Guys, ada yang udah tahu belum soal ini? Anggaran buat damkar kabarnya dipangkas, bahkan disebut-sebut dana operasional mereka cuma cukup sampai September 2026.
Yang bikin makin kaget, ternyata untuk beberapa aksi bantuan non-kebakaran, ada petugas yang sampai pakai uang pribadi buat nutup kebutuhan di lapangan.
Polda Metro Jaya hari ini, di depan kamera:
"Kami bukan musuh mahasiswa. Kami adalah partner. Kami adalah mitra."
Lalu mereka umumkan angkanya:
Untuk mengawal demo hari ini , 6.675 personel gabungan disiagakan.
Prediksi massa aksi?
Sekitar 300–500 orang di DPR/MPR.
Di Bundaran HI? 80–100 orang.
Rasionya: untuk 500 mahasiswa, negara siapkan hampir 13 aparat per orang.
Tiga belas.
Bukan untuk perang.
Bukan untuk bencana.
Untuk warga negara yang mau bicara.
Dan ini bukan pertama kali.
Jumat 12 Juni lalu ,4.151 personel untuk massa yang juga ratusan orang.
Setiap minggu angkanya naik.
Di saat yang sama, Polda mempersoalkan surat pemberitahuan , apakah mahasiswa sudah lapor sesuai UU No. 9 Tahun 1998 Pasal 10.
Tapi Kabid Humas Polda mengakui sendiri dalam konferensi pers hari ini: meski tanpa surat pemberitahuan, polisi tetap melakukan pengawalan.
Jadi surat itu wajib atau tidak?
Kalau tidak wajib , kenapa dipermasalahkan ke publik?
Kalau wajib , kenapa tetap dilayani?
6.675 aparat untuk 500 mahasiswa yang mau bicara.
Di negara mana ini disebut "pelayanan"?
lu pernah ga sih kehabisan energi gitu? kek yang biasanya lu ceria, lu sering cerita, lu seneng interaksi sama orang, tiba-tiba lu lebih seneng diem, tidur, istirahat dan bahkan untuk sekedar bales chat aja lu ngerasa males bgt.
selemah-lemahnya perlawanan adalah melawan dalam pikiran, tidak membenarkan ketimpangan, ketidakadilan, sistem yg eksploitatif, selalu merasa ada yg salah ketika teman ada yg tidak makan, ada yg tidak merasa aman pulang, ada yg hak-hak hidupnya dirampas. karena pada akhirnya cuma kita yg kita punya.
Fun Fact :
1. Dulu yg dapet THR itu cuma PNS, tapi semenjak pekerja demo Pekerja swasta juga dapet THR
2. Dulu juga jam kerja 16 jam ++ tapi semenjak demo jadi 8 jam.
Macet mu yg dirasa sekarang bisa terkonversi jadi bahagia dan sejahteramu di masa depan.
Dunia memang aneh saat koruptor mulai koar koar bicara moral dan menyerang orang-orang yang kritis. Lebih aneh lagi, mereka diberi sorot kamera dan ditayangkan di media-media seolah mereka orang suci yang sedang berkhotbah untuk masyarakatnya. Memang menuju kehancuran.
Program yang katanya untuk anak-anak miskin, malah bikin pusing para investornya yang kaya raya. Giliran diprotes, digeser lagi gawangnya: orang orang miskin jadi tameng lagi.
Padahal kalau memang tujuannya cuma orang miskin, bisa kasih saja buat keluarganya. Satu anak, sesuai anggaran. Dua anak, atau tiga, bisa disesuaikan. Pas diberi saran, malah digeser lagi: orangtuanya nggak akan bisa belanja dan enggak ngerti gizi.
Susah emang, kalau tujuannya enggak benar-benar anak anak miskin. Lagian, negara ini sudah puluhan tahun, sejak kapan ibu-ibu diragukan kemampuan mereka mengelola belanjaan. Toh, selama ini, uang seadanya pun mereka atur sedemikian rupa.
Giliran dikiritisi, digeser lagi, seolah orang-orang nggak suka anak-anak dapat makan, enggak suka anak-anak tumbuh. Orang bodoh mana yang nggak suka bangsa ini jadi lebih cerdas? Yang enggak disukai orang yang mengkritisi adalah pola-pola licik yang ujungnya sudah terbukti penuh korupsi. Justru, mereka peduli pada hak anak-anak dan generasi bangsa ini. Harusnya hak itu penuh didapat anak-anak.
Yang bikin kebocoran siapa gue tanya?
Yang bikin MBG siapa? Anggaran 1.2 triliun perhari?
Dikorupsi Dadan 1 miliar sehari masih sisa banyak?
Yang bikin Kopdes di tengah sawah sama tengah hutan juga siapa?
Siapa gue tanya?
Siapaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa?