ㅤ
ㅤ
Tapi sudahlah. Mungkin memang benar mereka akan bertemu lagi. Dan kalau itu terjadi, Agita akan pastikan: ia ingin tahu lebih dalam, siapa sebenarnya anak itu.
Selang beberapa saat, Agita berdiri dari duduknya. Masa santainya telah selesai. Ia harus segera pulang.
ㅤ
ㅤ
ᅠ
Sebenarnya Bhadra jadi penasaran apa-apa saja kegiatan yang Agita—anak sepantarannya—lakukan sehari-hari. Seperti apa normalnya keseharian anak-anak seusianya? Jika Bhadra bukan anak kedua orangtuanya, rutinitas macam apa yang mungkin akan ia jalani?
ᅠ
ㅤ
ㅤ
"Aku lebih sering ke sini, sepulang dari—um... berkegiatan," ucapnya, menghindari kata yang sebenarnya.
Itu mungkin kalimat terpanjang yang meluncur dari mulut Agita minggu ini—entah mantra apa yang dibisikkan @PijarKarsa, hingga ia merasa cukup aman untuk bicara.
ㅤ
ㅤ
ㅤ
ㅤ
Ada perasaan nyaman menyelimuti seiring dengan langit yang mulai kehilangan warna. "Ada satu tempat," ucapnya pelan. "Katanya bagus."
"Nggak jauh dari sini. Tapi aku belum pernah ke sana." Agita mengalihkan pandangan, membiarkan angin sore menyapu wajahnya.
ㅤ
ㅤ
@astarayu ᅠ
Wajah Bhadra menunjukkan bahwa dia sendiri sedang mencari jawabannya—yang tidak butuh banyak waktu sampai ditemukan.
“Aku mau punya teman baru,” akunya tanpa ragu. “Kalau kamu suka ke sini, nanti aku mau ke sini juga.”
ᅠ
ㅤ
ㅤ
Tapi ternyata tidak. Anak itu malah menghadap ke arahnya, menunggu.
Agita mengangguk sebagai respon. Gerakannya kecil, agak ragu. Ia menghela napas untuk menyuap keberanian untuk menatap @PijarKarsa.
“Kenapa?” ujarnya akhirnya—setengah menantang, setengah penasaran.
ㅤ
ㅤ
@PijarKarsa ㅤ
ㅤ
Agita bergeser sedikit. Tatapan Bhadra terasa seperti sorot lampu: langsung, terang, tak bisa dihindari.
Jujur saja, ia pikir perkenalan singkat tadi cukup. Tak perlu lanjut apa-apa. Bhadra akan diam, atau pergi—karena apa lagi yang bisa diambil dari pertemuan ini?
ㅤ
MULAN.
Aku kalau buat karakter pasti akan merepresentasikan satu emosi. Jadi, kenapa dibuat sedih, karena dia akan jadi mediaku untuk meluapkan rasa sedih.
Untuk menulis hal-hal yang sedih, kasihan, dan semacamnya.
MULAN.
Vi-su-a-li-sa-siiii. Senang banget kalau baca plot yang ada gambarnya. That’s why I do that sometimes. Tapi ngeditnya itu yang agak jungkir balik. 😫🥴
MULAN.
Agita is such a stubborn and EGP person. That says a lot already.
Pasti kalau diminta nasihat, dia akan cuma bilang “Stop worrying about useless stuff. It’s not worth it, seriously. But if you still do, then that’s on you.”
MULAN.
Karena sibuk (classic, but true 😔). Dan yang bikin mau nerusin karena aku suka banget sama konsep Agita ini.
It’s my first time building a whole new universe for my OC, and honestly, I’m loving every second of it. <3
MULAN.
Perhaps this one (https://t.co/w7q4TO5xCn). Mungkin karena cukup triggering untuk aku, ya, jadi merindingnya in a negative way (😀).
Tapi sedikit merinding juga karena dikasih backsound. Jadi bikin kisahnya makin hidup.
ㅤ
ㅤ
—anak itu tak menunggu persetujuan, langsung saja menyebutkan namanya sendiri. “Bhadra…” Agita bergumam, mengulang nama @PijarKarsa untuk mengingat.
“Agita,” ucapnya akhirnya. Suaranya pelan, gerak-geriknya agak kikuk. Ia tak pernah pandai dalam hal seperti ini.
ㅤ
ㅤ
@PijarKarsa ㅤ
ㅤ
Agita yang sudah cukup kesal, kini makin dibuat jengkel oleh tawa pelan dari anak di sebelahnya. 𝘈𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘭𝘶𝘤𝘶? pikirnya sambil memainkan ujung rerumputan.
Ajakan berkenalan barusan pun terasa aneh. Bukan hanya karena ia tak terbiasa, tapi juga karena—
ㅤ
ㅤ