Fardhu kifayah itu artinya kewajibannya tetap dilakukan.
Bukan berarti cuek bebek. Misalnya shalat jamaah di masjid bagi laki-laki. Kalau di daerah itu laki-lakinya gak ada yang jamaah, ya semuanya kena dosa. Atau misalnya ada yang meninggal, tapi gak ada yang mau mulasara jenazah di daerah tersebut ya semua warganya kena dosa.
Makanya laki-laki yang malas jamaah di masjid itu ya berutang budi kepada laki-laki yang istikamah jamaah di masjid.
Ini Yik Amang, santri Gus Baha.
Selamat datang ke "Animal Farm"
Ketika kenyataan sulit dibantah, maka bahasanya yang diubah. Jembatan yang rusak saat baru diresmikan direduksi menjadi โsling terlepasโ, sementara struktur utama disebut tetap pada tempatnya. Seolah-olah yang bermasalah bukan jembatannya, melainkan cara publik melihat peristiwa.
Lebih absurd, penyebabnya diarahkan pada warga yang โterlalu antusiasโ karena lebih dari 50 orang melintas. Padahal itu terjadi dalam rangkaian seremoni peresmian.
Inilah logika Orwellian, kegagalan diubah menjadi โinsidenโ, tanggung jawab menjadi โketidakpatuhan wargaโ, dan fakta jembatan rusak saat peresmian menjadi permainan definisi.
Pengibaran foto presiden di HUT RI ini gak relevan dengan perayaan.
Ini bukan ultah presiden.
Ini bukan ultah presiden.
Praktik2 pengkultusan pemimpin gini umum di negara otoriter.
Emangnya sekarang kita udah masuk era Era otoritarian?
Tolong Pelayanan Publik, khuSUsnya Perpanjangan SIM dan STNK buka di hari Sabtu-Minggu!
Masak kita harus ngajuin cuti atau potong gaji dari kantor cuma demi bayar pajak ke Negara?
Sementara Pegawai yang gajinya dari Pajak kita Sabtu/Minggu malah libur!
Kimbek lahโฆ
Saya akan kembali ke Postingan ini 2 tahun lagi.
- Banyak koperasi tidak sanggup membayar gaji manajer.
- Manajer profesional mundur, digantikan pengurus seadanya atau orang titipan.
- Dana Desa/APBD mulai dipakai menutup gaji, operasional, dan cicilan.
- Subsidi APBN diperpanjang atau diganti nama agar program tidak terlihat gagal.
- Koperasi tetap tercatat aktif, tetapi transaksi minim dan stok terbatas.
- Bank mulai mengeluh kredit macet meningkat.
Ada satu masa saya menjalani ritual memutar video Yt ngaji filsafat pak Faiz menjelang tidur. Ada yang sama?
Saya mungkin kurang peduli dengan apa materinya, yang jelas suara empuknya membuat saya seperti didongengi oleh seseorang yang sangat dekat, dg sepenuh rasa sayang.
Ya benar, di tangan pak Faiz, filsafat menjelma dongeng pengantar tidur yang pas.
Hingga setengah sadar saya bisa membayangkan Nietzsche berbagi anggur dengan Rumi, atau Hypatia bermain pedang dengan Tsun Zu, atau Sostrokartono berjualan teh botol, atau terserahlah.
Mendengarnya, filsafat jadi tidak terasa berat. Mungkin karena ya saya mendengar dongeng, bukan berfilsafat. Lagipula, buat apa menjelang tidur harus berfilsafat di tengah hidup yang berat?
Maka, mendengar suara pak Faiz seperti seperti mengajak berjalan menyusuri lorong2 gelap pikiran saya. Mengajak saya mencebur telaga setelah jiwa saya berdebu seharian. Lalu menemani kembali memasuki goa ketidaksadaran. Dan esoknya, saya bangun sudah dalam kondisi segar kembali.
Kini, sesekali saya mendengarkannya lagi, terutama di malam2 paling membuat saya tertekan, atau sangat gelisah susah tidur. Biasalah, kegelisahan khas WNI.
Bedanya, kali ini tak mesti berhasil membuat saya tidur lelap seperti dulu. Mungkin saya butuh bukan sekedar dongeng yang menenangkan.
Mungkin saja saya disuruh benar2 bertapa ke goa, laiknya Nabi dulu di goa Hira. Atau, mungkin ke alam bebas, melihat langit luas dengan hamparan peta angkasa.
Ya mungkin saja. Atau mungkin ketemu pak Faiz saja, sowan ke rumahnya, lalu menyeruput kopinya.
Ada yang mau kesana juga?