~ Karena Aku Orang Indonesia ~
Darah Ku Merah,
Tulang Ku Putih
Semangatku Indonesia Maju
Tanpa PKI
~~~~~~~
INDONESIA Adil & MAKMUR
ٱللَّٰهُ أَكْبَرُ
🇲🇨
Operasi sudah berjalan lancar, mohon doa kawan² agar aku segera pulih sehingga bisa bertarung lagi untuk memperjuangkan kaum tertindas. Namun jika kondisi ku terus memburuk maka aku titipkan perjuangan ini pada kalian agar totalitas memperjuangkan rakyat di negeri ini. 🙏
"Di Forum Kandidat Walikota 2005, Jokowi jelas tidak pakai kacamata.
#JokowiGibranIjazahnyaPalsu
Kami buruh ada yang lulusan SMPP tahun ajaran 1980/1981, ijazahnya ditahan oleh SMPP Surakarta. Waktu itu namanya masih SMPP, bukan SMA 6. Itu kaitannya dengan ijazah Jokowi"
N
Akhirnya harus istirahat sejenak, mohon doa teman² agar operasi besok berjalan lancar, jika terjadi apa² padaku maka kalain harus melanjutkan perjuangan untuk membela rakyat kecil.
- Hasta La Victoria Siempre -
Jokowi bukan negarawan ketika bertahun-tahun memilih tidak menunjukkan ijazah aslinya.
Menyebabkan banyak kasus pidana, perdata, administrasi bermunculan. Rakyat bukan hanya ditersangkakan, bahkan dipenjarakan.
Arsul Sani, tanpa rumit dan berbelit, menunjukkan ijazah aslinya; kenapa bagi Jokowi menjadi sulit? Ada apa?
Klik dan tonton lengkap videonya, saya paparkan argumentasinya.
Salam Integritas,
Denny Indrayana
Sidang Jokowi VS RoySuryo cs adlh pertarungan 2 narasi. Kalau ijazah Jokowi terbukti sah&asli, berarti RoySuryo cs lakukan fitnah yg keji thdp Pres Jokowi. Kalau ijazah terbukti tidak sah/palsu, berarti Jokowi lakukan penipuan thpd negara, pelecehan thdp pemilu, dan pelanggaran hukum. Antara kedua versi ini, hanya 1 yg benar, tidak bisa dua duanya benar. Demi sejarah, agar anak2 kita tidak bingung kelak, perlu kepastian absolut siapa yg benar, siapa yg berbohong.
Sesudah menghilangkan kesal pada Fedi, dan sesudah melakukan refleksi lebih mendalam pada film Pangku, inilah ulasannya. Perlu beberapa kali menulis ulang agar tertuang semua yang dirasakan saat menonton.
Ada film yang selesai kita tonton, lalu kita pulang dan hidup seperti biasa. Ada juga film yang membuat kita pulang dengan cara pandang yang berubah. Pangku berada di kelompok kedua.
Dalam debut penyutradaraannya ini, Reza Rahadian memilih menaruh kamera sebagai saksi yang tenang. Di sudut-sudut Pantura, di antara perempuan yang memikul beban rumah tangga sendirian, di warung-warung kecil yang menjadi ruang bekerja sekaligus ruang tawar-menawar martabat.
Di sana kita bertemu Sartika, seorang ibu yang harus menghidupi diri dan anaknya di tengah krisis ekonomi, tanpa pegangan selain tekad untuk bertahan. Kita melihat dilemanya sebagai ibu tunggal dengan perasaan sepi dan kegelisahan akan dokumen yang tak lengkap. Di titik itu film ini mengingatkan kita bahwa keleluasaan memilih adalah sesuatu yang ikut direnggut oleh kemiskinan.
Reza tidak menampilkan fenomena “kopi pangku” dalam film ini sebagai sensasi, melainkan sebagai gejala dari struktur yang timpang. Perempuan dijerumuskan ke dalam keterpaksaan yang berisiko, sementara laki-laki kerap digambarkan punya kelapangan yang lebih besar untuk datang dan pergi. Walau demikian, film ini tidak menghakimi para tokohnya, tapi memperlihatkan bagaimana lingkungan dan ekonomi bisa menyudutkan seseorang ke pojok yang sempit.
Di balik semua itu, terlihat betapa serius Reza menggarap karyanya. Christine Hakim mengatakan bahwa momen nafasnya pun diatur oleh Reza. Ia juga ingat terakhir kali ia disutradarai sedemikian ketatnya adalah oleh almarhum Teguh Karya. Ia benar. Ada ketelitian dan obsesi pada kesempurnaan dalam pembuatan film ini yang mengingatkan pada tradisi Teguh Karya.
Perhatian pada detail membuat dunia Pantura dalam film ini terasa dekat. Kulit yang tampak lengket oleh keringat, pakaian yang terlihat benar-benar usang, hingga ornamen kecil di warung dan rumah. Semuanya membuat kita merasakan gerahnya udara pesisir dan lelah yang menempel di tubuh para tokohnya. Tidak ada glamor yang dipaksakan, yang ada adalah keotentikan yang sering menyesakkan.
Secara alur, Pangku bergerak pelan. Dialognya irit, tapi justru karena jarang, tiap kalimat jadi terasa penting. Seperti pemahat yang mengikis batu karena yakin bentuk patungnya sudah ada di dalam sana, Reza dan tim menyingkirkan kata-kata yang tidak perlu. Sisanya diserahkan pada tatapan, gestur, dan keheningan.
Di sisi peran, Claresta Taufan memberi tubuh dan jiwa pada sosok Sartika. Rapuh dan lelah, tapi enggan menyerah. Christine Hakim adalah Christine Hakim, seorang maestro. Ia memberikan lapisan emosi yang halus pada tokoh Bu Maya. Hangat dan manipulatif dalam satu tarikan nafas. Sementara Shakeel Fauzi sebagai Bayu menjadi pintu empati penonton terhadap anak-anak yang tumbuh dalam keluarga yang “tidak lengkap” di mata masyarakat. Fedi Nuril kembali menambah lapisan dilema moral dalam cerita.
Bagi saya, film tidak punya kewajiban untuk mendidik. Tugas utamanya adalah membangkitkan emosi yang membekas, entah itu tawa, takut, haru, atau geram. Tetapi ketika emosi itu membuat kita merenungkan cara kita memperlakukan ibu-ibu tunggal yang dipinggirkan, anak-anak dengan hak-hak yang diremehkan, dan mereka yang terpinggirkan tanpa dukungan, di situlah film ini berperan lebih jauh sebagai medium pengingat dan pembuka kesadaran.
Pangku tidak memberi kita daftar pesan moral, tapi memberi kita pengalaman. Dari pengalaman itulah, pelan-pelan, kesadaran sosial ikut terbangun. Maka untuk itu, kita berterima kasih kepada Reza, seluruh aktor dan awak yang telah menghadirkan film ini bagi bangsa. Maju terus perfilman Indonesia!
https://t.co/L5xAE4jGEO
SIARAN PERS dr. TIFA
Bismillahirrahmanirrahiim.
Dengan nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
1.
Bagi saya, ditahan atau diperbolehkan pulang bukanlah inti dari perjuangan ini. Sejak awal, saya telah meneguhkan hati bahwa perjuangan menegakkan kebenaran berbasis keilmuan jauh lebih besar daripada kenyamanan pribadi. Proses hari ini adalah bagian dari perjalanan panjang mencari kebenaran, bukan akhir dari langkah saya.
2.
Saya menyampaikan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada seluruh rakyat Indonesia yang telah memberikan perhatian, dukungan, dan doa tanpa henti. Kepedulian kalian semua memberikan pengaruh yang sangat signifikan terhadap keputusan hari ini. Teristimewa, saya berterima kasih kepada tim penasehat hukum saya, yang dengan kesabaran, ketegasan, dan profesionalisme mendampingi saya selama pemeriksaan yang berlangsung lebih dari 9 jam.
3.
Saya mengucapkan terima kasih kepada Polda Metro Jaya, khususnya para penyidik yang memperlakukan saya dengan baik dan penuh hormat. Saya diberikan hak-hak saya sebagaimana mestinya, bahkan ada hal-hal baik yang diberikan melebihi apa yang menjadi hak saya. Mereka menjalankan tugasnya secara profesional, dan saya pun menjalankan tugas saya—yakni mempertahankan setiap langkah, penelitian, dan sikap saya—dengan profesionalisme yang sama.
4.
Saya berharap keputusan malam ini dapat menjadi langkah awal yang baik bagi upaya reformasi kepolisian, agar institusi hukum semakin kokoh dalam keadilan, transparansi, dan integritas. Semoga proses hari ini menjadi pintu menuju perubahan yang dirasakan seluruh rakyat.
5.
Akhirnya, kepada Allah saya berserah diri sepenuhnya.
Lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh. Ḥasbunallāhu wa ni‘mal wakīl, ni‘mal mawlā wa ni‘man naṣīr.
Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan-Nya. Cukuplah Allah sebagai Pelindung, sebaik-baik Penjaga, sebaik-baik Penolong.
Jakarta, 13 November 2025
Salam Takzim
dr.Tifauzia Tyassuma, https://t.co/IDuIvQSub4.