🚨BREAKING :A video documents a horrific Israeli crime: targeting ambulance and civil defense crews as they were rescuing victims and the wounded after Israel bombed Nasser Medical Complex in Khan Younis among them was journalist Hossam al-Masri.
Mohammed dan putrinya, Layan, tewas ditembak di Gaza pada November 2023. Saat itu, Mohammed terlihat mencoba menyentuh Layan dalam momen terakhir hidupnya.
Menurut penelusuran BBC, 168 anak telah ditembak hingga Juli. Sebanyak 95 anak di antaranya ditembak di dada atau kepala.
🚨⚡️ ISRAELI BOMBING OF SYRIA:
Tel Aviv is now striking the heart of Damascus — not just military targets in Suwayda.
Syria gave up the Golan. They gave everything.
But Israel still bombs them.
Berulang lagi. Penjual Mobil 🚘 di Aceh di tembak 💥 oleh Prajurit TNI di Aceh Utara. Prajurit Kelasi Dua Dede Irawan (DI) menembak kepala Hasfiani alias Imam (35) di dalam mobil Toyota Innova BL BL 1539 HW. Penembakan tersebut dilakukan di kompleks Perumahan PT Aceh Asean Fertilizer (AAF), Krueng Geukuh, Aceh Utara. Bersama seorang juniornya yang membersihkan darah di mobil, DI membawa mayat korban ke Gunung Salak, yang jaraknya 30 kilometer dari lokasi. Di sebuah jurang Gunung Salak, jenazah korban dibuang oleh pelaku dan temannya. Proses pembuangan mayat agen mobil tersebut berlangsung pukul 17.30 WIB.
https://t.co/xYBC7eDYTB
Malaysia berduka atas kehilangan seorang sosok pejuang dan pembela rakyat Palestin, Al Syahid Yahya Sinwar yang dibunuh ganas oleh rejim biadab Zionis.
Sekali lagi komuniti antarabangsa gagal memperjuang serta memastikan keamanan dan keadilan tertegak lantas memburuk situasi konflik.
Malaysia mengutuk keras pembunuhan ini, dan ternyata percubaan rejim untuk melemahkan tuntutan pembebasan tidak akan berjaya. Walhasil, Malaysia mendesak agar kebiadaban Israel disanggah komuniti antarabangsa dan betapa pembantaian berterusan warga Palestin mesti segera dihentikan.
Foto: Reuters
إنّا لله وإنّا إليهِ رَاجعُون
Dengan hati yang amat sedih dan pilu, saya mendapat perkhabaran berita pembunuhan Ismail Haniyeh. Pemergian beliau merupakan satu kehilangan besar buat kita semua, khususnya umat Islam yang cintakan perjuangan pembebasan Palestin.
Saya amat terkesan dengan pemergian beliau kerana pernah menerima sepucuk surat takziah daripadanya atas pemergian anak saya, Hammad. Kesannya amat mendalam kepada saya sehingga hari ini.
Semoga Allah SWT mengurniakan kesejahteraan kepada rohnya dan menempatkannya bersama para syuhada.
اللهم اغفر له وارحمه وعافه واعف عنه وأكرم نزله ووسّع مدْخله واغسله بالماء والثلج والبرد ونقه من الخطايا كما ينقى الثوب الأبيض من الدنس، اللهم أبدله داراً خيراً من داره، وأهلاً خيراً من أهله وزوجاً من زوجه، وأدخله الجنّة، وأعذه من عذاب القبر، ومن عذاب النّار.
Sejarah mencatat, dari abad ke abad, peradaban makin maju dan berkembang. Ketidak-beradaban makin susut. Dunia makin "civilized".
Dalam peperangan, hukum dan etika makin menjadi "rules". Artinya, perang dan operasi militer ada aturannya. Ada batas-batasnya. Mana yang boleh, mana yang tidak boleh.
Mengamati apa yang terjadi belakangan ini, sepertinya hukum, etika dan norma dalam peperangan tak diindahkan lagi. Seolah cara apapun dibenarkan. The ends justify the means. Jatuhnya korban jiwa penduduk sipil dan mereka yang tidak berdosa (non combatant dan innocent people), yang sangat besar jumlahnya dan jauh melampaui batasan "collateral damage" diabaikan. Bangunan, infrastruktur dan fasilitas sipil dihancurkan tanpa perasaan bersalah. Apakah para politisi dan para jenderal sudah tidak punya hati dan kejernihan berpikir lagi? Apakah ini sebuah kemunduran peradaban dan perikemanusiaan?
Pertanyaan berikutnya adalah apakah dunia, dalam hal ini para pemimpin dunia, tidak bisa menghentikan hal-hal buruk yang membahayakan kehidupan di muka bumi ini? Tidak mampu atau tidak mau? Bagaimana jika perang yang tidak beradab ini, dengan dalih untuk memenuhi kepentingan nasional pihak-pihak yang berperang, dianggap sebagai "a new normal" dan mendapatkan pembenaran sejarah?
Apa yang tengah terjadi di dunia saat ini juga merupakan pertanda dan sekaligus bukti kembalinya "geopolitics of hard power" atau juga "geopolitics of the new ideology"? Adakah "clash of civilizations" yang kerap diidentikkan dengan geopolitik pasca Perang Dingin kini telah digantikan dengan "clash of nations"?
Saat ini dan ke depan, mestinya dunia makin bersatu dan berkolaborasi untuk mengatasi permasalahan global yang amat mendasar, seperti menyelamatkan bumi dari krisis iklim dan lingkungan serta mengatasi kemiskinan sejagat dan berbagai ketidak-adilan. Bukan justru mengobarkan peperangan di sana sini apalagi makin menjauh dari keberadaban dan nilai-nilai kemanusiaan.
Saya berpikir, apakah ketidak-mampuan kita untuk menghentikan sesuatu yang membahayakan ini lantaran "tangisan dunia" (call for peace and humanity) selalu kandas dalam diplomasi dan upaya global untuk mencari solusi? Kandas karena tak mampu menghadapi mereka-mereka yang memiliki "hak veto" dalam tatanan dan mekanisme PBB? Kalau memang begitu adanya, situasi di tiga kawasan yang saat ini tengah bergolak, utamanya Timur Tengah dan Eropa (Ukraina), kemudian ketegangan yang amat tinggi di Asia Timur dan Asia Tenggara ini, benar-benar membahayakan perdamaian dan keamanan internasional. Mengapa saya katakan demikian? Karena, yang saat ini tengah berhadap-hadapan, baik langsung maupun tidak langsung, di ketiga "flash points" tersebut adalah para pemegang hak veto. Maknanya, setiap ada prakarsa politik untuk mengakhiri peperangan ("peace proposal") akan selalu kandas jika salah satu pemegang hak veto tidak menyetujuinya.
Nah, kalau begitu, mungkin akan ada yang berkesimpulan bahwa tidak akan ada solusi apapun ke depan, termasuk untuk menghentikan peperangan di Gaza maupun di Ukraina. Apa benar-benar begitu? Wah, malang benar dunia ini.
Saya punya pendapat, meskipun barangkali saya diejek karena pikiran saya dianggap terlalu elusif dan tidak "doable". Tidak mengapa. Paling tidak apa yang saya sampaikan ini bisa menjadi renungan.
Tidak mungkin tak ada solusi yang bisa dilakukan oleh dunia. Sejak bersekolah di sekolah dasar, guru saya selalu mengajarkan "di mana ada kemauan, di situ ada jalan". If there is a will, there is a way.
*SBY*
Cikeas, 1 Juni 2024
1. Menyimak perkembangan situasi di Timur Tengah minggu ini, ada secercah harapan baik. Harapan terjadinya gencatan senjata (cease fire) menuju pengakhiran perang di Gaza secara lebih permanen. Saya “membaca” ada kehendak, paling tidak kesediaan, dari pihak-pihak yang berperang secara langsung (Israel dan Hamas) juga dari pihak yang berada di belakang layar untuk mencari solusi damai.
2. Sungguhpun demikian, negosiasi untuk mencapai kesepakatan (peace deal) selalu rumit dan tidak mudah untuk dicapai. Upaya peace deal sering gagal karena masing-masing pihak memiliki ego dan ingin mendapatkan manfaat yang paling banyak. Tidak mudah pula untuk mencapai win-win solution. Belum kalau ada pihak ketiga yang ikut bermain sesuai dengan kepentingannya masing-masing. Karenanya, banyak contoh di seluruh dunia bahwa resolusi konflik berhasil karena pihak-pihak yang bersengketa mau “mundur satu langkah ke belakang”. Implementasi dari peace deal juga sangat rentan dan setiap saat bisa kandas. Hal ini saya kemukakan karena saya juga memiliki pengalaman yang panjang dalam upaya resolusi konflik di Indonesia, maupun ketika ikut menengahi sejumlah konflik antar negara.
3. Saya berpendapat peperangan di Gaza harus segera diakhiri. Para pemimpin dunia harus peduli dan tidak bersikap abstain. Disamping tragedi yang terjadi di Gaza sudah melampaui batas kemanusiaan, korban jiwa juga sangat tinggi baik di pihak Israel, terlebih lagi di pihak Palestina yang jauh lebih besar. Kalau ada yang berpendapat dalam sebuah peperangan “collateral damage” (jatuhnya korban sipil dalam sebuah peperangan) tidak dapat dihindari, tetapi apa yang terjadi di Gaza sudah jauh melampaui batasan itu. Sementara, kalau peperangan makin meluas dan membesar, yang “gelap” bukan hanya kawasan Timur Tengah. Hampir semua negara akan merasakan dampak buruknya, terutama jika dikaitkan dengan goncangan ekonomi global yang bakal terjadi.
4. Berhasil tidaknya upaya gencatan senjata menuju pengakhiran perang di Gaza bukan hanya ditentukan oleh Israel dan Hamas semata. Negara-negara yang secara de facto sudah terlibat dalam konflik (baik langsung maupun tidak langsung) juga memiliki peran dan pengaruh yang penting. Ini sekaligus kita serukan kepada pihak-pihak yang terlibat untuk tidak hanya bersikukuh pada kepentingan nasional masing-masing, tetapi bangunlah kehendak yang baik untuk menghentikan tragedi kemanusiaan yang luar biasa ini. Prakarsa dari sejumlah negara yang berupaya dengan gigih untuk menghentikan peperangan di Gaza patut mendapatkan penghargaan dan dukungan secara internasional *SBY*
Seorang askar AS membakar dirinya di hadapan kedutaan Israel di Washington.
"Saya tidak akan lagi terlibat dalam pembunuhan beramai-ramai."
Semasa terbakar, dia berulang kali menjerit "Bebaskan Palestin".