Cloud and Telco tech | Currently on Openstack and Openshift platform | Arek Malang,#ForzaMilan, #ynwa | Book reader, History enthusiast and Runner | 🇮🇩 @ 🇲🇾
Nilai TKA SMA yang anjlok bukan karena anak kurang pintar, tapi karena kita "telat" menyadari satu hal.
Banyak orang tua dan siswa baru panik saat masuk SMA melihat nilai Matematika terjun bebas. Padahal, masalahnya bukan di materi SMA-nya, tapi di fondasi SD dan SMP yang rapuh (learning loss akibat Pandemi Covid 19 bisa jadi salah satu penyebabnya).
Ibarat membangun gedung pencakar langit di atas tanah berpasir, sekuat apa pun material atasnya, dia akan rubuh.
Hasil TKA Matematika 2025 adalah alarm bagi kita semua.
Matematika bukan tentang menghafal rumus cepat, tapi tentang melatih logika.
Mari kita benahi akarnya sejak dini. Jangan tunggu sampai "ledakan masalah" terjadi di kelas 12.
Perbaikan perlu dilakukan bersama; guru, sekolah, orang tua, dan pembuat kebijakan.
#MathGyver
Koperasi Desa untuk Siapa?
Pemerintah melibatkan tentara dalam pembangunan Koperasi Desa Merah Putih. Pemerintah desa mengeluhkan keterlibatan militer dalam program andalan Prabowo Subianto itu.
Simak bocoran selengkapnya di YouTube Tempodotco dan Spotify Bocor Alus Politik. Tayang premiere hari Sabtu, 14 Februari 2026 pukul 11.00 WIB.
Ternyata kabar mengenai penonaktifan BPJS itu benar2 terjadi. Salut buat pemkot Denpasar yang berani berterus terang mengenai asal muasal instruksi penonaktifan adalah dari Presiden. Dan pemkot akhirnya mengambil solusi dengan membayarnya dengan APBD.
Ini menarik sih, karena sesuai dengan penelitian terbaru tentang belajar, menulis, dan penggunaan layar atau tablet.
Izin saya jelaskan 🙏
Penelitian yang saya baca ini ngerangkum 24 studi yang bandingin handwritten notes vs typed notes.
Hasilnya? Orang yang nulis catatan pakai tangan saat mendengar kuliah/pelajaran ternyata dapet nilai yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang nyatet dengan mengetik di laptop.
Kenapa? Karena waktu kita nulis tangan, otak dipaksa meringkas, memahami, dan memproses ulang informasi, bukan cuma ngetik cepat tanpa mikir. Effort-nya lebih besar, tapi dampaknya juga lebih kuat.
Selain itu yang gak kalah menarik adalah penelitian ini bilang peluang lulus mata kuliah bisa 58% lebih tinggi kalau kita nyatet pakai tangan.
Yang perlu diingat di sini adalah bukan berarti laptop itu jelek. Laptop unggul kalau butuh catatan super lengkap dan cepat, atau punya kondisi tertentu yang bikin kita harus mengetik.
Tapi kalau tujuannya belajar biar ngerti beneran, saya sendiri kalau belajar menggunakan kombinasi tulisan tangan dan mengetik di laptop
Ada apa ini postingan Aliansi BEM Seluruh Indonesia logo Tut Wuri Handayani dengan warna latar belakang hitam?
🚨 Peringatan Darurat 🚨
#GelapGulitaPendidikanIndonesia
Boiling liat ini. Negara deliberately bikin sekolah garuda dgn guru yg dikasi fasilitas mewah, sementara disaat yg sama sistem pendidikan kita secara keseluruhan ditopang guru2 yg digaji murah, pas2an, seringkali harus cari tambahan lewat informal economy, bahkan terlilit pinjol.
Harusnya bikin video gini sekalian hostnya ngomong tanggal berapa. Karena kemaren gw ngepost video, dibilang sama buzzer, repost konten lama.
Akhirnya gw kasi rekaman pas IG Live bareng anak-anak @jogokariyan yang lagi ada disana. Baru diem.
Bayes’ theorem is probably the single most important thing any rational person can learn.
So many of our debates and disagreements that we shout about are because we don’t understand Bayes’ theorem or how human rationality often works.
Bayes’ theorem is named after the 18th-century Thomas Bayes, and essentially it’s a formula that asks: when you are presented with all of the evidence for something, how much should you believe it?
Bayes’ theorem teaches us that our beliefs are not fixed; they are probabilities. Our beliefs change as we weigh new evidence against our assumptions, or our priors. In other words, we all carry certain ideas about how the world works, and new evidence can challenge them.
For example, somebody might believe that smoking is safe, that stress causes mouth ulcers, or that human activity is unrelated to climate change. These are their priors, their starting points. They can be formed by our culture, our biases, or even incomplete information.
Now imagine a new study comes along that challenges one of your priors. A single study might not carry enough weight to overturn your existing beliefs. But as studies accumulate, eventually the scales may tip. At some point, your prior will become less and less plausible.
Bayes’ theorem argues that being rational is not about black and white. It’s not even about true or false. It’s about what is most reasonable based on the best available evidence. But for this to work, we need to be presented with as much high-quality data as possible. Without evidence—without belief-forming data—we are left only with our priors and biases. And those aren’t all that rational.
@kompascom Dengan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim, saya akan melanjutkan gugatan perkara ini apapun hasilnya
Mohon dukungan & doa dari semuanya, demi Pendidikan kita. Panjang umur Pekerja Pendidikan 🙏
Jensen Huang said if he were a student today, he wouldn’t prioritize coding. He’d prioritize learning how to talk to AI.
Most people treat AI like Google. Type a question, get an answer, move on. Huang sees it differently. He calls it “expertise in artistry,” which sounds dramatic but makes sense when you think about it.
The real skill isn’t using AI. It’s knowing what to ask for and how to refine it. “Learning to interact with AI is not unlike being really good at asking questions.”
If you’re a doctor, can you use AI to catch diagnoses you’d miss? If you’re a lawyer, can you sharpen arguments faster than your competition? The leverage comes from pairing what you know with how well you can direct the tool.
Domain expertise multiplied by AI fluency equals amplification. Without the expertise, the AI is just noise. Without fluency, you’re leaving most of the capability on the table.
The question isn’t whether AI will replace you. It’s whether someone who knows how to use it better will.
Cerdas mbaknya 👍
Untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat, negara harus lebih serius membangun otak rakyatnya, jangan hanya membangun atap rumahnya.
Untuk mahasiswa ekonomi, ekonom, pembuat kebijakan dan mereka yang tertarik ekonomi Indonesia
Berikut adalah buku terbaru tentang Indonesia yang diterbitkan oleh ADB.
Reza Anglingkusumo dan saya menulis satu bab mengenai kebijakan makroekonomi dan industrialisasi Indonesia.
Kami mengulas evolusi ekonomi Indonesia selama dua dekade terakhir, dengan fokus pada produktivitas, daya saing, serta peran tabungan dan alokasi investasi dalam pengembangan industri. Bab ini juga mengidentifikasi prioritas reformasi sisi penawaran, dengan penekanan pada perlunya strategi yang didorong oleh investasi dan berorientasi ekspor untuk mendukung diversifikasi menuju manufaktur dan jasa bernilai tambah tinggi.
Buku ini tersedia secara akses terbuka; tautannya tertera di bawah ini.
Please find a newly published book on Indonesia published by the Asian Development Bank (ADB).
Reza Anglingkusumo and I contributed a chapter on Indonesia’s macroeconomic policy and industrialization.
The chapter explores Indonesia’s economic evolution over the past two decades, focusing on productivity, competitiveness, and the role of savings and investment allocation in industrial development. It identifies priorities for supply-side reforms, emphasizing the need for an investment-driven, export-oriented strategy to support diversification into higher-value manufacturing and services.
The book is open access; the link is below
https://t.co/OZZlL1SSO0