@tanyakanrl Mending baca buku fiksi tapi di mengerti isi bukunya, dari pada baca buku "berbobot" tapi cuma lewat doang.
Contohnya ya ini baca buku "berbobot" tapi tidak mencerminkan orang yang baca buku "berbobot"
@blueprilan@valenttt____ Udah kan dulu pas trans pakuan(bis kita) baru ada.
Tapi pemilik angkot nya banyak yg ga mau.
Malah biskita yg di kurangin gara gara di demo mulu.
@gueracr_@nidahuda@hrdbacot 1. Anda gak akan bisa menyamakan pikiran 1 kota
2. Faktanya banyak user baru saat ada akses hemat atau user yg balik lagi
3. Menurut gue aplikator ga perlu lah di bayar per kilo.
4. Pendapatan aplikator di hemat lebih kecil
5. Gak semua user ojol kaya
@nidahuda@gueracr_@hrdbacot Hemat + tip kak.
Karena percuma pesan standar juga nagal doang yang masuk ke driver sama.
Rumusnya kalau hemat :
Pendapatan driver + biaya aplikasi (contoh di foto 1) (tapi driver di potong sesuai foto 3)
Kalau standar:
Pendapatan driver +25% + biaya aplikasi(contoh di foto 2)
@pengincumlaude@papaojol Kalau hemat itu driver kena biaya langganan.
Makanya ada driver yang ga mau ambil hemat.
Lebih bijak sih kalau customer order hemat ngasih tip 1rb-3rb untuk gantiin biaya langganannya(tidak memaksa)
Kalau di hitung hemat+tip 3rb pun tetap lebih murah dari standar.
@OmLodyy@karurawit@txtfrombrand Kalau hemat lambang orderannya kaya yang bawah.
Yang tengah itu standar.
Yang atas comfort.
Nah yang masnya lambangnya kaya yang mana coba?
Masalah potongan liat jamnya tepat setelah masnya ngerjain orderan dengan lambang yg seperti di tengah itu.
@BudiBukanIntel Ga usah bela yang salah bos.
Nge gantungin gitu mah salah
Kalau mau ambil jalan.
Kalau ga mau ambil cancel.
Lagian mau hemat atau engga driver dapet nya sama.
Kiri standar kanan hemat.
Liat bagian pendapatan mitra nya sama kan?