A woman on my flight yesterday switched seats with her husband because their toddler wouldn’t stop crying.
The second she sat down alone, she closed her eyes for maybe 30 seconds.
Just resting.
Not sleeping.
When the husband walked past with the kid later, he laughed and said loudly,
“Must be nice to finally get a break from doing nothing.”
A few people chuckled.
She laughed too.
But something about it felt off because for the entire flight she had been:
holding the baby,
packing snacks,
cleaning spills,
walking him down the aisle,
missing her own meal trying to calm him down…
while the husband watched a movie with headphones on.
And honestly I think that’s why so many women are exhausted.
Not because they’re doing everything alone.
But because they’re doing everything while someone else calls it “nothing.”
Itu Chef Juna asumsi semua staf dia punya istri di rumah.
Bagaimana single parent?
Bagaimana yang istrinya juga kerja?
Bagaimana yang anaknya sakit parah dan butuh dua orang tua?
Satu kalimat itu sudah cukup buktikan dia tidak kenal kondisi nyata staf dia sendiri.
Itu bukan standar tinggi , itu standar yang dibangun di atas asumsi privilege.🙂
Dia Memastikan stafnya merasakan neraka saat masuk kerja lagi.
Dia sendiri yang bilang ini dengan bangga.
Di industri manapun itu namanya hostile work environment, bukan standar profesional.
Gordon Ramsay teriak2 di TV tapi di dapur nyatanya dia bangun tim yang loyal bertahun2.
Dia bangga bikin staf dia trauma , itu bukan kepemimpinan, itu insecurity yang dikasih jabatan.🙂
Standar tinggi itu valid jangan salah, tapi standar tinggi tidak butuh trauma sebagai alat.
Militer paling elite di dunia pun sekarang sudah tinggalkan model 'bikin orang menderita biar kuat' karena terbukti kontraproduktif , turnover tinggi, mental health buruk, performa jangka panjang turun.
Dapur bintang Michelin terbaik dunia sekarang justru bangun psychological safety.
Chef Juna masih pakai manual 1990🙂
Profesor Herawati Sudoyo, Pahlawan Bom Bali yang "dikalahkan" oleh tembok birokrasi negara sendiri. Lo bayangin, kepolisian dunia aja hormat sama beliau karena sukses bongkar identitas pelaku Bom Bali cuma dari serpihan DNA. Tapi pas di negaranya sendiri, nasib beliau dan timnya malah berakhir ngenes gara-gara urusan administratif.
Namanya Prof. Herawati Sudoyo, salah satu otak paling cerdas di Lembaga Eijkman. Pas kejadian Bom Bali 2002, beliau dan timnya kerja gila-gilaan buat identifikasi pelaku lewat sisa-sisa DNA di lokasi ledakan. Berkat beliau, kasus-kasus terorisme besar bisa terungkap secara ilmiah.
Di tangan beliau, Lembaga Eijkman jadi markas riset genetika paling bergengsi di dunia. Bukan kaleng-kaleng, ilmuwan luar negeri aja segan sama riset mereka. Tapi ya gitu, musuh terberat orang pinter di sini bukan virus, tapi birokrasi.
Plot twist paling pahitnya terjadi awal 2022. Lembaga bersejarah ini dibubarin dan dilebur secara paksa ke instansi riset baru. Alhasil? Ratusan ilmuwan dan peneliti elit dipecat massal dalam semalam cuma karena mereka bukan PNS.
Bayangin, orang-orang yang udah ngabdi puluhan tahun demi kemajuan sains Indonesia, disuruh angkat kaki cuma karena masalah dokumen status pegawai. Dr. Herawati dan timnya harus ninggalin laboratorium tempat mereka nyetak sejarah internasional.
Ini jadi bukti nyata kalau di sini, "surat sakti" birokrasi kadang lebih berkuasa daripada otak jenius yang diakuin dunia. Padahal kita butuh lebih banyak orang kayak mereka, bukan malah bikin mereka "patah hati" sama negaranya sendiri.
Respek buat Prof. Herawati dan para ilmuwan Eijkman. Mereka udah kasih yang terbaik buat Indonesia, meskipun akhirnya harus "menelan luka" gara-gara sistem yang kaku. Pahlawan sains yang sebenernya.🫡✨
Gak habis pikir sama taktik gila founder Canva dulu. Demi dapet modal bisnis, dia nekat latihan selancar berbulan-bulan sampe babak belur cuma buat ngejar investor yang lagi liburan di pantai.
Nama ceweknya Melanie Perkins. Dulu pas masih kuliah di Australia, dia punya mimpi bikin platform desain yang gampang banget dipake semua orang. Pas dia nyari modal ke San Francisco, dia malah diketawain dan ditolak sama 100 lebih investor di sana karena idenya dianggap konyol.
Tapi bukannya nangis terus pulang kampung, si Melanie ini malah muter otak pake strategi gila yang gak masuk akal sehat. Dia denger info kalo ada investor raksasa yang lagi dia incar tuh hobinya main kitesurfing (selancar layang).
Karena dia gak punya akses buat ketemu di kantor, dia nekat latihan olahraga ekstrem itu berbulan-bulan sampe badannya babak belur dihantam ombak. Tujuan utamanya cuma satu, biar bisa ikutan nyebur ke laut dan dapet celah waktu buat presentasi pas si bos lagi istirahat di pinggir pantai.
Bener-bener taktik nyari modal paling ekstrem. Tapi gila, dedikasi nekatnya itu berhasil ngeluluhin hati para investor. Tahun 2013 Canva resmi rilis, dan sekarang malah sukses jadi aplikasi raksasa bernilai ratusan triliun.
Jadi buat lu yang tiap hari pake Canva buat bikin tugas atau revisi desain kerjaan, sungkem dulu sama kegigihan mbak Melanie yang ampir kelep di laut demi lu semua.
Izin menambahkan informasi.
Seorang ayah yang merokok sebelum punya anak dapat meningkatkan risiko kesehatan anak melalui kerusakan DNA pada spermanya.
Zat kimia dalam rokok, seperti nikotin, tar, dan karsinogen lainnya, dapat menyebabkan mutasi genetik yang diturunkan ke anak, meskipun ibu-nya tidak merokok.
Peningkatan kanker darah naik 3-4 kali lipat pada anak dengan seorang ayah yang merokok. Selain itu, risiko terjadinya kelainan jantung bawaan juga lebih tinggi pada anak dengan ayah seorang perokok.
Jadi pilih "makin ganteng" atau "anak lebih sehat"?
Semoga bermanfaat.
Sumber:
Liu (2011). Paternal Smoking and Risk of Childhood Acute Lymphoblastic Leukemia: Systematic Review and Meta-Analysis.
Saya ada cerita seorang bapak.
Dia kerja 20 tahun buat biayain anaknya kuliah S1.
Lembur.
Utang.
Sampai jual tanah warisan.
Anaknya lulus. IPK bagus.
Wisuda lengkap dengan toga.
Sekarang anaknya kerja serabutan. Gaji di bawah UMR.
Dan si bapak masih senyum bilang,
"Mungkin belum rezekinya."
Yang bikin saya merenung bukan cerita anaknya.
Tapi cerita si bapak.
Dia lahir tahun 70-an.
Gak tamat SMA pun bisa buka toko,
punya rumah,
besarin anak dengan layak.
Logikanya simpel dan masuk akal:
"Dulu gw gak sekolah tinggi aja bisa. Kalau anak gw kuliah,
hidupnya pasti jauh lebih baik dari bapaknya."
Logika itu benar. Di zamannya.
Masalahnya bukan orang tua yang salah didik.
Bukan juga anaknya yang kurang usaha.
Tapi janji yang mereka pegang sudah kedaluwarsa.
Ijazah dulu adalah tiket.
Sekarang ijazah adalah syarat minimum.
Yang bahkan kadang pun masih belum cukup.
Dua hal yang kelihatannya sama, tapi sebetulnya beda jauh.
Bayangin ya.
Tahun 1995,
fresh graduate langsung diperebutkan perusahaan.
Sekarang,
lowongan entry level minta pengalaman 2 tahun,
skill digital, bisa multitasking, dan siap ditempatkan di mana saja.
Gajinya?
UMR aja belum tentu.
Hampir sama kalau dikonversi ke harga waktu itu.
Tapi harga rumah, kontrakan, dan beras sudah tidak ikut berdiam di angka yang sama.
Generasi 90-an pasti hafal nasihat ini:
"Rajin sekolah, biar dapat kerja bagus."
"Kuliah dulu, baru enak hidupnya."
"Investasi terbaik itu pendidikan."
Nasihat itu bukan bohong.
Di zamannya, itu benar dan terbukti.
Tapi zamannya sudah ganti.
Nasihatnya tidak ikut ganti.
Dan anak-anak kita tumbuh sambil pegang peta zaman dulu
yang sudah tidak cocok sama jalanan yang mereka hadapi sekarang.
Saya pernah ngobrol panjang sama seorang teman.
Dia cerita,
"Bokap gw sampai jual motor buat bayar UKT semester terakhir gw."
Saya tanya, "Sekarang kerjanya apa?"
"Freelance desain. Kadang ada job, kadang enggak."
"Bokap lu tau?"
"Tau. Dia bilang sabar, rezeki ada aja. Tapi gw liat matanya... dia bingung."
Si bapak bingung bukan karena anaknya gagal.
Tapi karena cara yang dulu berhasil sekarang tidak lagi bekerja.
Dan dia tidak punya peta baru untuk dikasih ke anaknya.
Kalau anakmu masih sekolah atau mau kuliah,
jangan cuma pikirin jurusannya.
Tapi ajarin juga:
1. Ajarin dia cara kerja uang sejak kecil.
2. Bekali satu skill konkret yang bisa langsung menghasilkan.
Sebelum dia lulus dan bingung mau mulai dari mana.
3. Kasih ruang buat gagal kecil sekarang.
Biar dia gak gagal besar pertama kali justru di dunia nyata.
4. Jangan cuma bekali ijazah. Bekali juga kemampuan bertahan.
Bukan berarti kuliah tidak penting. Tapi kuliah saja sudah tidak cukup.
Soalnya begini.
Orang tua yang paling menyiapkan anaknya bukan yang paling banyak bayar biaya kuliah.
Tapi yang paling jujur bisa ngomong ke anaknya:
"Dunia yang kamu masuki berbeda dari dunia yang Ayah dan Ibu kenal.
Kita harus cari tau bareng-bareng."
Kejujuran itu lebih berharga dari SPP mana pun.
Dan seperti biasa, selalu ada dua kubu.
Kubu pertama bilang,
"Orang tua salah. Harusnya ajarin skill, bukan kejar gelar."
Kubu kedua bilang,
"Orang tua sudah benar. Anaknya yang kurang mau usaha."
Tapi ada kemungkinan ketiga yang jarang ada yang mau nyebut:
Dua-duanya sudah berusaha sebaik yang mereka bisa dengan informasi yang mereka punya.
Tapi sistemnya yang tidak pernah jujur ke keduanya.
Generasi kita mungkin adalah generasi pertama yang hidupnya lebih susah dari orang tuanya.
Bukan karena malas. Bukan karena manja.
Tapi karena peta yang diajarkan ternyata sudah tidak relevan saat mereka datang.
Dan orang tua mereka masih dengan tulus menunjuk ke peta yang didapat dulu.
Teman2 dari Indonesia, mohon bantuannya. Aku sedang meneliti seseorang yang membuat patung palsu dari sekitar tahun 1850. Dalam arsip2 kolonial, da dikenal sebagai ‘Mas Bei Kerto-Widjojo’. Apakah ada yang mengetahui lebih lanjut tentang orang ini?
Teman2 dari Indonesia, mohon bantuannya. Aku sedang meneliti seseorang yang membuat patung palsu dari sekitar tahun 1850. Dalam arsip2 kolonial, da dikenal sebagai ‘Mas Bei Kerto-Widjojo’. Apakah ada yang mengetahui lebih lanjut tentang orang ini?
Seorang anak meninggal dunia karena sepatu yang kesempitin karena orang tua gak mampu beli sepatu baru
Awal kasus Mandala ini orang berbondong-bondong nyalahin pemerintah, sistem pendidikan dan negara. Kalau aku langsung salfok, “Ini emaknya gimanaaa sihh?”
Soalnya ini ‘cuma’ perkara sepatu kesempitan. Sepatu sang anak, Mandala, harusnya ukuran 43-44, tapi terpaksa harus pakai sepatu ukuran 40 karena gak punya uang untuk beli.
Emangnya harga sepatu berapa sihhh? Sepatu harga 35k aja adaaa.. yang penting ukurannya pas dulu.
Masalahnya jari kaki Mandala udah ketekuk, bengkak, sering ngeluh sakit, badannya aja udah kurus bangett..
dan gejala makin parah ini udah ada selama 40 hari sebelum akhirnya dia dibawa ke RS dan meninggal dunia..
Gak bisa banget beli sepatu 35k dulu? Atau sepatu bekas juga banyak harga 50k (ini udah bagus bgt), atau opsi terakhir gunakan mulut kita buat ngomong ke teman dan kenalan, “Apakah punya sepatu yang udah gak kepakai buat anak saya?”
Karena di Indonesia kalau urusan anak sekolah banyak orang masih peduli dan mau bantu koook.. tapi ya ceritaaa. Orang orang gak mungkin otomatis tahu kondisi kitaa..
Dan Ibunya saat ngomong di media narasinya jelas mojokin sekolah, ketua RT, dan negara. Gak ada uang beli sepatu, gak ada uang beli kain kafan, disuruh RT usaha cari uang buat pemakaman, dll..
Padahal ternyata Ibunya juga punya suami, Bapak sambung Mandala. Ibu Mandala juga bilang bahwa Mandala makin parah itu setelah magang dari sekolah karena magang itu dia harus berdiri lama. Ya tapi sebenarnya itu udah trigger dari pembiaran yang Ibu lakukan bertahun tahun thd anak Ibuuu.
Jadi menurutku sepatu sempit memang memperparah kondisi, tapi bukan satu-satunya penyebab. Ini udah akumulasi dari kondisi tubuh yang lemah, kemungkinan infeksi, dan keterlambatan penanganan.
Butuh waktu lama lohhh dari ukuran 40 ke 43-44 itu.
Pihak sekolah sampai klarifikasi yang intinya selama ini mereka bantu seragam, zakat, sembako, uang tunai, bantuan pengobatan, bantu pengaktifan BPJS (akhirnya dilunaskan juga 2,4 juta tunggakannya oleh sekolah), jenguk ke rumah, sampai akhirnya ikut bantu urus jenazah juga.
Waktu ibunya datang minta bantuan pengobatan, sekolah kasih bantuan sekitar 1,1 juta dan nyaranin dibawa ke rumah sakit.
Tapi ternyata uang itu malah dipakai dulu buat kebutuhan rumah tangga karena setelah Ibunya tanya Mandala, kata Mandala dia masih bisa tahan.
Sama halnya saat Ibunya nanya mau belikan sepatu, kata Mandala gak usah dulu, mending buat kebutuhan rumah dulu aja. Ya ngapain ditanya sih Buuu.. langsung aja belikan sepatu, langsung aja bawa berobat Buu..
Terus bantuan berikutnya datang lagi, tapi malah dipakai buat pengobatan alternatif, kakinya disiram, dibaca-bacain, trus dioles FreshCare, bukan ke RS..
RT setempat juga bilang keluarga Mandala warga baru dan belum terlalu terlibat di lingkungan. Dan orang juga harus realistis, ini tinggal di kota,
bukan di kampung yang semuanya bisa full gotong royong tanpa biaya. Ketua RT ternyata tetap bantu cari ambulans, kain kafan, tenda, orang buat mandiin jenazah. Tapi tentu gak semua bisa ditanggung sendiri.
Semoga gak terulang ke saudara Mandala yang lain ya Bu. Beristirahatlah dengan tenang, anak baik dan soleh, Mandala
cc:Faradila
@0xhanyfa Sebaliknya juga gitu. Mungkin temen kita juga jadi tahu kita kyk gimana. Bisa aja tanpa sadar ada sifat kita yg bikin dia gak sreg. Kyknya intinya gimana kita handle perbedaan pas traveling.
gue suka banget kalimat ini:
“Orang yang gak terbiasa komunikasi sehat, tiap masukan kerasa kayak sindiran.
Orang yang kurang tanggung jawab, tiap kritik kerasa kayak disudutkan.”
Ego itu harus dikontrol, bukan diturutin.
Karena kalau ego yang selalu pegang kendali, semua hal bakal diputer jadi soal harga diri.
Dikit-dikit ngerasa diserang, dikit-dikit pengen ngebela diri, padahal belum tentu orang lain punya niat seburuk itu.
Ego bikin kita susah denger, susah nerima, dan akhirnya susah berkembang.
Padahal gak semua masukan itu jatuhin kadang itu cara orang lain biar kita bisa jadi versi yang lebih baik.
Kalau ego terus diturutin, yang ada kita bakal stuck di situ-situ aja.
Gak belajar, gak berubah, cuma makin pinter ngehindar dan nyalahin keadaan.
Orang masih nganggep QRIS itu cuma buat beli es teh.
Tapi ini sistem pembayaran buatan Indonesia yang sekarang diterima di China. Bukan sebaliknya. Bukan Alipay yang masuk Indo tp kebalik QRIS yang masuk China.
Lo harus paham betapa langka ini. Negara berkembang biasanya jadi market, bukan jadi infrastructure. Kali ini Indo yang export teknologinya.
Dan ini baru payment. Kalau QRIS bisa jadi standar cross-border di Asia Tenggara, lo lagi ngeliat awal dari Indonesia jadi fintech hub beneran, bukan cuma jadi user-nya doang. Bangga!
Fun fact...
Islam adalah agama yang banyak menggunakan air. Wudhu, mandi besar, bersuci itu membutuhkan air.
Maka... umat Islam seharusnya peduli dengan kelestarian air bersih. Jangan dikit² buang sampah di sungai.
Gue suka banget sama statement ini nih:
Sebenarnya pekerjaan yang lagi lo tekunin sekarang itu adalah hadiah terbaik yang Allah kasih khusus buat lo. Makanya lo ditakdirin berada di posisi ini, meskipun dari sananya bukan bidang atau pilihan lo sama sekali.
Lanjut...