Sebelum mengungkapkan keresahanku, harus ku akui bahwa secara keseluruhan AGAK LAEN menghibur, punya keseruan—baik dari segi plot dan chemistry para pemain—yang bisa mengikat atensi penonton sepanjang durasi, serta tampak begitu fresh di antara lautan film horor lokal.
Tapi, ada beberapa joke yang menggangguku; soal transpuan, tokoh disable, dan “pelakor”. Term “pelakor” aja menurutku udah misoginis, apalagi ketika dalam film ia seolah dipandang sebelah mata. Call me a party pooper or whatever, tapi aku setuju dengan Geger Riyanto dalam tulisannya “Humor dan Kebejatan”, bahwa humor yang betulan lucu adalah yang bermain dengan penyimpangan ekspektasi—ada set up dan ada punchline. Sementara jokes di film ini yang tadi aku sebutkan, hanya mengolok saja. Bukan dark joke, tapi cuma “dark” saja.
Pun, ada beberapa elemen yang bisa dikembangkan jadi joke betulan—bernada social commentary—yang sayangnya justru lewat begitu saja.
Jika jokes “gelap” tadi diperbaiki, film ini bisa jadi salah satu film lokal top favoritku tahun ini.
Pemenanag Piala Dunia 2014, André Schürlle kini punya hobi baru, seusai pensiun pada tahun 2020.
Mantan pemain Chelsea itu, diketahui gemar naik gunung. Menariknya, ia nanjak dengan cara yang ekstrim.
Bang @Dzawinur enggak mau ajak Schürlle nanjak, nih? 😅
🚨 “Liga Saudi jauh lebih baik dibanding MLS.
Saya yakin 100% tidak akan kembali ke klub Eropa. Saya membuka jalan kepada liga Saudi… dan kini semua pemain berdatangan kemari.” 🔥👀
– Cristiano Ronaldo