BREAKING: Christian Nørgaard saat ini sedang melelang jersey final Liga Champions 2026 miliknya yang telah ia tandatangani, dengan seluruh hasil lelang akan disumbangkan kepada organisasi kanker Denmark untuk mendukung kampanye “Cancer Is Not For Children” (Kanker Bukan Untuk Anak-Anak). ❤️🩹👕
Terpantau hingga saat ini bid tertinggi di angka £2200 atau sekitar Rp.53 juta. 💰
Como olvidar cuando en la presentación de David Raya con el Arsenal le regalaron una camiseta a su abuelo Joaquín de 93 años y estaba más ilusionado que nadie jdjfdjfd
Manchester United x Arsenal: Badut yang (Sebetulnya) Kompak
Fans Manchester United dan Arsenal tak henti-hentinya berbalas serangan di media sosial, salah satunya X. Keduanya saling mencari kelemahan dan berusaha mempermalukan rivalnya. Rivalitas fans seperti menggambarkan panasnya rivalitas klub ini di zaman Roy Keane dan Patrick Vieira.
Keduanya berusaha menjadi yang paling benar. Kalau bisa harus galak, pakai ancaman fisik. Kreativitas makian datang dan pergi.
Saya menyumbang satu makian untuk fans Setan: Fans Tanpa Otak Kiri. HEHE.
Begitulah, keduanya saling serang. Padahal, di beberapa titi kala mangsa, Manchester United dan Arsenal itu kompak sekali. Ya, kompak menjadi badut Liga Inggris.
Pada 2019, saya sudah merasakan kalau sebetulnya Manchester United dan Arsenal itu punya kekompakan yang tak terduga. Yes, keduanya kompak menjadi badut Liga Inggris. Saat itu, United dilatih oleh Ole Gunnar Solskjaer. Sementara itu, Arsenal dilatih Unai Emery.
Perlombaan menjadi badut
Mari kita flashback ke tahun 2019. Saat itu, Manchester United baru saja dihajar Everton dengan skor 0-4.
“Apakah para pemain di kamar ganti betul-betul ingin bermain untuk Manchester United?”
“Saya tidak tahu,” jawab Ole kepada wartawan.
Rangkaian tanya dan jawab di atas terjadi setelah Manchester United dihajar Everton dengan skor 0-4.
Kekalahan di detik-detik akhir Liga Inggris ini membuat mereka semakin berat untuk mengakhiri musim di empat besar. Peluang Man United untuk bermain di Liga Champions musim depannya menjadi begitu tipis.
Yang membuat kekalahan Man United semakin terlihat bodoh adalah sebuah kenyataan bahwa mereka punya kesempatan terbaik untuk masuk empat besar.
Ketika Tottenham Hotspur, klub jamban dari London Utara itu kalah dari City, tiga tim punya kesempatan besar untuk setidaknya mendekatkan diri, bahkan melewati, untuk masuk empat besar.
Namun, buat kamu fans Manchester United, tak perlu sedu sedan itu. Sebagai pecundang sejati, kalian punya teman, yang juga sejati, bahkan sehati, bernama Arsenal.
O, jangan salah, Arsenal ini pecundang yang paling orisinil. Bagaimana tidak, ketika segala sesuatu bisa dibikin gampang, saat itulah Arsenal punya skenario sendiri; dibuat sulit untuk pada akhirnya menjadi sampah.
Arsenal bermain melawan Crystal Palace dengan kesadaran bahwa Spurs dan United kalah. Yang mereka harus lakukan cuma satu, yaitu menang.
Kemenangan atas Palace bakal bikin Arsenal naik ke peringkat ketiga, menggeser Spurs, dan sedikit menjauh dari United dan Chelsea. Kalau bisa dibuat sulit, kenapa dipermudah?
Unai Emery sadar betul. Sebagai pelatih yang saat itu masih baru, yang patuh dengan kebodohan paling hakiki, Emery menurunkan Mohamed Elneny dan Matteo Guendouzi.
Sebuah kesalahan yang bikin Arsenal kalah di kandang dengan skor 2-3. Kalau bukan pecundang, ya badut namanya.
Nampaknya Arsenal tidak rela gelar klub suram diambil alih Manchester United. Kalau United bisa kalah dengan skor 4-0, The Gunners bisa menyajikan kekalahan dengan lebih megah, lebih drama, dan yang pasti lebih mengenaskan:
Kalah dengan skor 2-3, Shkodran Mustafi dapat kartu kuning karena diving, dan kebobolan oleh Christian Benteke, striker yang sudah 365 hari tidak bikin gol!
Fans Man United kala itu mengeluhkan performa Paul Pogba dan Lukaku yang tanpa determinasi. Kalian memang patut khawatir. Gelar pemain terburuk bisa-bisa diambil Mustafi.
Arsenal dan Manchester United pernah bersaing dengan sengit untuk mendapatkan status klub pecundang. Sungguh sebuah kehormatan bisa menjadi fans salah satu klub berdedikasi tinggi ini.
Sungguh, Liga Inggris tak bakal seru tanpa kegoblokan dua klub ini.
Dua badut yang bangkit
Musim ini adalah titik kulminasi perkembangan Arsenal. Setelah 3 kali juara 2, tahun ini, Arsenal juara satu.
Sementara itu, Manchester United di bawah asuhan Michael Carrick, menyelesaikan musim di peringkat 3 dan lolos ke Liga Champions musim depan.
Untuk kali pertama, dua klub ini mengakhiri musim di posisi yang berdekatan setelah United terlihat alergi untuk masuk 4 besar sebelumnya.
Kok ya kompak.
Ketika Arsenal semakin membaik, Manchester United juga sama. Dulu kompak menjadi badut, sekarang bersaing untuk menguasai kembali Liga Inggris.
Fakta inilah, menurut saya, membangkitkan lagi rivalitas panas zaman dulu. Zaman Fergie vs Arsene, dan Keano vs Vieira. Dan, panasnya itu menular kepada fans.
Banyak fans Manchester United lawas yang saya kenal hanya mengenal 2 jenis rivalitas, yatu Manchester United vs Arsenal dan Manchester United vs Liverpool. Itu kata mereka ya, bukan kata saya.
Melihat kekompakan ini, saya rasa sudah saatnya fans Manchester United dan Arsenal tahu batasan. Dokter @tirta_cipeng peng peng peng pernah menjelaskan batasan banter, yaitu:
"Jangan sara, menyebar identitas, mengajak gelut, menjurus ke personal dan pelecehan, pengancaman ke fans dan pemain lawan."
Saya rasa, batasan dari Dokter Tirta tersebut sudah sangat clear. Rivalitas itu hal yang alami di dalam kompetisi. Bahkan bisa memecah belah keluarga. Namun, di sisi lain, jangan kebablasan.
Pada akhirnya, tidak ada rivalitas semahal nyawa, juga martabat. Mari berdebat dengan cara-cara manusiawi. Fans Manchester United jangan gampang baper dan jahat banget, dan fans Arsenal memang yang terbaik. Itu contoh. Jangan marah.
Salam badut
#COYG