Gak heran lembaga seperti SETARA Institute dan Imparsial menempatkan Jawa Barat sebagai provinsi dgn tingkat intoleransi tertinggi di Indonesia
Di Depok, Ada umat Katholik meninggal akan di adakan doa Misa Jenasah tetapi malah dilarang oleh RTnya
Apakah UUD '45 masih berlaku di Jawa Barat ?
A Muslim woman from Indonesia came to Japan on a Specified Skilled Worker visa to work at a farm in Kagoshima.
The farm told her not to wear a hijab while working. Their reason was simple:
“It narrows your field of vision, and with agricultural machinery running, sometimes you can’t hear instructions clearly. While you’re in Japan, it would be better to take it off.”
She refused and later quit. After quitting, she claimed she was treated badly — saying even during a company trip she was told not to wear the hijab, and that the founder’s daughters yelled at her to “stop dawdling” and made her run to the fields.
The farm’s response was straightforward:
“She didn’t even join that company trip. And we never told anyone to run to the fields.”
This is the kind of friction that’s already happening when people who refuse to adapt to basic workplace safety rules are brought in.
TETANGGA KETAUAN MALING LISTRIK DI RUMAH GUA DARI BLN APRIL 2021 DAN KETAUAN DI TANGGAL 15 JUNI 2026
Orang PLN udah kerumah di temenin pak RT juga kebetulan ada istrinya aaja, setelah di cek lagi sama pihak PLN ternyata emang ada kabel dari colokan rumah gua yang di bobok ke tembok nyambung kerumah dia, nah dari rumah dia ini di akalin lagi, makanya selama 5 tahun ini gua gaberasa kalo listrik gua dimaling
Karna emang se pinter itu dia ngakalinnya, karna dia kenal orang kelistrikan wkwk 🥴
Dia ini rumahnya pas samping di rumah gua samping persis bahkan tembok rumah kita nyatu,
Lu bayangin aja, tagihan listrik tahun 2021 yang awal bayar 300-400 ribu tiba tiba melonjak ke 800 ribuan dan terus naik, sampe terakhir kalo gua bayar itu hampir 1,5 juta
Dirumahnya ada apa aja? ADA 2 KULKAS 2 AC, TAPI YANG NYAMBUNG KE LISTRIK GUA INI CUMA 1 AC, RICECOOKER, DISPENSER, KIPAS ,TV DAN KAYA NGECAS HP, BAHKAN ADA AQUARIUM PUN ITU LISTRIKNYA NYOLONG DARI RUMAH GUA!!!!
BAHKAN APA? BAHKAN 3 KAMAR DARI 4 KAMAR ITU SEMUA PAKE LISTRIK GUA JUGA, LAMPU RUANG TAMU DAN LAMPU LUAR ITU DIA JUGA NYOLONG PUNYA GUA
DIA BILANG, SELAMA INI DIA BAYAR LISTRIK CUMA 150 REBU, IYA 150 REBU!! BAHKAN 200 REBU
asisten bapak gua, sebut aja bu Ulfah Dia sampe ngamuk ngamuk ya, minta ganti rugi,
Si ibu yang nyolong listrik ini nangis nangis minta maaf bilangnya KHILAF!! IYA KHILAF KATANYA KHILAF
Suami si ibu sebut aja pak dadi, dia langsung pulang pas di telpon bu dadi
Selengkapnya ada di komentar
Sc threads kristenvn
guys lu pada tau gk
ini berita paling lawak sih hari ini
ada cerita pembangunan jembatan di Karanganyar hasil gotong royong gabungan Tentara Nasional Indonesia dan Kepolisian Negara Republik Indonesia.
Harusnya kabar bagus dong.
Tapi yang bikin warga geleng-geleng justru pas momen peresmiannya.
Katanya warga sampai nyeletuk:
“ini biaya bangun jembatannya jangan-jangan lebih murah daripada biaya seremoni peresmiannya.”
Karena peresmiannya disebut ramai banget:
ada potong pita, acara formal, penyambutan, konsumsi, perlengkapan acara, sampai urusan akomodasi tamu.
Belum lagi kalau yang datang banyak pejabat atau rombongan:
transportasi, pengamanan, dokumentasi, konsumsi, dan kebutuhan teknis lainnya.
Dan ini yang sering bikin rakyat sensitif.
Bukan karena gak mau ada apresiasi.
Tapi kadang yang dibutuhkan warga itu jembatannya berfungsi dengan baik… selesai.
Bukan seremoni berlebihan yang kesannya lebih mahal dari manfaat simboliknya.
Rakyat tuh simpel:
jalannya bagus → senang
jembatan jadi → senang
akses lancar → senang
Yang bikin kesel itu kalau substansi kecil, pencitraan besar.
Kalau memang proyeknya untuk rakyat, fokusnya harus di hasil yang benar-benar dipakai warga tiap hari.
Bukan bikin acara megah cuma buat foto lalu upload caption “demi masyarakat.”
Warga sekarang makin kritis.
Mereka bisa bedain mana pembangunan beneran, mana yang terlalu sibuk sama seremoni.
Padahal lomba 4 Pilar MPR RI, tapi finalnya malah merusak nilai-nilai 4 Pilar sendiri.
Menurut gue, ini wujud Inkompetensi yang lengkap sih. Mulai dari Moderator/MC sampai Jurinya sama aja. Beneran kek representasi kehidupan kita capt, yg berkuasa salah tapi ga mau tau, wasitnya belain yang kasih makan.
Jadi pada acara babak final Lomba Cerdas Cermat (LCC) Empat Pilar MPR RI tingkat Provinsi Kalimantan Barat. Adek yang berani karena benar itu dari SMAN 1 Pontianak. Sementara Jurinya adalah:
1. Dyastasita (Kepala Biro Pengkajian Konstitusi, MPR RI)
2. Indri Wahyuni (Kepala Bagian Badan Sosialisasi Setjen MPR RI)
Buntut dari kejadian itu, SMA N 1 Pontianak melayangkan protes di Media Sosialnya.
Rispek untuk SMA N 1 Pontianak dan Siswanya yang berani bersuara 🫡
@MiskinTV_ Juri 1 : Indri Wahyuni, S.IP., M.A
Juri 2 : Dra. Triyatni
Juri 3 : Dyastasita WB, S.Sos
MC : Shindy Lutfiana dan Said Akmad
DIPERSILAHKAN KEPADA NETIZEN UNTUK MENGULIK AKUN SOSMED MEREKA LOL
Rhoma Irama ngamuk beneran, "Yang rasis siapa? Prabowo atau lo?!" Rizieq tuduh Prabowo fasis rasis, padahal lo sendiri paling rasis poll! Putri-putri Ba'alawi lo haramkan buat pria pribumi. Pribumi cuma budak kelas dua? Munafik!
Bang Rhoma, gebuk terus si provokator berjubah!
Penggerudukan warung “Mie & Babi Tepi Sawah” di Parangjoro, Sukoharjo
Usahanya legal dan murni kuliner. Ia menegaskan bukan tempat miras, narkoba, prostitusi, serta memiliki dasar hukum yg sah
Ini bukan petugas yg adil, tapi petugas yg beragama dan menjalankan perintah agamanya
Sekarang terjawab sudah kenapa vokal banget nyerang Pak Jokowi. Ternyata lagi panik ya karena kasus korupsi sang adik mulai terkuak? Kasus PLTU 1 Kalbar ini nggak main-main, 1,35 Triliun hilang! Jangan pakai kedok kritik untuk mengalihkan isu hukum
Kok jadi begini yah tidak sesuai dgn tupoksi.
Penangkapan bandar obat keras di Kab. Garut yang dilakukan aparat Polsek setempat bersama wartawan mendapat penghadangan dari seseorang yang di duga Anggota TNI.
Kejadian tersebut sempat memanas karena saat akan membawa pelaku, aparat kepolisian dan wartawati diancam dan dihalangi, namun setelah berdebat panjang akhirnya aparat Polsek berhasil membawa bandar tersebut dan menyerahkan ke satuan narkoba Polres Garut.
Namun setelah kejadian tersebut, wartawati tersebut mendapat ancaman di bacok dan disiram air keras dari orang yang tidak dikenal, kejadian tersebut langsung di laporkan ke Polres setempat.
DI TANGERANG NEGARA SEGEL GEREJA.
Mereka membubarkan orang yang sedang berdoa — lalu meminta agar kasusnya jangan dibesar-besarkan demi menjaga nama baik toleransi negeri ini.
Ironi terbesar dalam sejarah munafik.
Jumat Agung, 3 April 2026. Hari yang bagi jutaan umat Kristen di seluruh dunia adalah momen paling sakral dalam iman mereka. Tetapi di Teluknaga, Kabupaten Tangerang, jemaat Gereja POUK Tesalonika tidak bisa menyelesaikan ibadahnya. Satpol PP — aparatur negara yang digaji rakyat — ikut ambil bagian dalam penyegelan itu. Bukan preman. Bukan massa liar. Tapi negara.
Dan setelah itu, para pelaku meminta agar kejadian ini tidak dibesar-besarkan. Karena katanya - Indonesia dikenal toleran.
Inilah puncak kemunafikan itu.
Toleransi di negeri ini sudah lama berfungsi bukan sebagai nilai, melainkan sebagai jimat. Diucapkan terus-menerus untuk membius kaum minoritas agar tetap diam, tetap sabar, tetap percaya. Sementara intoleransi terjadi berulang-ulang, negara hadir bukan sebagai pelindung — tetapi sebagai peserta.
Pemerintah sibuk bicara perdamaian Timur Tengah di panggung internasional. Sementara di dalam negeri sendiri, warga negaranya tidak bisa berdoa dengan tenang di hari paling suci mereka.
Ini bukan kesalahpahaman. Ini bukan insiden kecil. Ini adalah cermin dari sebuah negara yang belum jujur kepada dirinya sendiri.
Jangan tunggu pernyataan "ini hanya kesalahpahaman" yang sudah bisa kita hafalkan sebelum diucapkan. Kita tahu skenarionya. Kita hafal naskahnya. Dan kita muak.
Negara yang benar bukan hanya yang bisa mengucapkan toleransi — tetapi yang berani menegakkannya bahkan ketika itu tidak populer.
Suarakan ini.
Jangan biarkan keheningan kita menjadi persetujuan kita.
Pictured: Mohammad Bagher Ghalibaf's son, living it up on a luxury cruise in Monaco.
While the regime's leaders preach "resistance," "sacrifice," and anti-Western rhetoric, their own children enjoy lavish lives abroad — yachts, foreign properties, and zero interest in the "Islamic" future being forced on Iranians.
The hypocrisy is glaring. All the talk of loyalty and martyrdom? A total lie.
Their kids won't live in the dystopia they're building. Why should anyone else?The world needs to see this reality.
#IranRevolution2026
#KingRezaPahlaviForIran