( ˙⋆ ʚїɞ ⋆˙ ) / Makasih banyak penulis dan Gale-han... dan tolong maklumi kecerobohan penulisnya yang sampe bikin GB akun sendiri... Makanya pending masuk follow-nya, soalnya habis reply 1 buat tag all. 😭
ㅤ
( ˙⋆ ʚїɞ ⋆˙ ) / Hai, hai, HALOOO❗Dengan pengirim menfess dimari! Terima kasih sebelumnya sudah bersedia untuk me-retweet ini. Bisa minta tolong untuk diikuti kembali? Jangan sungkan untuk main sama Shua, ya~ Dia gak gigit kok, paling suka rusuh aja. (ㅅ´ ˘ `)
ㅤ
ㅤ
“Hee, ciuman di bawah pendar bulan, ya… romantis juga,” gumam Shua khusyuk, menatap panel manga di tangannya dengan binar takjub.
Saking fokusnya, ia sama sekali tak menyadari keberadaan seorang pria yang duduk di sebelahnya—bahkan lanjut 𝘴𝘤𝘳𝘰𝘭𝘭𝘪𝘯𝘨 tanpa dosa.
ㅤ
ㅤ
𝘽𝙐𝙆!
Gara-gara jalan sambil melamun, Shua sukses menabrak dada seorang pria asing sampai oleng. Sontak, ia meraih kedua bahu pria itu dan mengguncangnya pelan dalam kepanikan.
“𝘜𝘸𝘢𝘸𝘢—maaf, maaf banget! Gak sengaja! (っ- ‸ - ς)” serunya, lalu memegangi kepalanya.
ㅤ
ㅤ
Di sela hiruk-pikuk alat laboratorium milik kakaknya, Shua memutar-mutar baut kecil di jarinya sembari bergumam pelan, “Kalo dipikir-pikir... kok bisa ya, hidupku penuh keajaiban tapi absurd?”
Ia terkekeh kecil, sebelum menoleh ke arah pria yang baru saja masuk ke lab-nya.
ㅤ
ㅤ
Angin taman di awal musim gugur ini berembus lembut, menerpa surai coklat Shua yang tengah duduk sendirian sembari termenung di bangku kayu. Terasa sejuk, namun kenangan akan senyum kakaknya yang tiba-tiba membangkitkan kehangatan yang akrab di dadanya. Ah, masa-masa itu...
ㅤ
ㅤ
“𝘕𝘦𝘦, nona muda. Anda ada rencana apa untuk akhir pekan yang diperkirakan akan cerah ini? Aku sepertinya sudah kehabisan ide ingin pergi ke mana...” tanyanya mendadak pada sang puan bertopi, saat mereka berada di cafe terdekat.
ㅤ