tweet gak napak tanah padahal banyak anak hamil di luar nikah sampai putus sekolah karena zina. gak ada kebaikan dalam berzina. zina bisa memengaruhi value lo sebagai manusia karena zina membuka pintu ke kezaliman lain ketika orang berusaha menutupi atau lari dari konsekuensinya dari bunuh janin, bunuh bayi, sampai bunuh ceweknya.
“zina itu hutang” bayarannya bukan main, bisa menyentuh mental, kesehatan, rusaknya kepercayaan & keluarga, nama baik, nasab, masa depan, sampai akhirat lo. ketika lo merusak kehormatan orang lain, dampaknya pun bisa menjalar ke orang-orang terdekat lo.
kurang-kurangin meringankan dampak dari perbuatan keji. lo juga belum tentu mau tanggung jawab kalau statement lo ikut menormalisasi sesuatu dan ternyata ada orang lain yang kena dampaknya
inti ceramah jumatan hari ini:
“jangan batasi doamu dengan logikamu, mintalah yang terasa mustahil, karena yang kamu ajak ngobrol ini bukan (Manusia).”
Allah so, so, so, so, so, so, so, so, so, so powerfull.
Gila ya, banyak banget yang nikah muda karena hamil duluan. Emang brengsek nih orang-orang yang menormalisasi seks bebas. Giliran ada pasangan muda yang kelihatan agamis cerai aja langsung fafifuwasweswos.
@InWahyudi581 kaum mereka ini memang golongan yg ga punya komitmen dan gamau bertanggung jawab tapi juga ga terima kalo harus menerima konsekuensi
padahal sumber masalah dan solusinya sudah jelas, tapi karena manual booknya agama mereka menutup diri
Giliran urusan Ibadah
"INDONESIA NEGARA SEKULER" "INDONESIA NEGARA PANCASILA"
"INDONESIA BUKAN NEGARA ISLAM"
Giliran ada urusan Korupsi dan urusan perduniawian yang jelek-jelek
"INDONESIA NEGARA RELIGIUS" "INDONESIA NEGARA MAYORITAS MUSLIM" INDONESIA "NEGARA AGAMIS"
KORBAN KONTEN🚨
Bantuan Berujung Perundungan Ketika Kekuasaan Pejabat Dijadikan Alat Permalukan Rakyat demi Konten!
Sebuah tren mengkhawatirkan kembali menjadi sorotan publik wak, potongan video Gubernur Jawa Barat KDM, yang berulang kali merendahkan verbal bullying mahasiswa Unpad di depan kamera.
Mulai dari ucapan menohok ENGGAK BOLEH PUNYA MENTAL GESER, emang yang mau BANTU SIAPA, hingga membeberkan masalah privasi keluarga warga ke ruang publik secara terbuka.
Bagi sebagian orang, gaya ini mungkin dikemas sebagai PENDIDIKAN MENTAL atau KETEGASAN SEORANG PEMIMPIN. Namun, mari kita membongkar realitas di balik kamera ini secara jernih wak.
1. Ketimpangan Relasi Kuasa POWER IMBALANCE
Seorang Gubernur memegang kekuasaan politik, anggaran, dan sorotan media. Sementara warga terutama mahasiswa atau rakyat biasa berada di posisi rentan yang datang untuk meminta solusi atau bantuan.
Menggunakan posisi kekuasaan tersebut untuk mempermalukan, menyindir, atau menghakimi urusan pribadi rakyat di depan kamera bukanlah bentuk edukasi, melainkan PERUNDUNGAN VERBAL /verbal abuse yang dilindungi oleh tirai popularitas.
2. Eksploitasi Kerentanan Demi Algoritma & Monetisasi Konten
Jika niat seorang pejabat publik murni untuk membantu rakyat yang mengalami kesulitan finansial atau masalah pendidikan
- Mengapa harus ada proses intimidasi verbal di depan lensa kamera?
- Mengapa privasi dan kehormatan keluarga warga harus dikorbankan demi mengejar durasi video, ENGAGEMENT, dan VIEWS di media sosial?
Bantuan dari uang rakyat atau anggaran daerah adalah HAK WAKAF MASYARAKAT, bukan kemurahan hati pribadi pejabat yang harus dibayar dengan harga diri dan martabat warga!
3. Bahaya Laten Normalisasi BULLYING oleh Pejabat
Ketika seorang Kepala Daerah mencontohkan pola komunikasi yang gemar merendahkan warga kecil, hal ini mengirimkan pesan berbahaya bagi masyarakat luas wak, seolah-olah siapa pun yang memiliki uang dan jabatan berhak membully pihak yang lebih lemah.
Negara ini dibentuk atas dasar nilai kemanusiaan yang adil dan beradab. Tugas pejabat adalah memfasilitasi solusi kebijakan secara bermartabat, bukan menciptakan panggung PENGADILAN MORAL harian di akun media sosialnya.
Rakyat butuh Gubernur yang bekerja secara terstruktur melalui sistem dan kebijakan publik, bukan konten kreator yang menjadikan kesulitan warga sebagai bahan olokan dan pencitraan politik!
Bagaimana pandangan kalian wak? Apakah gaya komunikasi pejabat yang suka mempermalukan warga demi konten ini masih bisa dimaklumi, atau sudah melampaui batas etika kepemimpinan?
guys, hati hati ya kalo nemu opini atau statement agama dari org yg ngaku cuma belajar dari Quran dan menolak hadits begini🥲
Quran dan Hadits adalah 2 sumber dalil agama islam. keduanya gabisa dipisahkan karena apa apa yg ada di Quran, dijelaskan dalam hadits. dan keduanya sama sama wahyu dari Allah.
bedanya, Quran disampaikan dgn lafaz dan makna dari Allah langsung, sedangkan hadits disampaikan dgn lafaz atau perbuatan atau ketetapan dari Rasulullah namun sumbernya dari wahyu Allah.
contoh : solat 5 waktu. dalil kewajiban solat 5 waktu ada di Quran. tapi jumlah rokaatnya, gerakannya, bacaannya, tata cara jika ada rokaat yg lupa, tata cara mengikuti imam jika masbuq, dll apakah ada di Quran? tentu gaada. adanya dijelaskan dlm hadits.
jadi tolong hati hati ya guys. belajar islam lah dengan baik dan benar melalui guru yg ilmunya beneran terverifikasi dan bisa dipertanggungjawabkan. jgn belajar islam hanya dari sosial media.
sekarang udh banyak kok platform belajar islam yg ilmunya kredibel tapi gratis dan ada gurunya. kayak @hsiabdullahroy 👍🏼
so mahar itu bolej kok ga harus berupa uang/materi. bisa berupa mengajarkan Al Quran sbgmn hadits Rasulullah
org zina yg jelas haram dibilang ‘yaelah gausah ngurusin org lain~ yg penting sama sama consent’
giliran org nikah yg jelas halal dan sama sama dewasa malah pada ribut maharnya lah, tafsirnya lah, semua diurusin😂
Alurnya begini
- Ada org yg negakin ajaran agama, lu katain mabok agama, lu bilang jangan bawa2 agama
- Akibatnya, agama hanya sebatas ibadah dan pencitraan.
- Ajaran2 agama gk lagi diterapkan, semua dilakukan sesuai dg ego masing2
- Ada kebobrokan, nyalahin agamanya
• Ayah Ganjar Pranowo polisi pangkat rendah, ikut menumpas pemerontakan PRRI.
• Kakek Anies Baswedan ikut memperjuangkan kemerdekaan RI dengan paguyuban Arabnya.
• Yang satu lagi? Ayahnya jadi sponsor pemberontakan PRRI dan nenek moyangnya ikut menangkap Pangeran Diponegoro.
Jadi, siapa yang sebenarnya Londo Ireng?
@fluoxetan@kodosunofficial Mungkin karena ada "barat" aja si. Saya kalo diskusi sama anak-anak mahasiswa aja kalo pake term2 progresif ala barat seringnya dipuji cerdas dan wise. Sekali doang ngutip qaul syaikhul islam ibn taimiyah malah dibilang terlalu tekstual dan kaku, aneh memang. wkwk