(Sudut pandang Danan..)
Darang…
Aku tidak pernah mendengar nama pementasan seperti ini sebelumnya. Tapi dari cerita Murti dan Marni, pementasan ini adalah sesuatu yang terlarang yang tidak seharusnya dipentaskan di alam manusia.
“Seratus tahun yang lalu ada seseorang yang mencoba menghentikan pementasan Darang. Ia mati dengan cara yang paling keji… Khekhekhe.
Kalian juga akan bernasib sama..” tawa Ki Tunjung.
Belum sempat kami melakukan serangan balik. Suara gong menggema begitu keras dan memekakan telinga kami.
Menyambut suara gong itu tiba-tiba panggung batu itu kembali diisi oleh mayat-mayat yang mengenakan kebaya dan pakaian kain lusuh. Mereka melakukan gerakan-gerakan mengerikan mengikuti irama gending.
“..sing mati nduwe hajaten dewe. ngrayakake mati, ngrayakake peteng ...”
Suara tembang dengan nada yang membuat kami merinding terdengar bersahutan dengan gending yang mengiringinya. Saat itu mataku terpukau…
Aku, Cahyo, Murti dan Marni tak mampu memalingkan pandangan kami dari pementasan yang mengerikan, namun memiliki ketertarikan yang terasa terlarang.
Semakin aku mengikutinya, semakin aku terserap dalam pesta mayat-mayat ini.
Tanpa sadar, darah menetes dari mataku, cahyo, dan yang lain. Aku ingin memalingkan wajah dari panggung terkutuk itu, namun itu semua begitu sulit.
PAGELARAN SEWU LELEMBUT
Part 5 - Darang
Pementasan itu menggunakan jasad manusia untuk memainkan perannya. Pementasan terkutuk yang membawa wabah dan bencana untuk manusia.. Darang
@IDN_Horor@bacahorror@ceritaht@qwertyping#bacahorror
Tak ada penolakan dari kedua makhluk itu. Ia seperti menyambut kami yang menikmati permainanya itu. Entah, kapan terakhir kali kami menari dengan lepas tanpa beban seperti ini. Dan aku tak menyangka, aku akan bisa menikmati menari bersama setan di tengah kuburan seperti ini.
Tak.. dung.. dung.. tang!
Permainan gendang sang kakek berakhir. Ia menatap kami sejenak dan menoleh ke sekitar hutan mencari sesuatu. Bagiku, itu adalah gerak gerik yang aneh. Tapi rupanya bagi Cahyo, itu adalah sebuah isyarat.
“Benar juga!” Tiba-tiba Cahyo terpikirkan sesuatu.
Begitu mengetahui Cahyo sudah menyadari maksud isyarat itu, Sang kakek pun memainkan gendangnya kembali. Kali ini ia dan penarinya itu berjalan meninggalkan kami sambil menari masuk ke dalam hutan.
“Benar juga apa, Jul?”
“Seharusnya penampilan mereka tidak pernah sepi. Selalu ada sosok lain yang menonton berkumpul di sekitar mereka. Itu artinya, makhluk makhluk penunggu di desa dan hutan ini sedang berkumpul di satu tempat,”
Masuk akal. Warga desa menghilang, tidak ada setan alas dan roh gentayangan di sekitar desa. Mungkin saja dugaan Cahyo benar.
“Murti! Marni! Apa di desa ini masih ada tempat ritual di pemakaman kuno?” Tanya Cahyo yang masuk ke gubuk dengan tiba-tiba.
Murti dan Marni yang terlelap pun terbangun dan mencerna pertanyaan Cahyo sebelum menjawabnya.
“Sudah nggak ada, Mas. Tempat itu sudah dihancurkan warga.” Jawab Murti.
“Apa ada kemungkinan tempat lain untuk ritual? Atau sesuatu yang mungkin bisa jadi tempat pemujaan atau tontonan?” Cahyo masih belum menyerah.
Murti berpikir sejenak, namun sepertinya ia tidak mendapatkan petunjuk tentang tempat yang Cahyo maksud.
“Gua..” Marni tiba-tiba berkata sambil mengucek matanya. “Marni ingat, ada gua yang cukup besar jauh setelah pemakaman. Pohon-pohon di sekitar sana pernah tumbang dan membentuk pelataran,”
Reaksi raut wajah Murti seperti membenarkan ucapan Marni. “Bisa juga di sana.”
“Istirahatnya ditunda dulu. Kita kesana! Jangan jauh-jauh dari kami, setelah ini kita akan berurusan dengan demit-demit itu,” Ucap Cahyo yakin.
Di puncak malam itu, kami menerobos hutan menggunakan obor sederhana. Kami melintasi hutan-hutan tua dan pemakaman tanpa nisan yang Cahyo maksud dengan pemakaman kuno. Memang ada sedikit sisa-sisa bebatuan seperti candi kecil di sini, namun tidak ada tempat pemujaan seperti yang dipertanyakan Cahyo.
Perjalananan kami teruskan masuk ke hutan yang lebih dalam. Dan apa dugaan Cahyo benar. Semakin kami mendekat ke gua itu, semakin banyak roh-roh gentayangan dan setan setan yang berkumpul disana.
Dari sini kami sayup-sayup mendengar suara gamelan yang mendayu dengan kelam. Cahyo terlihat geram seolah suara itu mengingatkan dirinya akan luka lamanya.
Ia pernah bercerita bagaimana ia mendengar suara gamelan yang begitu kelam ketika seluruh warga desa dan orang tuanya dibantai oleh ludruk topeng ireng. Sepertinya kali ini ia merasakan perasaan yang serupa.
“Lemah mayit. Seluruh tanah di desa ini dikutuk. Ada lebih dari ratusan mayat yang terpendam di bawah desa ini,”
Mendengar ucapan itu aku pun menoleh ke arah Murti dan Marni dan meminta mereka untuk menghentikan aktivitasnya.
“Terus kita harus istirahat di mana? Ada desa lain di dekat sini?”
Cahyo keluar ke jalan sejenak sambil melihat ke beberapa arah.
“Ikutin aku aja,” ucapnya.
Kami pun meninggalkan rumah Murti dan mengikuti kemana Cahyo mengarah. Ia berjalan ke salah satu ujung desa dan memasuki ke arah pemakaman terbengkalai di tengah hutan.
“Mas tahu dari mana tempat ini?” Tanya Murti heran.
Cahyo tidak menjawab dan hanya memberi isyarat agar kami lebih tenang. Ia berjalan dengan lebih berhati-hati saat melewati makam. Tak jauh di tengah makam, kami pun terhenti dengan sosok yang berdiri di sana.
Seorang penari tanpa kepala mengenakan kebaya lusuh berdiri di tengah makam..
Seketika aku pun waspada dan menjaga Murti dan Marni agar tidak mendekat, namun Cahyo terlihat tenang. Ia Justru mendekat ke sosok mengerikan itu.
“Kau seorang diri? Atau kakek pemain gendang itu masih ada bersamamu?” Cahyo berkata seolah-olah sudah mengenali sosok itu. Kali ini aku mempercayakan pada Cahyo tentang makhluk itu. Tapi…
“Jul, setan itu kan nggak punya kepala? Ngejawabnya gimana?” Tanyaku.
“Seharusnya bukan dia yang menjawab,” Ucap Cahyo.
“Dirga?”
Aku melihat Dirga berdiri di depan teras dengan wajah penuh waspada. Melihat hal itu aku pun menyusulnya.
“Eh, Mas Danan kebangun?” Tanya Dirga.
“Iya, kamu denger suara itu juga?” Balasku.
Dirga mengangguk. Sepertinya ia sudah lebih dulu menyadari hal itu daripada aku. Aku bisa mengambil kesimpulan bahwa penyanyi dan suara gendang keliling itu bukanlah hal yang lumrah di desa Dirga.
Degg!!!
Suara itu menghilang, namun perasaanku benar-benar tidak nyaman.
“Tong nyoba ngaganggu urang!!” (Jangan coba-coba mengganggu kami)
Tang..!!
Tiba-tiba ada suara yang berbisik di telinga kami lalu menghilang. Aku pun bergegas keluar meninggalkan rumah Abah mengikuti kemana suara itu pergi.
“Keluar kau! Tunjukkan wujud kalian!” Teriakku menantang mereka.
Srak…srakk…
Di ujung-ujung jalan mulai terlihat dua orang yang berjalan sambil terseok-seok. Mereka menggendong gendan yang cukup besar di depan tubuh mereka.
“Kang Hasan? Kang Manggar?” Dirga sepertinya mengenali kedua orang itu.
“Kamu kenal mereka, Dirga?”
“Kenal, Mas! Mereka warga sini. Tapi kondisi mereka benar benar aneh!”
Tang.. duk duk tang!!
Kedua orang itu mulai memainkan gendang yang dikalungkan di leher mereka. Mereka memaksa diri mereka menari dan menyanyikan tembang seperti yang kudengar tadi.
“Hentikan mereka, Dirga! Mereka kesurupan!” Teriakku.
PENJAGA LEUWEUNG SASAR
(Sudut pandang Danan…)
Hutan yang begitu luas dan menyimpan kisah kelam kini berada di hadapanku. Sebuah hutan yang pernah menjadi saksi keganasan Gandara Baruwa dan tempat bagi makhluk-makhluk mengerikan bersembunyi.
Leuweung Sasar Taneuh Bereum. Siapapun yang mencoba memasukinya harus siap untuk tak menemukan jalan keluar. Namun aku tak punya pilihan, sebuah bencana besar akan di mulai dari hutan keramat ini. Aku harus menghentikannya sebelum semua terlambat.
Aku tak bisa melibatkan Arsa untuk mengambil resiko masuk ke hutan ini. Lagipula, aku membutuhkan dia untuk mencari informasi bersama abah mengenai ‘Pagelaran’ yang membawa bencana itu.
Srakkk!!
Ada suara yang mendekat tepat saat aku hendak memasuki satu-satunya jalan untuk menembus hutan ini. Aku mencoba mengabaikannya untuk saat ini, namun baru saja aku hendak melangkah sebuah pisau melesat dan menancap di tanah.
Sratt!!
Aku melompat mundur, dalam sekejap saja aku bisa mengenali pisau itu.
DESA TUMBAL "Lemah Mayit"
Part Akhir - Tanah Para Mayat
Kita Tamatin sekarang ya! Buat temen malem minggu kalian yang jomblo, atau temen sahur.
minta tolong bantu retweet , like dan komen ya biar rame.
@bacahorror@IDN_Horor@bagihorror@ceritaht#bacahorror
Dipta tidak berbohong, sepertinya ia memang tidak mengetahui apa-apa tentang apa yang harus kami lakukan dengan jasad ini.
“Setidaknya, pasti ada petunjuk dari jasad i…”
Whusss!!!
Belum sempat Danan menyelesaikan ucapannya, tiba-tiba Keris Sukmageni menyala dan api putih muncul menembus warangkanya.
“Nan! Keris Sukmagenimu?” Aku mempertanyakan fenomena itu.
“Uwis telat! Demite wis lungo baru nyala!”(Sudah terlambat! Setannya sudah pergi, baru nyala!) Danan mengumpat keris pusaka peninggalan Paklek itu.
Jelas ia merasa kesal, saat kami membutuhkan kekuatan kedua pusaka itu, ternyata pusaka itu enggan mematuhi Danan. Dan sekarang tiba-tiba api putih keris sukmageni menyala.
“Mas..” Mas Dipta mencoba menerka. “Apa mungkin, menyalanya keris itu ada hubunganya dengan jasad ini?” Tanya Mas Dipta.
Benar juga, ucapan Dipta ada benarnya. “Keris Sukmageni itu punya kekuatan memulihkan luka gaib dan memurnikan kutukan. Mungkin saja ia merespon kutukan di jasad ini.”
Danan memandangi keris warisan paklek itu dan memutuskan membukanya dari warangka. Darah Danan yang diteteskan di keris itu sebelumnya, kini berubah menjadi tetesan api putih. Danan menoleh ke arahku seolah meminta persetujuan untuk meneteskan api putih itu pada jasad itu.
Aku pun mengangguk dan menyetujuinya. Dalam hati aku berpikir, mungkin ini alasan paklek tidak selalu menggunakan keris sukmageninya dalam setiap pertarunganya. Ia tahu kapan keris sukmageni akan bermanfaat, dan kapan keris sukmageni tidak akan menyala.
Benar saja, tepat setelah api putih itu menetes di tulang belulang itu. kobaran api putih menyala dan menyebar ke seluruh bagian tulang belulang itu. samar-samar kami melihat perubahan pada jasad itu, wana tulang belulang yang hitam kelam kini memutih menyerupai tulang sewajarnya.
“Benar, api keris sukmageni memurnikan jasad ini,” Ucapku.
“Apa ini artinya salah satu sumber kekuatan keris pusaka mayit itu sudah musnah?” Tanya Dipta.
“Bisa saja,” Sahutku.
“Belum…” Danan berkata sambil berpikir.
Aku dan Dipta pun serentak menoleh ke arahnya.
“Kepala jasad ini belum dimurnikan. Aku merasa kepala itulah yang menjadi pengikatnya,” Jelas Danan.
Aku sepakat dengan Danan, dan aku bisa menebak apa yang Danan maksud. Kita tahu, bahwa kepala jasad ini pasti disimpan secara khusus oleh warga desa.
“Kita kembali,” ajakku.
Danan dan Dipta mengangguk setuju. Setidaknya saat ini kami sudah mendapat beberapa petunjuk. Yang pertama dengan memurnikan jasad yang pernah menjadi inang dari pusaka mayit, hal ini mungkin bisa berdampak terhadap pusaka sialan itu.
Yang kedua, jika hal itu benar. Jalan yang harus kami tempuh semakin terang. Berarti, tugas kami adalah mencari semua jasad yang pernah menjadi inang dari pusaka itu dan memurnikannya seperti apa yang kami lakukan pada jasad ini.
***
“Acara? Di sini?”
Asri mengangguk.
Memang ada beberapa perbedaan ornamen di tempat ini. Sudah ada beberapa janur dan kain-kain merah yang di lampirkan di pohon-pohon. Namun tidak ada panggung atau dekorasi yang terlalu meriah.
“Boleh aja, Sri.” Balasku sambil menahan rasa senangku agar wajahku tidak terlihat memalukan di hadapan Asri. ”Memangnya acara apa?”
Asri menunjuk ke arah sebuah bangunan batu setinggi dua meter yang berbentuk seperti kuil. Sudah ada banyak sesaji dan dupa di sana. Ukiran patung-patung menghiasinya sebagai ornamen. Namun semakin aku memperhatikannya, semakin terlihat ada sesuatu janggal.
Di bagian tengah bangunan itu ada tempat meletakkan persembahan. Sudah ada beberapa nampan berisi bunga sesaji di sekeliling sesuatu yang dijadikan persembahan itu. Tapi… bentuk persembahan yang diletakkan di sana benar-benar tidak biasa. Aku mendekat, dan saat itu tiba-tiba keringat dingin mengucur saat aku melihat wujud persembahan itu.
“I—itu kepala manusia?” Tanyaku sambil menoleh ke arah Asri.
Asri pun mengangguk.
“Malam ini acara untuknya. Kita akan mengantarkan dia menuju kesempurnaan…” Balas Asri sambil tersenyum seolah tidak ada yang aneh dengan keberadaan kepala manusia di kuil batu itu.
***
(Bersambung Part 2)
Part 1 – Desa Tanpa Nama
Menjadi pengangguran lebih dari satu tahun bukanlah sesuatu yang kubayangkan saat aku kuliah di salah satu universitas ternama di Ibukota saat itu. Jaminan seorang sarjana akan dibutuhkan di dunia kerja, hingga pekerjaan yang dapat dibanggakan oleh kedua orang tuaku di desa sudah lagi tidak relevan saat ini.
Krisis moneter yang menerpa negeri ini merubah banyak hal. Nilai uang tak lagi sama, rasa aman tak lagi dapat kami nikmati hingga begitu sulit untuk orang sepertiku berjuang di ibukota ini.
Dipta Radita, Sebuah nama yang diberikan oleh kedua orang tuaku dengan harapan bahwa aku akan menjadi orang yang bermanfaat untuk orang lain. Tapi sayangnya, keadaanku saat ini masih berbanding terbalik dengan niat mereka menyematkan nama itu.
“Dipta, keluar ga?”
Terdengar suara seseorang yang tanpa tahu malu berteriak di depan pintu kosku dengan lantang.
“Iya! Lima menit!”
Dia Elang, teman seperjuanganku yang turut berjuang mengadu nasib di Ibukota yang katanya lebih kejam dari Ibu tiri ini. Saat ini, mungkin aku bisa mengatakan bahwa ungkapan itu tidak mengada-ngada. Bisa makan kenyang sehari sekali saja aku sudah sangat bersyukur.
Aku mengganti celanaku dengan celana panjang yang robek di bagian lutut dan mengambil gitar tua dengan satu senar putus yang belum sempat ku perbaiki. Di depan, Elang sudah menanti dengan gaya ‘kampunganya’ dengan topi yang dipakai terbalik ke belakang.
“Perempatan pulomas?” Tanyaku sambil mengikuti langkah kakinya.
“Terminal aja, cari bis yang ke Klender.”
“Cari mati, lu? Ketahuan Bang Kohar babak belur lagi kita!”
“Ya jangan sampai ketahuan lah Blo’on!” Umpatnya sambil mengibaskan topinya ke kepalaku.
Yah, inilah profesi kami saat ini. Profesi yang menyelamatkan kami agar bisa bertahan hidup di ibukota yang sangat padat ini. Bukan aku ingin menyerah, namun aku masih berharap bahwa akan ada waktunya aku mendapatkan pekerjaan yang sesuai harapan kedua orang tuaku di kota ini.
Kakiku sedikit gemetar. Perasaan yang tak biasa menyelimutiku ketika para penumpang yang sebelumnya kulihat tengah tertidur, kini menatap ke satu arah, ke arahku. Wajah mereka pucat, mereka hanya menatap dengan raut wajah yang datar. Jelas ada sesuatu yang tidak beres dengan keadaan ini.
Aku pun mempercepat langkahku dan turun meninggalkan bus itu. Hanya hutan dan jalanan sepi di tengah gelapnya malam. Namun setidaknya, yang kulakukan adalah keputusan yang tepat. Setidaknya untuk saat ini.
Tepat saat pintu bus itu tertutup, dari jendela tak lagi terlihat penumpang-penumpang yang menatapku dengan wajah pucat. Dari luar terlihat kursi-kursi penumpang itu diisi oleh sosok pocong-pocong yang kini menatapku dengan matanya yang menghitam.
Rasa takutku semakin menjadi, dan aku hanya mampu menggenggam sebuah benda yang terkalung di dadaku sambil membacakan beberapa doa yang kubisa. Bus itu pun menutup pintunya dan berjalan meninggalkanku di pinggir hutan yang begitu gelap.
Tepat saat bus itu pergi, samar-samar terlihat seorang kakek berpakaian surjan lusuh dengan rambut putih yang panjang. Ia menatapku dari seberang jalan sambil tersenyum tanpa suara.
Saat itu aku pun sadar bahwa aku belum lolos dari desa itu. Desa yang dipenuhi oleh manusia dan makhluk-makhluk terkutuk. Desa yang menginginkanku menjadi bagian darinya.
Desa Tumbal Lemah Mayit…
***
Halo @BPJSTKinfo saya punya 2 kartu BPJS ketenagakerjaan tapi yang muncul di akun saya kenapa hanya 1 ya? Bagaimana saya cek saldo 1 kartu yg sudah non aktif kan belum saya tarik dananya.
(di bawah pohon beringin asrama..)
“Sepertinya kita akan berpisah di sini..” Ucap Cahyo di hadapan Danan dan Naya.
“Aku tanya sekali ini, Jul. Kamu lagi nggak bercanda kan? Ini bukan soal jarak Klaten ke Magetan lho?” Balas Danan.
“Haha.. untuk kali ini nggak, Nan. Kayaknya Sekarang kita punya tujuan perjalanan masing-masing. Anggap saja kita lagi jalanin perintah dari, Paklek..”
Danan melihat sosok seseorang yang bersandar di batang pohon beringin itu, Candramukti.
“Masalahnya tempat yang kamu datangi itu gak bisa didatengin cuma dengan naikin SiMbahlho Mas Cahyo,” tambah Naya.
“Tenang saja, semua akan baik-baik saja. Aku hanya merasa harus membalas perbuatan Bara.
Setelah kukalahkan keris terkutuk di alamnya aku akan segera kembali,” Jelas Cahyo.
Setelah selesainya pertarungan itu, Cahyo meminta Candramukti untuk membawanya ke alam dimana Bara lahir. Ia berjanji dalam hatinya untuk membuat perjalanan Bara ke alam ini tidak sia-sia. Ia ingin datang ke semesta itu dan memperbaiki semua kesalahan yang pernah Bara perbuat.
“Kau jadi melakukan perjalanan dengan Naya, kan?” Tanya Cahyo.
Danan mengangguk, sepertinya ia tidak bisa lagi menghalangi Cahyo.
“Akan kuceritakan semua tentang Bapak saat kau kembali nanti,” Ucap Danan.
“Aku tunggu..”
“Mas Cahyo nggak pamit sama Sekar?” Tanya Naya.
Seketika wajah Cahyo berubah cemas.
“Lha, itu.. aku takut dia kepikiran,” Balas Cahyo.
“Ya udah, tar aku pamitin. Aku bilangin Cahyo lagi magang di kebun binatang luar pulau,” Ledek Danan.
“Asemmm kamu..” kesal cahyo memukulkan sarungnya.
Cahyo ingin melangkah berpaling, tapi ia terhenti sejak.
“Tolong sampaikan sama Sekar, Nan…
Bilangin, Mas Cahyo cuma pergi sebentar. Mas Cahyo nggak pamit karena nggak mau Sekar khawatir. Mas Cahyo nggak bisa ngeliat wajah cemas Sekar, kepikirannya bisa tiga hari…
Bilangin juga, saat kembali nanti pasti aku bakal ngajak Sekar ke jenjang yang lebih serius. Mudah-mudahan Sekar mau nunggu Mas Cahyo
Dan misalnya Mas Cahyo nggak kembali…”
“Udah, Mas! Sekar cuma mau denger sampe situ aja!” Tiba-tiba seorang perempuan muncul dari balik salah satu pohon di sana.
“Se–Sekar?!” Cahyo kaget.
Saat itu Danan dan Naya tertawa terbahak-bahak melihat muka merah Cahyo. Bahkan Candramukti yang menunggu dari jauh saja ikut tertawa.
“Asem! Kowe ngerjain aku, Nan!”
Danan berusaha menghindar dari sabetan sarung Cahyo. Tapi saat Sekar mendekat, seketika Cahyo menjadi jinak.
“Sekar nggak cemas, Sekar percaya Mas Cahyo pasti kembali. Sekar cuma mau pesen ke mas Cahyo..
Jangan makan sembarangan, kalau makan pisang atau buah dari pohon dicuci dulu, Kalau tidur jangan malem-malem, dan jangan nekat.
Sama satu lagi. biarpun alam ini memiliki banyak semesta. Tuhan itu cuma satu. Jangan lupa kewajibanmu ibadah..” Ucap Sekar.
Cahyo menggaruk kepalanya mendengar nasihat dari Sekar.
“Ya sudah, mas pamit ya..”
Sekar mengangguk.
“Mas.... sa--sa-- yang Sekar…”
“apa mas?” Tanya Sekar
“Eh.. enggak,”
“Heh, Apa? Kok bisik-bisik..!”
“Nggak, Udah.. mas pamit ya!!!”
Saat itu Cahyo berlari dan seekor kera kecil melompat dari atas pohon ke bahunya. Wajahnya begitu merah, tapi ia aku cukup senang melihat Cahyo pergi dengan semangat.
Terlebih aku dan Naya benar benar terhibur melihat wajah Sekar yang sumringah mendengar bisikan Cahyo yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua.
***
TAMAT
EPILOG
(Di desa Dirga..)
Suara pintu rumah yang diketuk membuyarkan tidur siang Dirga yang jarang sekali ia nikmati saat berlatih di rumah Nyai Jambrong.
“Dirga, bangun! jangan molor terus!” Teriak Mas Jagad dari luar.
“Masuk saja, Jagad. Bangunin sendiri Dirganya” teriak Abah mempersilahkan Jagad masuk.
“Siap, Bah..” Balas Jagad yang segera memasuki rumah dan menuju kamar Dirga. Ia melihat keadaan kamarnya yang jauh lebih tertata rapi dibanding sebelum kepergiannya berlatih.
“Bangun, cepet! Ada yang mau ketemu!”
“Ada apa sih, Mas? Jarang-jarang bisa tidur siang begini..” Balas Dirga.
“Udah ikut aja!”
Jagad menarik Dirga dari kasurnya, ia tidak sempat mengganti celana pendeknya dan hanya memilih mengambil sarung untuk menutupi kakinya itu.
“Ya ampun, mas! buru-buru banget,” ucapnya.
Saat itu Jagad mengajak Dirga ke sebuah hutan tempat ia sempat bersembunyi dari serangan trah Pakujagar. sudah ada yang menunggu di sana.
“Anak perjaka tidur di siang bolong, hati-hati ketularan takdir jomblonya Jagad,” Ucap sosok itu.
“Ya ampun, Nyi.. Udah tahap penjajakan nih!” Bantah Jagad.
Sosok itu adalah Nyi Sendang Rangu yang sengaja datang menemui Dirga.
“Eh, Nyi… “ Wajah Dirga tersipu saat bertemu Nyi Sendang Rangu dengan pakaian seadanya itu.
“Sudah nggak usah malu, saya tau kamu gak ganti baju pasti kelakuan Jagad kan?” Ucap Nyi Sendang Rangu yang mengambil posisi duduk di salah satu batu.
Ia mengeluarkan sebuah benda yang hitam dan usang.
“Saya hanya mau mengantarkan ini..” Nyi Sendang Rangu memberikan benda itu pada Dirga “Apa ini Nyi?” Dirga mengambil benda itu dan mengambil posisi duduk bersama Jagad.
“Keris Dasasukma. Hanya itu yang bisa saya ambil dari tubuh Prabu Jagarekso saat itu,” ucap Nyi Sendang Rangu.
Dirga menatap bilah besi tua itu sambil menghela nafas.
“Ya sudah Nyi, akan lebih baik jika aku tidak perlu menggunakan benda ini lagi,” ucap Dirga.
“Aku setuju,” tambah Mas Jagad.
Nyi Sendang Rangu mengangguk mengerti maksud Dirga.
“Saya mengerti, tapi mungkin saja kamu ingin mengetahui sesuatu dibalik obsesi Prabu Jagarekso terhadap keris itu,”
“Nyi tau?”
Nyi Sendang Rangu menggeleng, “Tapi kalau seseorang yang mungkin bisa menempa keris itu kembali pasti kamu sudah tahu orangnya kan?”
“Iya Nyi, tapi untuk itu sepertinya aku masih harus mengantri,” Balas Dirga.
Nyi Sendang Rangu tersenyum dan berdiri dari tempatnya. ia pun berpamitan pada Jagad dan Dirga setelah urusannya selesai.
Dirga memandang bilah keris dasasukma itu, mereka berdua merasa bahwa sisa-sisa keris dasasukma itu yang pernah direbut Prabu Jagarekso itu akan membawa mereka ke perjalanan yang lain.
***