Ya Allah tolonglah warga Kalimantan. Ketika mereka sudah tidak lagi bisa mengharapkan bantuan dari pemerintah ini. Turunkan lah hujan buat mereka sehingga api api yang membakar hutan mereka itu padam ya Allah....๐ข
#mui#muhammadiyah#nu#jamaah presiden Prabowo
Sholat istisqa'
๐จ SERUAN UNTUK DUNIA ๐จ
@UN@UNEP@WHO@WMO@UNHumanRights@UNFCCC@UNICEF@ASEAN@DrTedros@antonioguterres@Reuters@AP@BBCWorld@AFP@AJEnglish@CNN@guardian@nytimes@ChannelNewsAsia@SCMPNews@AlJazeera@Greenpeace@HRW@Amnesty@elonmusk
KEPADA PARA PEMIMPIN DUNIA, MEDIA INTERNASIONAL,
ORGANISASI LINGKUNGAN DAN KOMUNITAS GLOBAL
LIHATLAH INDONESIA.
BUKAN PIDATONYA.
ASAPNYA.
KALIMANTAN TERBAKAR.
SUMATRA TERBAKAR.
PEMERINTAH INDONESIA GAGAL MEMADAMKAN APINYA.
Selama berminggu-minggu, orang-orang hidup di dalam ruang gas yang ada benderanya.
Kebakaran hutan dan lahan.
Kabut asap tebal.
Udara beracun.
Ekosistem hancur.
Anak-anak sakit.
Sekolah ditutup.
Keluarga terjebak di rumah mereka sendiri.
Ini bukan "cuaca musiman."
Ini adalah kegagalan negara.
Data Indonesia sendiri mencatat sekitar 72.088 hektare terbakar
di enam provinsi prioritas hingga September 2026.
Pemerintah mengirim petugas pemadam, pesawat, water bombing,
dan modifikasi cuaca.
Dan apinya masih menyala.
Asapnya masih ada di paru-paru masyarakat.
Pemerintah masih meminta masyarakat untuk bersabar.
Reuters melaporkan lebih dari 113.000 kasus gangguan pernapasan
di tujuh provinsi terdampak antara 1โ9 September.
Itu bukan statistik.
Itu adalah populasi yang dipaksa menghirup bencana
sementara pejabat mendaur ulang konferensi pers yang sama.
Asapnya telah melintasi perbatasan.
Malaysia menghirupnya.
Singapura menghirupnya.
ASEAN berpura-pura perbatasan bisa menghentikan asap.
MAKA TANYAKAN SATU-SATUNYA PERTANYAAN YANG PENTING:
SAMPAI KAPAN RAKYAT KALIMANTAN DAN SUMATRA
HARUS TERUS MENGHIRUP UDARA INI
KARENA JAKARTA TIDAK MAMPU MENGENDALIKAN TANAH YANG DIKLAIMNYA KUASAI?
DI MANA PERHATIAN INTERNASIONAL?
DI MANA KOMUNITAS LINGKUNGAN GLOBAL?
DI MANA TEKANAN YANG MUNCUL KETIKA AFRIKA TERBAKAR,
KETIKA AMAZON TERBAKAR,
KETIKA EROPA BANJIR
TAPI DIAM KETIKA YANG TERJADI ADALAH INDONESIA LAGI?
Mintalah pertanggungjawaban pemerintah Indonesia.
Bukan besok.
Sekarang.
Jika responsnya terlambat, katakan.
Jika penegakannya cuma lelucon, katakan.
Jika perusahaan membakar lahan demi keuntungan, sebutkan namanya.
Jika izin-izin dijual sementara hutan dikosongkan, selidiki.
Jika kementerian gagal mencegah bencana yang kembali setiap tahun,
jangan sebut itu takdir.
Sebut itu kelalaian.
JANGAN BIARKAN INI MENJADI NASKAH INDONESIA YANG SAMA
API
ASAP
KEMARAHAN
JANJI
HUJAN
DIAM
DAN TAHUN DEPAN MAYAT-MATAY POHON YANG SAMA
Kalimantan bukan lahan kosong yang menunggu peta konsesi.
Sumatra bukan zona pengorbanan untuk perkebunan dan tambang.
Hutan-hutan ini adalah rumah.
Sungai-sungai ini adalah kehidupan.
Orang-orang ini adalah warga negara, bukan tumbal.
Orangutan tidak bisa mengungsi.
Gajah tidak bisa mengajukan pengaduan.
Rangkong tidak bisa menunggu siklus anggaran berikutnya.
Anak-anak tidak bisa memilih udara yang lebih bersih.
Orang miskin tidak bisa pindah ke hotel dengan alat pemurni udara.
KEPADA PERSERIKATAN BANGSA-BANGSA
@UN@UNEP@UNHumanRights@UNFCCC@UNICEF
Berhentilah memperlakukan ini sebagai ketidaknyamanan lokal.
Kirim perhatian. Kirim tekanan. Kirim pertanyaan yang tidak bisa dihindari Jakarta.
KEPADA ORGANISASI KESEHATAN DUNIA
@WHO@DrTedros
Hitung paru-parunya, bukan siaran persnya.
KEPADA ORGANISASI METEOROLOGI DUNIA
@WMO
Terus tunjukkan asap yang ingin disebut pemerintah sebagai "kabut."
KEPADA ASEAN
@ASEAN
Kabut asap lintas batas bukan diplomasi.
Itu adalah tetangga yang mengekspor racun.
KEPADA MEDIA INTERNASIONAL
@Reuters@AP@BBCWorld@AFP@AJEnglish@CNN@guardian@nytimes@ChannelNewsAsia@SCMPNews@AlJazeera
DATANGLAH KE KALIMANTAN.
DATANGLAH KE SUMATRA.
JANGAN HANYA MEWAWANCARAI MENTERI-MENTERI DI JAKARTA.
Bicaralah dengan keluarga-keluarga.
Bicaralah dengan petugas pemadam.
Bicaralah dengan guru-guru yang menutup sekolah.
Bicaralah dengan orang tua yang melakban jendela
dan masih terbangun dengan batuk.
Kemana para 'ulama negeri ini, Tidak adakah gerakan mengajak ummat Islam Indonesia ini untuk sama sama sholat istisqa' (sholat minta hujan) buat seluruh negeri ini. Terutama Kalimantan, Sumatra dan Sulawesi yg terdampak kebakaran dan kekeringan
Ayo dong #mui
Malam Minggu ahad
Korban gempa NTT nanya air.
Jawabannya nggak bisa apa-apa, saya pensiunan
Bisanya:
Datang ke tenda.
Bawa rombongan.
Bawa kamera.
Sadar sudah pensiun, ngapain ke NTT.
Kalau cuma mau mejeng, nggak bisa apa-apa, mending nunggu sidang ijazah.
Allah berfirman tentang ucapan Nabi Nuh ุนููู ุงูุณูุงู kepada kaumnya:
โMohonlah ampun kepada Rabb kalian. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun. Niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat kepada kalian, memperbanyak harta dan anak-anak kalian.โ
QS. Nuh: 10โ12.
Pagii Kalimantan purbaya
Tentang penguasa yang menzolimi rakyatnya. Rasulullah katakan kepada mereka agar bersabar ketika sudah tidak mendengar keluh kesah kalian. Maka mintalah hak hak kalian kepada Allah. Mintalah pertolongan kepada Nya... Semoga Allah turunkan hujan yang membawa manfaat kpd kalian .
Coba ulama diwilayah terdampak asap ajak masyarakat sholat istisqa' mohon pertolongan kepada Allah. Ketika penguasa telinganya seolah olah tuli dan mata hatinya seolah olah buta. Ini asli bentuk kedzoliman penguasa kepada rakyatnya. Jadi ingat satu hadits ini...
@kmadytiab@prastow Kalau cuma disampaikan di rapim biasanya mereka akan menganggap sepele. Tapi kalau sudah viral.nah baru mikir bergerak adakan perubahan...
@prastow Tapi yang jelas apa yg disampaikan pak Pur tentang permainan permainan itu memang benar kan. Nah mau sampai kapan dibiarkan ? Syukur ada org seperti pak Pur berani ...
SUDAH HIRUP ASAP BERACUN, MASIH HARUS ANTRI BBM LAGI. PULANG KE RUMAH MATI LISTRIK.
MASUK NERAKA LAH KALIAN, PARA PEMANGKU JABATAN YANG PUNYA WEWENANG TAPI MALAH ZOLIM SAMA RAKYAT YANG BAYAR PAJAK DAN MENGGAJI KALIAN.
๐Puruk Cahu, Kalimantan Tengah
๐ฅ Video antrean BBM โ 15 September 2026