Tiga kampus di Mataram (NTB) membubarkan nobar Pesta Babi: Undikma, Unram, dan UIN.
Ruang pertukaran gagasan pun pindah ke warung-warung kopi, yang dalam sejarah revolusi kesadaran di Eropa disebut "penny universities".
Mahasiswa Indonesia nempel poster film PESTA BABI di kampus-kampus Australia.
Beasiswa LPDP atau bukan, ikutan nobar dan diskusi tentang 60 tahun operasi militer Indonesia, PSN, dan eksploitasi Papua.
Sedang musim nobar di Papua.
Luar Papua habis lebaran.
Sudah tidak ada lagi ruang demokrasi di lingkungan akademik.
Bukan yang pertama kalinya, acara nobar Pesta Babi lagi-lagi dibubarkan. Kali ini di Universitas Mataram.
Sepertinya masyarakat dipaksa buta untuk mengetahui kondisi Papua yang sebenarnya.
(Kronologi di reply)
Film dokumenter Pesta Babi
karya Dandhy Dwi Laksono
membongkar narasi besar pembangunan di Papua,
khususnya terkait Proyek Strategis Nasional (PSN) yang diklaim untuk ketahanan pangan dan energi.
Namun dalam penjelasan Dandhy
proyek ini justru dinilai sebagai kedok dari ekspansi industri besar dan kepentingan ekonomi-politik yang melibatkan aktor negara, termasuk militer.
1. Narasi Resmi vs Realita di Lapangan
Pemerintah mendorong narasi:
Ketahanan pangan (food estate)
Kemandirian energi (biofuel, biodiesel)
Swasembada nasional
Namun menurut film ini:
yang terjadi di lapangan adalah alih fungsi hutan besar-besaran menjadi perkebunan industri (terutama sawit dan energi)
masyarakat adat Papua justru terdampak langsung: kehilangan tanah, ruang hidup, dan konflik sosial
2. Dugaan “Agenda Tersembunyi” di Balik PSN
Film ini mempertanyakan:
Apakah ini benar murni program pembangunan?
Atau ada agenda ekonomi elite dan korporasi besar di baliknya?
Disebutkan bahwa:
Papua menjadi “lahan baru” industri bioenergi
Ada keterlibatan banyak aktor, termasuk perusahaan sawit dan energi global
Negara (termasuk militer) ikut terlibat dalam pengamanan dan operasional proyek
3. Peran Militer dalam Proyek Ekonomi
Salah satu poin paling sensitif:
Pembangunan batalion di Papua meningkat
Rasio aparat di Papua sangat tinggi dibanding wilayah lain
Keamanan proyek dikawal ketat aparat
Film ini mempertanyakan:
apakah pendekatan militer ini benar untuk konflik keamanan
atau juga bagian dari pengamanan kepentingan ekonomi skala besar
4. Dampak ke Masyarakat Adat
Menurut narasi dalam film:
Masyarakat adat sering tidak dilibatkan
Tanah ulayat diambil untuk proyek industri
Muncul konflik sosial dan ketegangan di lapangan
Ada kekhawatiran bahwa:
Pembangunan justru membuat masyarakat kehilangan ruang hidupnya sendiri.
5. Kritik terhadap Model “Kapitalisme Negara”
Dandhy menyebut arah kebijakan ini mengarah ke:
state capitalism (kapitalisme negara)
di mana negara menjadi aktor ekonomi utama bersama korporasi
dan militer ikut masuk dalam sektor ekonomi
Ia menilai ini mirip:
kapitalisme terpimpin versi modern
6. Isu Lingkungan & Energi
Film ini juga mengkritik biofuel/sawit
sebagai energi “hijau”:
dianggap tidak sepenuhnya ramah lingkungan
karena deforestasi besar untuk perkebunan
emisi tetap tinggi jika dihitung dari seluruh siklus produksi
Kritik Dandhy sejauh ini:
- Pembangunan sering tidak berbasis data transparan (black box policy)
- Tidak ada uji keberhasilan yang jelas sebelum proyek besar dijalankan
- Kritik publik sering dianggap ancaman, bukan masukan
- Ruang demokrasi dan kontrol publik makin lemah karena disinformasi & regulasi
pada akhirnya, tidak ada yang benar untuk ditunggu, karena baik pertemuan atau perpisahan, masing-masing sudah ada waktunya. tidak ada pula yang perlu disalahkan, meski perihal perpisahan, terkadang tidak semua orang mampu melakukannya dengan benar.
Aku yang mengizinkan hatiku untuk jatuh tanpa hati-hati. Aku yang sengaja menghidupi harapan yang seharusnya tidak perlu. Aku yang membiarkamu datang, memberi seluruh ruang, hingga lupa bahwa kamu pun bisa pergi begitu saja. Ya, pada akhirnya, semua itu menjadi tanggung jawabku.
aku sadar, usahaku tidak berarti apa-apa. harapanku akan menjadi harapan yang sia-sia, tetapi aku bisa apa di hadapan hati yang jatuh sedalam ini? aku gagal bahkan hanya untuk sekadar berpura-pura baik-baik saja.
sederhana saja: yang ditakdirkan datang, pasti akan datang. yang ditakdirkan pergi, pasti akan pergi. pada akhirnya, kita akan kembali menemukan diri sendiri lagi.