Telah terbit 📖
Kampung Vol. 2 tersusun atas 11 tulisan reflektif dan 1 laporan akhir. Publikasi ini menyuguhkan analisis sosial-ekologis, arsip perjuangan, catatan pengalaman lapangan, dan bentuk solidaritas terhadap masyarakat adat yang terus melawan.
https://t.co/32kuqiSsNV
Salib-Salib Perlawanan
Hari-hari ini orang Kristen sejagat merayakan Paskah. Peringatan Yesus disalibkan tetapi bangkit pada hari yang ketiga. Salib bertransformasi dari hukuman menjadi kemenangan. Itu dasar mengapa salib menjadi simbol penting dalam Kekristenan.
Seperti di banyak tempat, salib juga simbol penting di Tanah Papua. Tapi ada hal khusus yang menarik.
Kalau Anda ke Selatan Papua hari-hari ini, Anda akan melihat ribuan salib yang diberi warna merah. Ukurannya raksasa. Rata-rata 7 meter atau lebih. Lokasinya bukan di gereja-gereja. Tapi di tengah hutan, di pinggir kali-kali besar, di kampung-kampung, di tepi jalan.
Salib-salib itu tidak didirikan oleh “orang-orang Gereja”. Bahkan oleh Uskup setempat (uskup Merauke), salib-salib dilarang dan dianggap “sesat”.
Salib-salib itu didirikan oleh Masyarakat adat untuk menghadang pencaplokan tanah dan hutan oleh Pemerintah Indonesia dan perusahaan-perusahaan dari Indonesia sendiri dan perusahaan-perusahaan asing yang difasilitasi pemerintah.
Sebagaimana kita sudah tahu, saat ini Pemerintahan @prabowo@gibran_tweet sedang mengincar tiga juta hektar tanah dan hutan orang Papua untuk apa yang disebut #ProyekStrategisNasional atau PSN untuk pangan dan energi. Ini adalah kelanjutan program yang sudah dimulai Pemerintahan @jokowi Widodo @Kiyai_MarufAmin #YusufKalla dan sebelumnya @SBYudhoyono melalui #MIFEE.
Dalam program itu, pemerintah menggelontorkan konsesi tanah dan hutan kepada perusahaan- perusahaan dalam negeri dan asing untuk membabat hutan dan membuka perkebunan tebu, sawit, tebu, jagung. Juga untuk cetak sawah baru.
Menurut para pengamat, program ini berpotensi menjadi bencana ekologis deforestrasi secara terencana paling besar dalam sejarah peradaban manusia. Orang Papua terancam kehilangan tanah dan hutan sebagai ruang hidup dan sumber penghidupan. Keanekaragaman hayati Papua yang kaya juga terancam hancur.
Demi mencegah hal itu masyarakat adat dari berbagai marga dan suku melakukan berbagai upaya. Mulai dari protes langsung di Lokasi, pertemuan dengan pemerintah daerah dan pusat, demonstrasi hingga ke Jakarta, meminta pertolongan Masyarakat sipil di Indonesia, melaporkan ke PBB, hingga menggugat Perusahaan sampai ke Mahkamah Agung.
Tetapi Pemerintahan @SBYudhoyono, @Jokowi Widodo, dan @Prabowo Subianto sampai sejauh ini tidak peduli. Proyek tetap dipaksakan. Ribuan bulldozer saat ini terus bergerak menggusur hutan. Ribuan tentara dikerahkan. Kritik dan protes tidak dipedulikan.
Dalam situasi seperti itulah gerakan palang adat dan salib merah tumbuh. Salib-salib raksasa dari kayu dan diberi warna merah dipasang di Lokasi-lokasi yang sedang diincar pemerintah dan Perusahaan di Kabupaten Boven Digoel, Mappi dan Merauke. Saat ini sekitar 2000 salib sudah dipasang.
Selain salib, di lokasi yang sama juga dipasang Palang Adat dan papan bertuliskan Keputusan Mahkamah Konstitusi No. 35/2012 yang menyebut “Tanah Adat Bukan Tanah Negara”
Proses pemasangan salib dilakukan dalam prosesi adat dan doa-doa seperti pada Video 1. Ada yang dihadiri oleh belasan orang saja. Ada juga yang dihadiri sampai ribuan orang.
Di sini tergambar jelas, dimensi religius dari perjuangan orang Papua mempertahankan tanah dan hutan mereka.
Bapak Kasimilus Awe, salah satu tokoh Masyarakat adat Awyu, menjelaskannya seperti ini (Video 2),
“Dalam upaya membela tanah dan hutan ini, secara hukum adat maupun secara agama sebagai bangsa yang religius, kami percaya bahwa kalau memang kami sudah tidak mampu menyelesaikan soal ini (Perusahaan tidak boleh masuk), maka kami meminta bantuan kepada Tuhan sebagai pencipta alam semesta dan nenek moyang sebagai pemilik tanah. Itu yang ditandai dengan penancapan salib”
Tetapi salib-salib ini juga memberi pesan politik yang kuat. Simbol-simbol adat yang diukirkan pada salib-salib itu menunjukkan “tanda larang” dalam adat Orang Papua.
“Atribut-atribut budaya dan salib ini menunjukkan bahwa kami larang (pencaplokan tanah dan pengrusakan hutan) dengan sangat keras”, lanjut Bapak Kasimilus.
Kendati dianggap sesat oleh Uskup, Gerakan salib merah ini terus meluas. Mereka tahu bahwa uskup bekerja sama dengan pemerintah dan perusahaan-perusahaan untuk menyukseskan Proyek-proyek negara dan korporasi. Dan mereka tidak membiarkan Uskup memakai otoritas Kekristenan untuk melakukan sesuatu yang merugikan orang Papua sendiri.
Jelas di sini bahwa palang adat dan salib-salib merah ini adalah perlawanan langsung (direct action) atas perampasan tanah dan pengrusakan hutan oleh negara dan korporasi. Tetapi mungkin ini juga sebuah perlawanan terhadap otoritas Uskup yang tidak berpihak kepada mereka.
Apakah yang akan dilakukan Pemerintahan @Prabowo menghadapi gerakan palang adat dan salib merah ini? Apakah salib-salib ini juga akan dilarang pemerintah seperti yang dilakukan oleh Uskup Merauke? Apakah tentara dan polisi akan dikerahkan untuk “mendatangi” komunitas Masyarakat adat ini? Apakah suara mereka akan didengar atau malahan Prabowo akan tutup mata-telinga-hati dan terus memaksakan proyek perampasan tanah dan pengrusakan hutan tiga juta hektar ini?
Akan seperti apakah sikap dari komunitas-komunitas umat beragama dan organisasi-organisasikeagamaan di Indonesia? Juga seperti apa reaksi orang-orang Kristen dan organisasi-organisasi Gereja di Tanah Papua, Indonesia, dan seluruh dunia?
Selamat Paskah untuk yang merayakan! #AllEyesOnPapua
*Cerita lebih lengkap tentang gerakan palang adat dan salib merah ini bisa dibaca di buletin Kampung @BentalaRakyat, hal 19 dst: https://t.co/0w0pqlrbPC
Ekstraksi #Freeport bermula sejak instrumen hukum yang disebut "kontrak karya" disahakan oleh pemerintah Indonesia dengan
Amerika Serikat pada 7 April 1967.
Bagaimana cerita kapital pertambangan ini bermula?
Bayangin jurnalis asing mau meliput aja dpersulit harus dapat persetujuan 18 kementerian dan tim clearing the house (BIN, TNI, polisi, dsb)
Papua paling sulit ditembus. Bahkan pelapor khusus PBB dihalangi, jurnalis asing pernah dideportasi
👇
The largest planned deforestation in our history is currently unfolding in Indonesia’s West Papua region, displacing local communities and threatening biodiversity. Efforts to resist the destruction are being met with military repression.
https://t.co/JqGAqUvI4U
Cerita dari selatan Tanah Papua.
Masyarakat adat dari berbagai suku di selatan Papua memasang palang adat dan salib merah untuk menghadang langkah pemerintah Indonesia dan berbagai perusahaan yg mencaplok 2-3 juta hektar tanah dan hutan mereka. Sudah lebih dari 2000 palang telah terpasang hingga awal 2025.
Saya beruntung mendapat kesempatan untuk mengunjungi lebih dari 100 palang adat dan salib merah itu dan
menyaksikan penancapan beberapa di antaranya.
Untuk Anda saya menulis cerita ini di Buletin Kampung yang dikelola @BentalaRakyat
Cerita dari selatan Tanah Papua.
Masyarakat adat dari berbagai suku di selatan Papua memasang palang adat dan salib merah untuk menghadang langkah pemerintah Indonesia dan berbagai perusahaan yg mencaplok 2-3 juta hektar tanah dan hutan mereka. Sudah lebih dari 2000 palang telah terpasang hingga awal 2025.
Saya beruntung mendapat kesempatan untuk mengunjungi lebih dari 100 palang adat dan salib merah itu dan
menyaksikan penancapan beberapa di antaranya.
Untuk Anda saya menulis cerita ini di Buletin Kampung yang dikelola @BentalaRakyat
Operasi Militer di Papua sejak 1961.
Makin banyak kekerasan diumbar terhadap mereka yang menolak UU TNI (seperti di Bandung), makin dekat orang Indonesia membayangkan situasi di Papua.
Sala satu perkara yang konsisten diserahkan pada militer dan polisi selama 60 tahun.
Horor militerisasi dalam PSN Merauke mendatangkan ketakutan dan rasa tidak aman bagi Romanus, Alfeus, Mama Yasinta, dan masyarakat adat disekitar proyek. Horor pelanggaran HAM dipertebal menyusul pengesahan UU TNI dgn perluasan peran multi fungsi TNI.
https://t.co/5rFpaiq8JY
Untuk Papua, agendanya bukan hanya #TolakRUUTNI, tapi juga #TarikMundurTNI dari Tanah Papua.
https://t.co/2PjTEOv2M3
https://t.co/pIOBYR6vTy
https://t.co/frvjZea12r
Kolonialisme Indonesia di tanah Papua: melakukan penjarahan alam Papua mulai Freeport sampai Food Estate. Menghancurkan kehidupan masyarakat adat & menstigma siapapuan yg protes sebagai musuh negara. Sebagian besar OAP hidup di bawah teror tentara. Bener2 jahat & brutal.
"Cukup! Sudah cukup! Kami terlalu menderita!" kata seorang perempuan adat di hadapan pejabat Pemerintah Provinsi Papua Selatan.
Ratusan masyarakat adat yang tergabung dalam "Solidaritas Merauke" mendesak pemerintah menghentikan Proyek Strategis Nasional (PSN).
New report on Indonesia’s military operation and rush for land and natural resources in West Papua. Indigenous Papuans are forced to live under threat, continue to lose their land and source of living. #AllEyesOnWestPapua
Our latest title presents a description of Yonggom Wambon, a Dumut language in Western New Guinea.
It is based on material collected by the Dutch missionary Petrus Drabbe who worked on many languages in the area for several decades.
Out now: https://t.co/5ooz8j766D
Ku selalu bilang realitas kekerasan aparat negara itu terjadi dan dinormalisasi di Papua sehari-hari
Ibunya dipukul polisi, orang Papua pukul balik, bales lagi dikeroyok oleh aparat TNI/POLRI
Kabar yang gak akan sering kita temui di media-media nasional
Makan siang gratis dijalankan TNI/Polri aja udah aneh
Prabowo terang-terangan mau militerisasi sektor pangan. Dari food estate, bulog, makan siang diurus orang berseragam
Rakyat mau dibuat ketergantungan dengan militer, terlebih di Papua yang militerisme tejadi sehari-hari
Trigger warning ⚠️
Anggota polisi Polres Kaimana, Papua Barat diduga melakukan pemerkosaan dan penganiayaan terhadap dua anak berumur 14 tahun
Korban sempat hilang selama dua hari dan mengalami penahanan sewenang-wenang oleh aparat kepolisian
https://t.co/lU5tavV3ga
Wajah kapitalisme & kolonialisme ekstraktif di Papua
Karena di balik jargon pertumbuhan ekonomi elit Jakarta & PT. Freeport, ada cerita pemiskinan dan penghancuran ekologis
Tanah orang Papua, kekayaan alam orang Papua, tapi harus mengais emas dari limbah di atas tanah sendiri
Akhir Januari lalu 1 pelajar tewas setelah ditembak & 2 warga dianiaya militer di Papua Selatan. Minim diliput media
Itu contoh. Kejahatan milter di Papua kerap tidak terekspose kamera, termasuk karena pembatasan akses jurnalis
Belum soal pengungsi massal akibat operasi militer