kalau menurut kalian bagaimanaa?”
ㅤ
@ProfsWisteria Menurut saya, hal tersebut bisa membatasi inovasi. Banyak penemuan sihir hebat justru lahir dari eksperimen yang mungkin dianggap berbahaya atau di luar kurikulum. (4020)
ㅤ
Ibu jarinya terangkat puas. “Benar, @wrecksaint. Ilvermorny.” Nada suaranya mengandung sedikit apresiasi. “Namun, penggunaan tongkat di Amerika Utara sempat diatur dengan cukup ketat melalui sesuatu yang disebut Hukum Rappaport.”
“Anak-anak disana tidak diperbolehkan memiliki tongkat sebelum masuk sekolah, dan harus meninggalkannya di sana saat liburan hingga mencapai usia tujuh belas tahun.”
ㅤ
ㅤ
Wisteria berdiri kembali di depan kelas. “Di Amerika Utara, pembuat tongkat pertama yang tercatat adalah seorang penyihir asal Irlandia bernama Isolt Sayre,” jelasnya. “Menariknya, ia tidak memulai sebagai pembuat tongkat dalam arti komersial seperti yang kita kenal sekarang.”
ㅤ
ㅤ
“Bayangkan, kalian memiliki kekuatan yang besar, tetapi sulit dikendalikan. Tongkat hadir sebagai ‘perantara’ yang membantu agar sihir itu lebih terarah dan stabil, terutama untuk mantra yang kompleks.”
Ia berhenti di dekat salah satu meja, lalu menatap ke seluruh kelas. “Namun, tidak semua wilayah memiliki kebiasaan yang sama,” lanjutnya. “Di beberapa bagian dunia, seperti Afrika, sihir tanpa tongkat justru lebih umum. Artinya, penggunaan tongkat ini juga dipengaruhi oleh budaya dan kebiasaan, bukan semata-mata kebutuhan mutlak.”
ㅤ
ㅤ
“Terima kasih banyak. Saya senang mendapat pendapat yang beragam!” Ia menuju bangku milik @SlIaughter.
“Pada masa sebelum Masehi, di Eropa, para penyihir mulai mengembangkan tongkat sebagai alat untuk menyalurkan sihir. Bukan karena mereka tidak bisa menggunakan sihir tanpa tongkat, tetapi karena mereka membutuhkan sesuatu yang bisa membantu memfokuskan energi sihir mereka.”
ㅤ
ㅤ
Tongkat magisnya bergerak mendatangkan beberapa makanan ringan ke atas meja masing-masing murid. “Boleh dinikmati sembari membahas materi. Tenang, tenang, tidak berat, kok. Semoga saja… kadang saya suka keterusan kalau sudah mendongeng,” kekehnya.
ㅤ