"Saya kejar dunia makanya dia lari. Demi Allah, saya fokus ke shalat tepat waktu, shubuh diperbaiki, tahajjud dipertebal, shalat disiplinkan, dan akhirnya saya dikejar sama dunia, sama kerjaan dan sebagainya."
Raim Laode
Membaralah selagi muda sebab saat tua datang mungkin kau sibuk menghitung tagihan yang segera tiba. Membaralah selagi masih sendiri sebab setelah bersama hidup tidak lagi sepenuhnya milik dirimu.
أحياناً بعض الكلمات يكون ثـمنها عمر كامل من الألم لغيرك، فانطق جمالاً أو تجمل بالسكوت
Terkadang sebagian kalimat dapat menyebabkan seseorang menderita seumur hidupnya, maka bicaralah dengan baik atau tetaplah diam.”
Hal yg paling menguras energi seseorang adlh terus-menerus menjelaskan diri kpd orang2 yg sejak awal tdk ingin memahami mereka. Kedewasaan sejati dimulai ktika kau tahu kapan harus diam, kapan harus menarik diri, & kapan harus memprioritaskan kedamaian batinmu di atas segalanya.
"Untuk kesehatan yang baik, kendalikan makananmu. Untuk jiwa yang baik, kendalikan dosa-dosamu, dan untuk keimanan yang baik, kirimkan shalawat kepada Nabi Muhammad SAW."
Imam al-Ghazali
"Dekatilah manusia sebagaimana engkau mendekati api. Jangan terlalu dekat (hingga membakarmu), dan jangan pula terlalu jauh (hingga engkau kehilangan kehangatannya)."
Enzurumlu Ibrahim Hakki Hz.
"Berusahalah semampumu untuk tidak menghancurkan hati seseorang. Karena satu desah napas kesedihan (doa orang yang terzalimi) mampu menjungkirbalikkan dunia."
Saadi Shirazi
Ya Al-Jabbar, di Muharram ini, aku tidak meminta hidup tanpa ujian. Aku hanya memohon agar Engkau meringankan apa yang selama ini terasa berat, menjaga hatiku, dan memberiku ketenangan yang tidak bergantung pada siapa pun selain Engkau.
Biarkan aku berhenti mengejar jawaban yang tidak lagi ditulis untuk masa depanku. Jadikan yang sulit menjadi mudah, yang hilang diganti dengan yang lebih baik, dan kesedihan yang panjang berakhir dengan kebahagiaan yang Engkau berkahi. Aamiin. 🤲
Alkisah, seorang lelaki tengah menempuh sebuah perjalanan bersama istri dan anak-anaknya.
Di tengah perjalanan, mereka bertemu sosok yang memperkenalkan diri sebagai harta. Setelah berdiskusi, keluarga itu sepakat mengajaknya ikut serta, dengan harapan harta dapat memudahkan kehidupan mereka. Perjalanan pun berlanjut, hingga mereka bertemu kekuasaan dan jabatan. Tanpa ragu, keduanya juga diajak bergabung, dengan keyakinan bahwa bersama mereka, segala keinginan akan lebih mudah terwujud.
Waktu terus berjalan, hingga mereka bertemu berbagai kesenangan dunia lainnya. Semuanya diterima tanpa banyak pertimbangan, seolah setiap yang menyenangkan layak untuk dibawa dalam perjalanan itu.
Namun ketika agama datang, sikap mereka berubah. “Belum waktunya,” kata mereka serempak, “kami masih ingin menikmati dunia. Agama akan membatasi kami.” Maka agama pun ditinggalkan, dengan janji akan kembali suatu saat nanti.
Hingga akhirnya, di ujung perjalanan, mereka tiba di sebuah pos pemeriksaan bertuliskan “Berhenti”. Lelaki itu diminta turun dari kendaraannya. Di sana, kematian menyambutnya dan bertanya apakah ia membawa agama bersamanya. Dengan panik, ia mengakui bahwa agama telah lama ia tinggalkan, lalu memohon agar diberi kesempatan untuk kembali mengambilnya. Namun, kematian pun menjawab dengan tegas, “Perjalananmu telah berakhir. Tidak ada jalan untuk kembali.”
Saat itu ia tersadar, jika harta, kekuasaan, dan jabatan yang selama ini ia bawa tidak mampu menolongnya sedikit pun di akhirat. Semuanya akan ia tinggalkan, sebagaimana dahulu ia meninggalkan agamanya.
Perjalanan lelaki itu pun berakhir, sementara kendaraan yang membawa istri, anak-anak, harta, dan segala kenikmatan dunia tetap melaju tanpa dirinya.
Sesungguhnya, Allah Swt telah mengingatkan hal ini dalam firman-Nya:
“Setiap jiwa pasti akan merasakan kematian. Sesungguhnya, pada hari kiamatlah disempurnakan pahala kalian. Barang siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh ia telah beruntung. Dan, kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Ali Imran [3]: 185).