Hewan-hewan di dalam hutan tidak ikut pemilu, tidak ikut kampanye, tidak ikut berdebat di sosial media, tapi rumah mereka ikut terbakar saat negara tidak diurus dengan benar.
Beberapa hal dalam hidup membuatmu harus mengalah. Bukan karena kau takut, bukan karena kalah. Kau hanya sadar diri saja. Belum saatnya untuk keras kepala, kau butuh waktu yang cukup. Kau merawat dengan sabar dirimu.
Tidak merayakan, bukan berarti tidak menghargai jasa pahlawan. Menurut saya, di antara duka yang menimpa saudara kita, penanggulangan bencana yg seolah tak jadi prioritas, reaksi terhadap kritik yg represif, dan kebijakan yg tidak bijak, kata “merdeka” menjadi hal yg menyakitkan
Pengibaran foto presiden di HUT RI ini gak relevan dengan perayaan.
Ini bukan ultah presiden.
Ini bukan ultah presiden.
Praktik2 pengkultusan pemimpin gini umum di negara otoriter.
Emangnya sekarang kita udah masuk era Era otoritarian?
Dunia tidak bekerja sesuai keinginanmu saja. Kuat-kuatkan dirimu. Tidak semua pendapatmu penting bagi yang lain. Tidak semua harapanmu akan sesuai kenyataan. Hiduplah dalam kecewa seumur hidup jika kau tak kuat.
Di sosmed lagi rame soal debat bare minimal effort, standar sosmed dll.
Sementara di luar sana, temenmu yang ga terlalu aktif sosmed lagi pacaran makan mie ayam ceker berdua dan bahagia-bahagia aja.
Sungguh nirempati ucapan orang yang ketika ada yang mengalami musibah, lalu dia bilang musibah itu terjadi karena dosa. Itu hanya ucapan orang yang sadar atau enggak, merasa dirinya Tuhan.
Susanah (38 tahun) asal Cileungsi, Bogor adalah buruh jahit kain perca dengan upah 700 rupiah/kg. Sehari rata-rata menjahit 20 kg kain alias menerima upah 14.000 rupiah.
Beliau bukan pengupas bawang dengan upah 700 ribu/kg. Semoga ekonomi keluarganya terus membaik.
Upah kupas bawang 700 ribu per kg.
Sawah per hektar bisa panen 40 ton.
Usaha penggilingan padi untung 2 triliun.
Angka-angka ini dari mulut Ketua Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) periode 2004-2015.
Contoh jenderal ngurus pertanian.
Mentan sudah nyebokin presidennya?