Fakta Historis!
MBG, babak belur;
KDMP, awut-awutan;
Selalu nyinyir ke rakyat;
Mengusir rakyat;
Menuduh londo ireng;
Politik koncoisme;
Enggan mendengar;
Ndableg;
Tantruman;
Anti kritik.
Lantas, atas dasar alasan apa
sehingga rakyat yakin kembali
untuk memilih Prabowo pada
Pilpres 2029?
𝗦𝗘𝗕𝗔𝗕 𝗛𝗔𝗥𝗜 𝗜𝗡𝗜 ↓
Demo di mana2
Tp hampir tidak pernah muncul di media massa.
Ribuan mass mengatasnamakan warga Kab Intan Jaya menggelar aksi unjuk rasa di Nabire, Papua Tengah, pd Rabu lalu.
Aksi diinisiasi Gerakan Pelajar Mahasiswa Intan Jaya u/ menolak keberadaan aparat TNI/Polri di wilayah Intan Jaya.
Demonstrasi tersebut, massa membawa tema "Militer (TNI/Polri) Mesin Pemb*nuh Rakyat Intan Jaya" serta mendesak pemerintah menarik personel TNI/Polri dr wilayah tsb.
Ada apa sebenernya ini?
Seharusnya kan TNI Polri hadir u/ masyarakat.
Tp kok malah ditolak? Apa yg salah? 🤔
Kesadaran Mahasiswa trisakti terus tumbuh mereka buat demo besar di depan DPR.
Apakah 98 akan terulang jika KKN yg terang terangan dan ekonomi terus memburuk dibiarkan bahkan nilai tukar rupiah makin terpuruk terhadap dolar💲?
Febrie Adriansyah diduga menyembunyikan transaksi lewat orang kepercayaan. Ditemukan 20 perusahaan terafiliasi dengan Don Ritto.
#TempoPlus
https://t.co/S1z3h4gecw
Pengorbanan Guru Honorer di NTT: Honor Rp223 Ribu di Tengah Tingginya Anggaran MBG
Wajah Agusthinus Nitbani kini dipenuhi kerutan. Rambutnya mulai memutih setelah lebih dari dua dekade mengabdikan hidup sebagai guru honorer di SD Negeri Batu Lesa, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur. Setiap pagi ia menempuh perjalanan menuju sekolah dengan sepeda motor tua yang sudah termakan usia. Kendaraan sederhana itu menjadi saksi perjalanan panjang seorang guru yang tak pernah lelah mendidik anak-anak, meski honor yang diterimanya hanya sekitar Rp223 ribu per bulan.
Selama 23 tahun mengajar, Agusthinus dikenal sebagai sosok guru yang disiplin dan penuh dedikasi. Di ruang kelas yang sederhana, ia tak hanya mengajarkan membaca, menulis, dan berhitung, tetapi juga menanamkan nilai-nilai tanggung jawab dan karakter kepada murid-muridnya. Keterbatasan ekonomi tak pernah mengurangi semangatnya untuk tetap hadir dan mengajar setiap hari.
Kisah Agusthinus menjadi potret ironi dunia pendidikan Indonesia. Di saat pemerintah menggelontorkan anggaran besar untuk berbagai program strategis, termasuk Program Makan Bergizi Gratis (MBG), masih ada guru di pelosok negeri yang bertahan puluhan tahun dengan penghasilan yang bahkan belum cukup memenuhi kebutuhan hidup dasar selama sebulan.
Perbandingan tersebut bukan untuk mempertentangkan pentingnya pemenuhan gizi anak dengan kesejahteraan guru. Keduanya merupakan fondasi pembangunan sumber daya manusia. Namun kondisi yang dialami Agusthinus memunculkan pertanyaan: apakah peningkatan kualitas pendidikan dapat berjalan optimal jika kesejahteraan para pendidik di garis depan masih tertinggal?
Di balik segala keterbatasan itu, Agusthinus Nitbani tetap memilih mengajar. Pengabdiannya menjadi pengingat bahwa kemajuan pendidikan tidak hanya ditentukan oleh besarnya anggaran, tetapi juga oleh sejauh mana negara memberi penghargaan yang layak kepada mereka yang setiap hari mencerdaskan generasi penerus bangsa.
𝙈𝙚𝙙𝙨𝙤𝙨 𝙃𝙚𝙗𝙤𝙝, 𝙏𝙑 𝙈𝙖𝙡𝙖𝙝 𝘽𝙪𝙣𝙜𝙠𝙖𝙢? 🚨
Aksi demo besar di jalan protokol Jakarta (22/7) ramai dibicarakan netizen, tapi sepi dari pemberitaan media nasional. Di tengah isu gangguan internet di lokasi, publik mulai bertanya-tanya: ini bentuk pembungkaman informasi, atau media yang menganggapnya kurang penting? Gimana pendapatmu?
#DemoJakarta #BeritaViral #BeritaTerkini #KabarHariIni #IsuNasional
Ketimpangan hukum di negeri ini melukiskan duka yang teramat perih bagi rakyat kecil, menegaskan betapa tajamnya ketidakadilan menghujam mereka yang tak berdaya. Di saat publik menyaksikan keistimewaan yang menggores rasa keadilan ketika seorang pejabat tinggi seperti mantan Jampidsus Febrie Adriansyah melenggang tanpa rompi tahanan maupun borgol meski terjerat kasus dugaan korupsi dan TPPU bernilai fantastis. Hukum seolah tampil penuh kesantunan dan kelembutan.