Inti argumen ini khas logika kolonial pasca Politik Etis: ketidakdewasaan or “onmondigheid”. Krn rakyat belum dewasa, maka hak2nya di-wali-kan atau “voigdij” kpd negara sampe momennya tiba kelak nanti.
Sejarah otoritarianisme di Indonesia berdiri tegak di atas pondasi nalar ini
In 1948, a US-sponsored dictatorship in South Korea launched a brutal campaign of repression on the island of Jeju.
Having killed up to 30,000 people — one islander in ten — Washington’s Korean clients covered up the evidence of the crime for decades. https://t.co/F4yYEjMTxl
Mengapa Reformasi 1998 tidak mengakhiri kekuasaan oligarki di Indonesia? Bagaimana kelompok2 elite bertahan & beradaptasi?
Temukan jawabannya dalam buku Reorganisasi Kekuasaan di Indonesia: Politik Oligarki di Era Pasar karya Richard Robison & Vedi R. Hadiz.
Segera terbit!
Read this essay by @Tyler_A_Harper about his time as a faculty member at @BatesCollege and thought about my own time at @TrinityCollege - from where I left not only a tenured job but a named professorship after a very long period because I could no longer stomach the Zionism and mediocrity of the enterprise.
Read his essay. You might not agree with everything, but the overall gist about the collapse of US liberal arts education is correct. https://t.co/wNgTCzRiAA
An FT visual investigation found systematic destruction across Israeli-occupied southern Lebanon, crippling systems essential to civilian life, from water and energy infrastructure to medical care. Raya Jalabi reports on the scale of the devastation. https://t.co/BcUPUBtpGz
Remembering and learning from the past. In the aftermath of the atomic bombings in Japan, horrifying, first-hand accounts were featured in John Hersey’s 1946 book, Hiroshima. @bulletinatomic
https://t.co/IDNz6VuUH8
Does suffering automatically produce socialist consciousness, or does it leave the door open for the far right? Our latest newsletter reflects on the patient, invisible labour required to build genuine social power before it can ever be seen. Read More:
https://t.co/JLXqEfyPos
“A journalist’s job is to be a respectful but stubborn pain in the neck, to earn the attention of sources and the audience, and to deliver timely information,” writes Boston Globe managing editor Cristina Silva. “When it comes to dealing with editors, consider this your permission to be just as determined.”
Read the latest edition of “Ask the Recruiter.”
https://t.co/CJ9j7H3mNG
Ini konten iklan atau bukan? Kalau di media mainstream itu mestinya masuknya iklan. Entah bagaimana kalau "media tunawisma" atau "podcaster"?
Intinya, batas iklan dan konten kini bukan lagi soal bentuk, melainkan soal kepentingan dan transparansi.
Di media mainstream, konten yang dibuat atas pembayaran pengiklan harus jelas dibedakan dari berita. Aturan soal pagar api jelas, walaupun kerap dilanggar. Tapi harusnya diberi pembeda sehingga pembaca atau pemirsa tahu itu iklan, bukan liputan jurnalistik. Jika advertorial tampil seperti berita tanpa label, media berarti sedang menjual kepercayaan pembaca, bukan sekadar ruang iklan.
Pada homeless media, podcast, kanal YouTube, newsletter, hingga influencer, masalahnya lebih rumit. Mereka tidak selalu memiliki pagar editorial seperti newsroom. Karena itu, ukuran utamanya adalah disclosure: apakah pembaca diberi tahu bahwa ada uang, produk gratis, perjalanan, komisi, atau hubungan bisnis di balik konten?
Yang harusnya diungkapkan, siapa yang membayar? Btw, bayaran dalam hal ini tidak mesti berupa uang, tp imbalan lain, termasuk fasilitas dll. Siapa yang menentukan isi? Dan apakah pembaca diberi tahu?
Jika sebuah perusahaan membayar tetapi bisa mengatur pesan, itu pada dasarnya iklan yang menyamar sebagai konten. Jika kreator dibayar tetapi tetap bebas mengkritik dan hubungan komersialnya dibuka, itu lebih tepat disebut sponsored content.
Problem terbesar media hari ini bukan iklan. Iklan adalah hal yang wajar. Yang berbahaya adalah iklan yang menyamar sebagai independensi.
Karena ketika pembaca tidak bisa lagi membedakan berita, opini, endorsement, dan propaganda komersial, kepercayaan terhadap seluruh ekosistem informasi bakal rusak.
I wrote this piece over a decade ago. There are aspects of the drafting (and copy-editing) that cause me to cringe, and moments in argument that are embarrassingly jejune. Still, I am now daily given reasons for thinking it might still have some value. https://t.co/cptz5fePiX
Wirausaha bukan solusi mengatasi tingginya tingkat pengangguran lulusan sarjana. Sebab, tujuan wirausaha bukan sekadar untuk bertahan hidup, melainkan harus tumbuh. #Ekonomi#AdadiKompas
https://t.co/I5wUElpAoG
Awal 1983 sebagai anak muda imut2 dari Jawa yang baru melepas status ABG, saya jumpa Ben Anderson pertama kali.
Pertemuan disambung surat-menyurat. Ini cuplikan dari balasan pertama dia yang ogah dipanggil Pak atau Prof. Kami ngobrol soal Tionghoa Indonesia.
RIP, Bung Ben!
Tulisan opini saya naik cetak di @hariankompas hari ini. Tentang kepastian hukum, mengapa kerusakannya hanya bergerak satu arah dan bergeraknya dari pucuk, serta apa yg terjadi pada bangsa ketika semua orang terpaksa berhitung pendek. Silakan disimak.
https://t.co/W25aKFRYOg
pelan-pelan Pak Anies, @aniesbaswedan. Soalnya banyak yang ketabrak ini 😭
"warga yang main hakim sendiri di jalanan bukan sedang menantang hukum, tapi sedang meniru. Mereka meniru cara republik ini memperlakukan aturannya sendiri.
boleh diubah kalau mengganggu kepentingan segelintir. Ditunda kalau merepotkan pengelola negara. Dilangkahi kalau tujuannya melanggengkan kuasa.
rakyat tidak belajar dari pidato yang menggelegar. Rakyat belajar dari keputusan-keputusan negara yang dipertontonkan setiap hari."
***
kutipan artikel opini beliau di Kompas hari ini. Sumber:
https://t.co/wX6IhvCMHo
NEW 🇮🇩 Travelling through rural Java and Sulawesi, Jeff Neilson finds Prabowo’s signature "Red and White" village cooperatives program struggling to justify its own existence in the eyes of the communities it’s supposed to support. https://t.co/TOurTGYJrP
The Trump administration has already cut off Cuba’s access to oil.
Now it’s attempting to starve the Cuban people, targeting the country’s capacity to grow, process, and import food — unless it buys from US corporations. https://t.co/PGmmHlucbh
Dear readers from all over the world - thank you!
This year marks 10th anniversary of “How China Escaped the Poverty Trap.” It couldn’t have scaled walls and traveled without your support & sharing
The book is now FREE to download (link below)
https://t.co/OX87veC0RW