Di atas tebing ini, angin berembus makin kencang,
Antara pasrah yang tulus, dan jiwa yang bimbang,
Menanti fajar datang membawa tenang,
Atau membiarkan malam menelan semua yang tersisa dengan lapang.
Maka biarlah sunyi ini kupeluk sendiri,
Aku memilih untuk tidak lagi menanti dicintai.
Lebih baik aku yang mencintai dengan setulus-tulusnya hati,
Tanpa syarat, tanpa perlu balasan yang menuntut dipenuhi
Di dalam kepala, jutaan kata berdesakan hebat,
Ingin tumpah, ingin keluar mencari tempat.
Namun bibir ini terkunci rapat,
Sebab aku tahu, sejuta kata pun takkan mengubah apa yang sudah terpahat.
Semua akan tetap sama, sia-sia yang berulang tanpa sempat tamat.