ᅠ
Bhadra melambai-lambai selagi berjalan ke arah dari mana ia datang tadi. Anak itu tidak lagi terlihat setelah memasuki pepohonan, seolah senja sudah menelannya.
[ @astarayu ]
ᅠ
ᅠ
Jejak jingga pada langit kian memudar. Bhadra bangkit, sudah waktunya untuk kembali. Ia menepuk-nepuk bokongnya sendiri, membersihkan noda yang barangkali menempel pada celanya selama duduk barusan.
“Kalau begitu sampai ketemu lagi besok!” ujarnya pada si kawan baru.
ᅠ
ㅤ
ㅤ
"Aku lebih sering ke sini, sepulang dari—um... berkegiatan," ucapnya, menghindari kata yang sebenarnya.
Itu mungkin kalimat terpanjang yang meluncur dari mulut Agita minggu ini—entah mantra apa yang dibisikkan @PijarKarsa, hingga ia merasa cukup aman untuk bicara.
ㅤ
ㅤ
ᅠ
Bila sulit memahami pemikiran Bhadra, anggap saja ia butuh pemandu wisata di daerah yang tak dikenalinya dengan baik.
“Kamu tahu tempat-tempat yang lebih oke daripada ini?”
[ @astarayu ]
ᅠ
ᅠ
Bhadra tidak punya penghakiman atas ucapannya sendiri. Pun ia tidak merasa ada yang salah dengan niatnya mengajak berteman. Itu ajakan yang jujur dan apa adanya.
ᅠ
@astarayu ᅠ
Bhadra terkesan. Rupanya anak itu bukannya tidak bisa diajak bicara?
Ia pun memutar badan untuk sepenuhnya menghadap—yang ternyata bernama—Agita. Menurutnya, pemandangan matahari terbenam tidak lebih menarik daripada ini.
Bisakah Bhadra dapat teman baru?
ᅠ
ᅠ
Siapa juga yang keberatan bertemu (calon) kawan sebaya?
Pandangannya kembali ke depan. “Mau kenalan?” tawarnya begitu saja.
Tanpa menunggu jawaban, ia menambahkan: “Aku Bhadra.”
[ @astarayu ]
ᅠ
@astarayu ᅠ
Mendengar itu, mustahil Bhadra tidak menoleh. Untuk beberapa saat tatapannya seolah menuding si anak perempuan, sebelum ia terkikik.
Bhadra merasa tergelitik. Walaupun tampak lusuh, agaknya anak itu tidak mudah gentar. Lagi pula, siapa juga yang keberatan berbagi tempat?
ᅠ
ᅠ
Anak itu melipat tangan di atas lutut, lalu menyaksikan matahari kian turun. Sinarnya masih begitu menusuk hingga memaksa mata untuk memicing.
Tiada barang satu kata, bahkan keluhan untuk diutarakan pada diri sendiri.
[ @astarayu ]
ᅠ
ᅠ
Ia pun mengambil langkah maju dengan lagak seolah-olah hanya ada dirinya di sana. Setelah posisinya sejajar dengan gadis itu, Bhadra duduk. Bokong dan sol sepatunya beralaskan rumput.
ᅠ
ㅤ
ㅤ
Ia pernah digiring ke pinggir sungai. Pernah diikat di kandang kosong. Pernah dimasukkan serbuk gatal ke dalam bajunya.
Dunia selalu berisik, dan kalau seseorang muncul tanpa suara, itu biasanya pertanda bahaya.
ㅤ
ㅤ