kasus Nadiem ini memicu beragam opini di masyarakat. Hanya yg saya soroti janggal banget kalo pihak yg diduga nerima aja yg diseret. Google gimana pak Jaksa, beranikah.. ❓
Sumur Antum Mengawali 2026 Kejagung Linkedin Kuat Ineffa Januari 2026
Ganti narasi NEGARA HADIR / Pejabat hadir dengan hadirkan di lokasi bencana Nasi padang, Roti selai, dunkin donut, mc donald, roti marie, susu, air minum, lilin, selimut, starlink dll. Hal2 diatas yg lebih ditunggu oleh masyarakat disana; Bukan Negara/ pejabat hadir !!!!
Perjuangan Pak Budi dan Bu Siti adalah perjuangan kita semua. Perlawanan ini harus didukung, agar tidak ada lagi yang menjadi korban. Agar keadilan tidak lagi dilelang dengan harga yang terlalu murah.
Mafia Lelang KPR
Oleh ET Hadi Saputra 04-09-2025
Saya mendapat cerita dari seorang kolega pengacara. Bukan kasus biasa, katanya. Ini kasus perlawanan orang kecil melawan sebuah sindikat yang rapi. Saya menyebutnya "mafia lelang".
Dulu, ada sepasang suami istri pekerja, sebut saja Pak Budi dan Bu Siti. Mereka punya rumah di Jakarta Timur, dengan cicilan KPR di sebuah bank plat merah, sebut saja Bank BRI. Rumah itu adalah surga mereka. Nilai pasar wajarnya di kisaran Rp 2 miliar. Beli dengan uang muka Rp 211 juta, sisanya KPR Rp 1,2 miliar.
Semua berjalan baik sampai badai pandemi datang. Bisnis Pak Budi kolaps. Penghasilan terpangkas. Cicilan pun tersendat.
Saat itulah, naluri Pak Budi menyuruhnya untuk berjuang. Ia tahu ada aturan dari OJK yang memberi kelonggaran restrukturisasi. Berkali-kali ia mendatangi Bank Merah. Memohon, meminta keringanan, dan menunjukkan itikad baiknya.
Namun, bank itu seolah sudah punya rencana lain. Semua pintu negosiasi ditutup rapat. Janji ketemu diundur undur sampai melewati tenggat. Pimpinan cabangnya, selalu sibuk. Permohonan ketemu Pak Budi diabaikan, semua dicuekin termasuk surat yang berulang kali dikirim.
Tepat saat Pak Budi dan Bu Siti terpojok, skenario itu dimulai.
Lelang pun diadakan. Harga limitnya bukan Rp 1,4 miliar, bukan Rp 1,2 miliar, tapi hanya Rp 690 juta. Jauh sekali di bawah nilai pasar.
Siapa yang diuntungkan dari harga semurah itu?
Seorang pembeli, yang saya sebut Tuan B. Ia memenangkan lelang dengan harga Rp 725,5 juta. Sebuah "hadiah" yang sangat manis.
Prosesnya sangat cepat. Sertifikat rumah langsung dibalik nama. Tuan B, tanpa basa-basi, langsung mengajukan permohonan pengosongan rumah.
Tentu saja Pak Budi dan Bu Siti tak tinggal diam. Mereka menggandeng pengacara yang punya nyali, sebut saja Pengacara P. dan timnya.
Mereka melihat semua kejanggalan itu bukan kebetulan. Ini adalah rangkaian peristiwa yang terstruktur, yang tujuannya hanya satu: merampas aset dengan cara yang "legal".
Di pengadilan, mereka melawan. Mereka menyebutnya perlawanan terhadap eksekusi lelang.
Mereka mengungkap bagaimana Bank BRI sengaja menciptakan wanprestasi. Bagaimana nilai limit lelang dimanipulasi agar harganya murah. Bagaimana risalah lelang itu punya dua versi tanggal yang berbeda.
Lalu, siapa Tuan B? "Pembeli yang beritikad baik pasti akan datang melihat rumahnya dulu. Tapi Tuan B tidak. Dia hanya tahu di atas kertas, lalu terburu-buru mengosongkan."
Mereka juga menyeret dua lembaga pemerintah: Kantor Lelang dan Kantor Pertanahan. Kedua lembaga ini, dalam pembelaannya, mengatakan bahwa mereka hanya menjalankan prosedur. Hanya mengurus dokumen.
"Bagaimana mungkin sebuah lembaga bisa menjalankan prosedur yang cacat? Bagaimana mungkin sebuah risalah lelang yang isinya tidak konsisten bisa dianggap sah?"
Kasus ini masih berjalan. Tapi, bagi saya, ini sudah membuktikan sesuatu. Bahwa "mafia lelang" itu nyata.
Mereka punya komplotan yang rapi. Bank yang menutup pintu, penilai yang membuat harga rendah, pembeli yang siap menampung, dan lembaga pemerintah yang memproses tanpa bertanya.
Semua orang dalam komplotan itu punya peran masing-masing. Mereka menunggu saat yang tepat untuk mencaplok aset-aset berharga.
Perjuangan Pak Budi dan Bu Siti adalah perjuangan kita semua. Perlawanan ini harus didukung, agar tidak ada lagi yang menjadi korban. Agar keadilan tidak lagi dilelang dengan harga yang terlalu murah.
Agnez Mo sings ‘Ibu Pertiwi’ & ‘Indonesia Pusaka’ in new Instagram post:
“Do not allow yourselves to be provoked. Do not allow yourselves to be manipulated. We are wiser. We are stronger. We are no longer the Indonesia of 1998.”
Ketika rakyat mendukung @jokowi utk mengambil sikap mandiri dan lepas dari tekanan Amerika pada KTT G20 nanti,mendadak rencana demonstrasi turunkan Jokowi merebak.Apakah demo 11 April lusa ada hubungannya dgn Amerika?
HANYA TUHAN, KADRUN & MAHASEWA YG TAHU
#SayaBersamaJokowi
Imperial March from STAR WARS
(Johm Williams)
TWILITE ORCHESTRA
Conducted by Addie MS
From Tribute to John Williams concert.
@ The Aula Simfonia Jakarta
Sound: Aryo S. (Artsound)
Video: Piet Kalalo S. (P Production)
#starwars#johnwilliams
Lebih setahun dunia dicengkeram pandemi global Covid-19, lebih setahun pula Indonesia berjuang membendung segala dampaknya.
Hari ini, dengan semangat Budi Utomo, kita bergotong-royong untuk bangkit dan menang melawan pandemi, dan bersama-sama melangkah menuju Indonesia maju.
Kebijakan pembatasan kegiatan masyarakat di tengah pandemi sudah berjalan hampir sebulan. Hasilnya belum sejalan dengan yang kita inginkan.
Kebijakan ini masih perlu sikap yang lebih tegas dan konsisten dari petugas, serta kedisiplinan masyarakat mematuhi protokol kesehatan.