ustadz felix kok berani banget yak 🗿
lagi bahas maudy ayunda malah buat analogi yg lebih pinggir jurang
kata beliau
"kalau ustad abdul somad buat buku islam ala abdul somad orang2 gak protes"
"tapi kalau islam ala prabowo, mungkin orang akan protes, karna orang gak melihat dia pantas"
fix backingannya pusat ini mah.....🗿
ada ustadz lain yg seberani belio???
Lanjutan perihal jualan di Alun-alun kidul Jogja setelah viral
1. Uang yang diminta 2.5jt/hari itu dari asosiasi parkir karena pakai area parkir di alkid. Nego 1jt/hari x 5 hari jadi total 5jt dan udah dibayar
2. Uang makan preman 20rb x 10 preman x 5 hari total 6jt dan udah dibayar
3. Gak boleh pake listrik di area alkid jadi pake genset sendiri
4. Polisi tercinta gk mau dikasih uang karena termasuk gratifikasi. Tapi minta makan dan rokok. Pihak polisi 3 orang datang ke lokasi malam hari, tapi team foodtruck udah pulang jadi gak dikasih apapun.
5. Pihak paguyuban parkir ada itikad baik buat mengembalikan uang setelah viral, tapi pihak bolosego diminta ambil langsung ke lokasi. Endingnya sudah di transfer balik 3jt
6. Pihak polisi yang dateng ke foodtruck mencoba untuk mediasi ke asosiasi parkir perihal listrik, jadi gak semata-mata minta makan gratis.
Pihak bolosego/mbak dy sudah menganggap permasalahan ini selesai dan foodtruck sudah lanjut ke kota lain.
Seperti biasa, di konoha kalau gak viral gak akan berbenah.
Realita jualan di alun-alun kidul Jogja
1. Izin resmi dari keraton
2. Pungli parkir kendaraan 2.5jt/hari di nego 1jt/hari
3. kasih makan 10 orang preman
4. DISURUH KASIH MAKAN TIGA POLISI 🤡🚩
5. Mau pake listrik bayar lagi
Jogja loh wes umr kecil, banyak pungli 😤👎
For the “boom boom Tel Aviv” idiots:
The biggest mistake people make when looking at war is assuming the objective is to hit the enemy’s capital as quickly as possible. That’s political theater, not military strategy.
If you look at the strike map, Iran isn’t behaving like a country trying to maximize headlines but like a military attempting to shape the battlespace.
The targets are not random or insignificant. Iran is dismantling the entire American military ecosystem in the region:
Early warning radar sites.
Air defense systems.
Aviation facilities and hangars.
Logistics hubs.
Fuel and ammunition storage.
Forward operating bases.
CENTCOM support infrastructure.
Bases supporting operations in Syria and Iraq.
Naval and maritime surveillance assets.
Intelligence collection and communications nodes.
Look at jordan as an example. Most people couldn’t point to Tower 22 or Muwaffaq Salti Air Base on a map, yet they’re arguably more important militarily than firing a few missiles at downtown Tel Aviv.
Tower 22 supports operations at Al-Tanf. Muwaffaq Salti hosts American aircraft and coalition operations. Erbil supports intelligence and special operations. Bahrain hosts the U.S. Navy’s Fifth Fleet headquarters. Kuwait is a massive logistics and staging area. Qatar hosts the forward headquarters of CENTCOM and the largest U.S. air base in the Middle East. These are the eyes, ears, and connective tissue of American power projection in the region.
From a military perspective, you don’t begin by punching the strongest part of your opponent. You isolate him.
There are several principles of warfare being applied here:
1. Suppression of enemy support infrastructure.
2. Degradation of intelligence, surveillance, and reconnaissance capabilities.
3. Attrition of air defense and interceptor inventories.
4. Disruption of logistics and sustainment.
5. Political pressure on host nations.
6. Shaping the operational environment before attempting anything larger.
The United States does not fight Middle Eastern wars from Washington or even from aircraft carriers alone. It fights them from an interconnected network of bases stretching from Jordan to Qatar to Kuwait to Bahrain. If that network becomes degraded, every sortie, every intelligence feed, every resupply mission, and every interceptor launch becomes more difficult and more expensive.
People screaming “just bomb Tel Aviv” fundamentally misunderstand what modern warfare looks like. Destroying a radar site that enables coalition air operations can be militarily more valuable than causing superficial damage to a symbolic target.
There’s another aspect people are missing: INTERCEPTOR ECONOMICS.
Every Patriot interceptor fired costs millions of dollars. Air defense inventories are finite. Sustained operational tempo places enormous strain on maintenance crews, missile stockpiles, and logistics chains. If an adversary can force you to defend a dozen locations simultaneously, you’ve already begun winning the resource allocation battle.
Historically, successful military campaigns begin with degrading command-and-control, communications, air defenses, and logistics before moving to decisive operations.
Whether one agrees with Iran politically is irrelevant to the military analysis. What we’re witnessing is not random retaliation, it is a deliberate campaign aimed at systematically degrading the regional architecture that allows the United States and its allies to project military power across the Middle East.
Wars are won by destroying capabilities, not by chasing viral videos of missiles landing in capital cities and gay techno songs. The boring targets on a map are often the most important ones
Bakar Jerami: Subur Sesaat, Tagihannya Panjang
Sering lihat petani membakar jerami sisa panennya di sawah? Mengapa mereka melakukan itu?
Saya pernah bertanya (protes, tapi dalam hati) pada beberapa tetangga sawah yang melakukan itu. Jawabnya mengejutkan.
"Kalau habis dibakar, tanaman berikutnya tumbuh subur kok nyatanya. Kalau langsung dibajak malah kurang bagus tanamannya. Bisa asem-aseman".
Yang lain juga sama. Membenarkan. Loh? Kok bisa? Jangan2 dia benar, dan saya yang salah. Bagaimana ini?
Utas
#literasipertanian #unsurhara #kimiatanah #biologitanah #ekologi
The Iranian navy, which has been destroyed eight times, has apparently closed the Strait of Hormuz again, because the United States, for the seventh time, won the war that wasn’t a war, so now the United States has to open the Strait of Hormuz that was already open before the not-war began.
The not-war began because Iran had uranium that was totally, completely, beautifully obliterated, so they can’t build the nuclear bomb they weren’t building, which is why the United States had to start the not-war it definitely didn’t start.
Now the United States, which has nuclear weapons, is threatening to use nuclear weapons to stop Iran from getting nuclear weapons, because nuclear weapons are far too dangerous for countries with nuclear weapons to allow other countries to have.
If the United States saw the United States doing what the United States does in other countries, the United States would invade the United States to liberate the United States from the tyranny of the United States.
Sering ditanya pilih kelapa hijau atau kuning, dikiranya cuma beda warna casing doang. Padahal secara genetik dan biokimia, mereka berdua beda "kasta", Kawan
Sini-sini aku kaish funfactnyaa
Secara taksonomi pertanian, kelapa kuning di foto sebelah kiri (biasa disebut Kelapa Gading) itu masuk ras Genjah. Pohonnya cebol, genit karena super cepat berbuah (3-4 tahun sudah panen), tapi umurnya lebih pendek. Sedangkan kelapa hijau di sebelah kanan umumnya masuk ras Dalam. Pohonnya raksasa, lambat berbuah, tapi punya umur panjang bak tetua kampung yang bisa hidup sampai nyaris seabad.🤣🤣
Kalau bicara rasa...
Kelapa Hijau: Menang telak di volume air. Kadar isotoniknya (kalium, natrium, magnesium) sangat seimbang, menghasilkan rasa air yang clean, segar, dan ringan. Cocok buat rehidrasi pasca-olahraga.
Kelapa Kuning (Gading): Volume airnya lebih sedikit dan batoknya lebih kecil. TAPI, karena ruangnya sempit, konsentrasi senyawa gula alami (sukrosa, fruktosa, dan glukosa) di dalamnya menjadi jauh lebih padat. Makanya, kelapa kuning sering terasa lebih manis legit secara alami dibandingkan yang hijau.
MBG itu konsep awalnya melibatkan UMKM, sehingga terlihat sebagai program yang manfaatnya bisa menjangkau seluruh lini ekonomi masyarakat.
Misalnya masing-masing SPPG mengantongi tender penyediaan 1000 porsi senilai 12.000/porsi, maka pihak SPPG akan menunjuk warteg atau warnaspad di sekitarnya untuk mempersiapkan menu yang akan didistribusikan.
Namun sekali lagi, regulasi dibuat serumit mungkin oleh pemangku kebijakan, sehingga hanya kalangan tertentu yang bisa mendapatkan tender penyediaan MBG.
Orang-orang yang mendapatkan tender tentu bukan orang sembarangan, mereka bagian dari lingkaran kekuasaan. Insentif sebesar 6 juta/hari tidak membuat mereka puas. Bahkan seperti orang yang meminum air laut, semakin banyak minum maka semakin haus.
Semakin banyak porsi yang diamanatkan, maka semakin serakah dia dalam menanggok cuan. Alih-alih memberdayakan UMKM, mereka justru memilih belanja bahan baku di pusat grosir demi mendapatkan harga yang lebih murah. Semakin murah harga bahan baku yang diperoleh, maka semakin besar keuntungan yang bisa mereka raup. Tau sendiri kan siap pemilik pusat grosir..?? Yang pasti bukan tetangga kalian.
Dengan skema seperti itu, alhasil perputaran uang hanya terkonsentrasi pada kalangan elit politik dan pengusaha saja. Masyarakat hanya mendapatkan ampasnya saja, yakni menu makan siang untuk para siswa sekolah. Bagi anak-anak balita, jangan harap bisa mendapatkan ampas tersebut.
Itulah sebabnya Mimin pernah mendukung program MBG ini, dengan asumsi program tersebut akan menyentuh berbagai lini ekonomi masyarakat kecil. Namun sekali Mimin harus menelan kekecewaan, setelah menyaksikan betapa rakusnya para koruptor yang menggerogoti anggaran MBG ini.
Mulai saat itu Mimin meyakini, bahwa dalam waktu beberapa tahun kedepan negara ini akan mengalami krisis multidimensi, akibat penyalahgunaan anggaran yang nilainya mencapai ratusan triliun ini.
1. Barang siapa yang menyetubuhi istrinya pada malam Jum’at, maka anak akan menjadi penhafal kitab Allah
2. Barang siapa yang menyetubuhi istrinya pada malam sabtu, maka anak akan menjadi gila
3. Barang siapa yang menyetubuhi istrinya pada malam Ahad, maka anak akan menjadi seorang pencuri milik orang lain atau penganiaya.
4. Barang siapa yang menyetubuhi istrinya pada malam Senin, maka anak akan menjadi fakir atau miskin atau ridho dengan keputusan dan qodho’-nya Allah.
5. Barang siapa yang menyetubuhi istrinya pada malam Selasa, maka anak akan menjadi orang yang berbakti kepada orang tua.
6. Barang siapa yang menyetubuhi istrinya pada malam Rabu, maka anak akan cerdas atau berpengetahuan atau banyak bersyukur
7. Barang siapa yang menyetubuhi istrinya pada malam Kamis, maka anak akan menjadi orang yang berhati ikhlas
8. Barang siapa yang menyetubuhi istrinya sembari bercakap-cakap, maka anak akan bisu
9. Barang siapa yang menyetubuhi istrinya di dalam kegelapan, maka anak akan mejadi penyihir
10. Barang siapa yang menyetubuhi istrinya di bawah nyala lampu, maka anak akan berwajah tampan
11. Barang siapa yang menyetubuhi istrinya sambil melihat aurat istri, maka anak akan buta mata atau buta hatinya.
12. Barang siapa yang bersetubuh seraya meminta bekal untuk bepergian, mka anak akan menjadi pendusta
13. Barang siapa yang menyetubuhi istrinya di bawah pohon yang buahnya dapat dimakan, maka anak akan terbunuh dengan besi atau karena tenggelam atau karena keruntuhan pohon.
Ini bab tentang “Penjelasan bersenggama dan rahasia waktu-waktunya”
---
Dah lah, stres lama2, kitab ini harus dievaluasi tuntas oleh pemerintah & stakeholder. Yang mau baca2 silakan ke link berikut:
https://t.co/qNrSMjhzbQ
https://t.co/8PknRQKVIA
https://t.co/o590ziCOyq
https://t.co/tQt1Z8pvq3
https://t.co/k6B2tNxQc1
Skripsi:
https://t.co/M4vaT6WwvE
https://t.co/0WXSUdNUSX
Isi kitabnya:
https://t.co/BL0IoTBnhB
https://t.co/Y1tGjPOeJ3
That flower is a clone. Every red spider lily in the American South traces back to three bulbs a US Navy officer named William Roberts brought home from Japan in 1854. His sister-in-law planted them in North Carolina. They have been copying themselves ever since.
The Japanese version of this plant cannot make seeds. It only reproduces by making copies of itself underground. A bulb splits in two. Those two split into four. Over the years, one bulb becomes a whole patch of identical flowers. Every red spider lily in the American South is part of one giant, slow-motion copy machine that started with Roberts' three bulbs.
Roberts came home with them after a treaty opened Japan to American trade. He was a botany enthusiast and sailed with Commodore Matthew Perry. The bulbs sat quietly in the soil for years. They did not flower until the Civil War. Since then, they have been handed from one gardener to the next, one bulb at a time.
The bulb underground is poisonous. It carries a chemical called lycorine. A mouse that bites into it gets violently sick, and a big enough bite can kill it. The poison is why people grew the plant in the first place. Japanese farmers have been planting it around their rice fields and houses for over a thousand years because the bulbs keep rats and moles out of the grain. You are looking at natural pest control that has been running since before the printing press was invented.
The same bulb also carries a chemical called galantamine. Galantamine is the active ingredient in two FDA-approved drugs for Alzheimer's disease. The FDA approved the first one, Razadyne, in 2001. A follow-up called Zunveyl was approved in 2024. China has entire farms growing red spider lilies just to pull that chemical out and turn it into medicine. The same bulb that will kill a rat is the source of a molecule that helps an 80-year-old remember their grandchildren's names.
In the American South, these flowers almost always show up around old homesteads. Since the plant only spreads by bulbs splitting, a patch marks where somebody once lived and gardened. You might be looking at the last trace of a house that burned down in 1930, or a grandmother's flower bed from sixty years ago.
So leave it where it is. Don't dig up the bulb, and don't let pets chew the long green leaves that come up after the flower dies in the fall. When the next good rain hits, more will probably pop up out of nowhere, on bare stems with no leaves. That is the flower doing what it has done since the 1850s, one bulb at a time.
Rahasia dibalik Informasi NIK yang bisa membuat urusan negara tersusun dengan rapih.
16 Digit, dengan 6 informasi utama : AABBCC{DD}MMYYZZZZ
AA = Kode Provinsi
BB = Kode Kabupaten
CC = Kode Kecamatan
{DD} = Tanggal lahir
01-31 = Untuk laki-laki
41-71 = Untuk Perempuan
MM = Bulan lahir
YY = Tahun lahir
ZZZZ = Nomor urut kelahiran.
Kenapa harus dibuat detail perbedaan sedemikian mungkin, ini bertujuan untuk memudahkan sistem administrasi untuk menentukan siapa diri kita.
Izin saya menambahkan konteks biar diskusinya lebih tajam.
Kasus ini bukan cuma soal "jasa editing dihargai Rp 0." Itu memang bagian paling mencolok dan bikin emosi, tapi masalah strukturalnya lebih dalam. Amsal Christy Sitepu itu videografer yang bikin video profil untuk 20 desa di Kabupaten Karo, masing-masing Rp 30 juta. Videonya jadi, sudah tayang di YouTube, dan 20 kepala desa yang jadi saksi di persidangan bilang tidak ada masalah dengan pekerjaannya. Satu pun tidak ada yang komplain.
Yang bikin masalah adalah, auditor Inspektorat Karo menetapkan harga wajar cuma Rp 24,1 juta per video. Selisih Rp 5,9 juta dikali 20 desa, jadilah "kerugian negara" Rp 202 juta. Dan di dalam perhitungan RAB versi auditor itu, lima komponen pekerjaan kreatif, yaitu penciptaan ide/konsep, cutting, editing, dubbing, dan penggunaan mic/clip-on, semuanya dipatok Rp 0. Nol. Alasannya? Tidak ada kwitansi fisik pembelian dari pihak ketiga. Karena proses editing itu terjadi di kepala dan di depan layar komputer, bukan beli semen yang ada notanya.
Nah, ini yang perlu kita lihat lebih jernih. Logika auditor itu memang cacat, tapi cacatnya bukan karena orangnya bodoh. Cacatnya karena Standar Harga Satuan di hampir semua pemda di Indonesia memang tidak punya acuan untuk menghargai kerja kognitif. Pemda fasih menghitung harga semen per sak, aspal per ton, konsumsi rapat per orang.
Tapi tarif per jam kerja editor video? Biaya amortisasi lisensi software editing? Tidak ada pedomannya. Jadi ketika auditor dihadapkan pada komponen yang tidak bisa dibuktikan dengan nota belanja fisik, mereka ambil jalan paling "aman" secara birokrasi, yaitu menolkannya, daripada dianggap subjektif oleh BPK di atasnya nanti.
Tapi bukan berarti itu bisa dibenarkan Yah.
Menolkan nilai editing sama saja bilang bahwa raw video bisa langsung jadi video koheren tanpa campur tangan manusia.
Menolkan ide kreatif sama saja bilang storyboard, konsep visual, dan narasi itu muncul dari udara kosong. Ini penyangkalan total terhadap kekayaan intelektual.
Dan ada masalah hukum yang mungkin luput dari perhatian publik. Amsal didakwa pakai Pasal 3 UU Tipikor, yang intinya soal "menyalahgunakan kewenangan karena jabatan." Masalahnya, Amsal itu vendor swasta. Dia tidak pegang jabatan di pemerintahan, tidak punya akses untuk mencairkan dana APBDes, tidak punya wewenang administratif apa pun.
Yang punya wewenang otorisasi pencairan dana itu justru kepala desa. Tapi 20 kepala desa itu cuma dijadikan saksi, bukan tersangka. Yang ditahan justru penyedia jasanya. Agak aneh kalau dipikir, ya.
Saya nggak bilang Amsal pasti benar seratus persen. Bisa saja ada selisih harga yang perlu dipertanyakan.
Tapi kalau memang ada kelebihan bayar, mekanisme koreksinya seharusnya lewat jalur administrasi atau perdata, bukan langsung dilompati jadi pidana korupsi. Apalagi dengan nominal yang kalau dipecah per desa cuma selisih kurang dari Rp 6 juta.
Besok, 30 Maret, Komisi III DPR akan gelar RDPU soal kasus ini. Dan vonis dijadwalkan 1 April. Semoga majelis hakim punya keberanian untuk melihat bahwa ada yang salah dengan cara kita menghargai kerja kreatif di negara ini.
Karena kalau preseden ini dibiarkan, siapa yang berani ambil proyek pemerintah lagi?
Ini perspektif saya yah, bisa jadi ada sudut yang belum saya lihat.
Generalisasi bahwa Belanda datang ke Nusantara dengan motivasi 3G (Gold, Glory, Gospel) sering kali muncul dalam buku teks sejarah di sekilah dasar.
Jika dibedah lebih lanjut, motivasi Belanda khususnya pada era VOC (Vereenigde Oost-Indische Compagnie) sangat berbeda dengan bangsa Portugis atau Spanyol.
Motivasi 3G TIDAK TEPAT jika ditekankan sebagai motivasi UTAMA Belanda.
1. Dominasi "Gold" di Atas Segalanya
Motivasi utama Belanda adalah keuntungan ekonomi murni. VOC bukanlah lembaga negara, melainkan persekutuan dagang (perusahaan multinasional pertama di dunia). Belanda datang ke Nusantara untuk mematahkan monopoli Portugis dan Spanyol demi mendapatkan rempah-rempah dengan harga murah. Segala tindakan VOC diukur berdasarkan untung-rugi. Perang, pembangunan benteng, hingga diplomasi dengan sultan-sultan lokal dilakukan semata-mata untuk mengamankan jalur distribusi "Emas Hitam" (lada, cengkih, pala).
2. Pengabaian "Gospel" demi Stabilitas Bisnis
Poin ini paling membedakan antara Belanda dengan Portugis. Belanda (yang mayoritas beragama Protestan) cenderung sekuler dalam menjalankan bisnisnya di Asia. VOC sering kali melarang misionaris Kristen masuk ke wilayah-wilayah yang sudah memiliki pengaruh Islam kuat (seperti Jawa atau wilayah kesultanan besar) karena penyebaran agama dianggap bisa memicu pemberontakan yang akan merusak stabilitas perdagangan dan menambah biaya militer. Jika Portugis mewajibkan penyebaran Katolik di setiap wilayah taklukannya, Belanda justru memilih menjalin hubungan dagang yang "tenang" tanpa mencampuri urusan keyakinan penduduk lokal.
3. "Glory" yang Bersifat Korporat, Bukan Imperial
Spanyol dan Portugal memandang Glory berarti kemuliaan raja dan perluasan wilayah kekaisaran. Sedangkan bagi Belanda, kejayaan diukur dari dividen pemegang saham dan penguasaan rute laut. VOC baru menguasai wilayah secara administratif (menjadi penjajah dalam arti luas/teritorial) setelah mereka terpaksa melakukannya untuk mengamankan monopoli, bukan karena ambisi awal untuk membangun kekaisaran besar di Asia.
Istilah 3G terlalu digeneralisasikan sebagai motivasi penjajah di Indonesia karena beberapa alasan:
1. Simplifikasi Kurikulum: Motivasi 3G digunakan sebagai framework sederhana untuk menjelaskan periode "Kolonialisme Kuno" secara umum. Memisahkan motivasi tiap negara dianggap terlalu kompleks untuk level pendidikan dasar
2. Warisan Portugis yang Melekat: Karena Portugis adalah bangsa Eropa pertama yang tiba di Maluku dengan membawa 3G secara utuh, semboyan ini kemudian "menempel" pada semua bangsa Barat yang datang setelahnya dalam ingatan kolektif sejarah
3. Nasionalisme Sejarah: Sering kali semua penjajah digambarkan memiliki karakteristik yang sama untuk membangun narasi perjuangan kemerdekaan: serakah (Gold), haus kuasa (Glory), dan ingin mengubah keyakinan (Gospel), guna memperkuat urgensi perlawanan rakyat.