@sinau2024 jujur aja saya secara pribadi gak setuju memakai koefisien sebagai tolak ukur kualitas sebuah liga. percuma koefisien tinggi tapi mayoritas klub masih suka tunggak gaji,kualitas infrastruktur ala kadarnya dan jumlah pemain Asing lebih banyak dibanding Akamsi.
@saludosparatii@RayhanArdhi wkwkwkw,
Sebenernya sama kek kasus Indonesia di Pildun U20 2023.
Branding commercial nya ttep dari Indonesia walaupun tuan rumahnya pindah ke Argentina
@saludosparatii Sama kek kasus Cina di Piala Asia 2023,
tuan rumah Piala Asia gak jadi, tapi karena Cina jg lolos ke Round 3 WCQ 2022, Cina ttep berhak lolos Piala Asia
@saludosparatii@zalkad Golkar di Kalimantan kuat di Kalsel sama Kaltim,
Kalbar-teng PDIP, walaupun Golkar mepet² jg, seengganya bertahan di torehan runner up
@KingCharles_DK@profesorkogoro Bukan krn dekat Manado/Sulut,
Tapi krn PDIP sana sempat dimotori sama trah Wartabone (warlok sana mgkn paham siapa figur yang saya mksd)
@benchpigeon IMO klo kepentingannya untuk sepakbola negaranya secara keseluruhan, positifnya Aussie ini gudang talentanya banyak. pemain2 lokal lebih cepet regen karena bagus dikit aj udah langsung abroad.
Tapi minus nya ya soal promosi dan degradasi ini
@SaptonoRagil@kokobuncis What if Pram dua periode di Jakarta,
Rano Karno udah gak bisa lanjut jd Cawagubnya,
karena periode pertama sebagai Wagub udah dihitung pas jd Wagub Banten
@Iqbal4x6t@saludosparatii imbas "invasi" pemain asing mereka, klo gak karena intervensi gak tertulis dari klub nya, semakin banyak lg pemain lokal Saudi yang gak dapat menit main
@Iqbal4x6t@saludosparatii Justru skrg sepakbola mereka klo bicara timnas ada di "lampu kuning",
Selain Mancini, mau siapa lg yang ngeluh soal kondisi pemain timnas Saudi?
@ekuzpratamax@hgusfani@IndosFC Harga yang dibayar si,
fokus ke grassroot + timnas, ya lihatlah Aussie
Tapi fokusnya ke "liga bagus" tapi bagusnya cuma bagus secara materi, lihatlah liga Saudi