Kalo dilihat dari cara produksinya, ini mah sindikat UANG PALSU GRADE A...
Ada nomor seri, benang pengaman, dan Hologram.
Total uang yg ditemukan-> 36 Miliyar di Tangsel.
Peralatannya pun, super lengkap:
- Percetakan
- Printer
- Tinta
- Laptop
Gue takut...
Jangan-jangan, uang yg kita selama ini pegang, itu UANG PALSU.
Tapi kita gak SADAR aja karna sudah jadi satu dgn UANG ASLI.
Malah kasihan, kalo uang kita yg PALSU itu, dibuat beli dagangan UMKM...
Ditambah penjualnya adalah orang² tua/lansia, sedih🥲
BEFORE MODERN MEDICINE THERE WERE PLANTS
1. Before antibiotics, there was garlic
2. Before aspirin, there was willow bark
3. Before cold medicine, there was wild cherry bark
4. Before migraine tablets, there was feverfew
5. Before toothache gel, there was clove
6. Before cough syrup, there was elderberry
7. Before disinfectants, there was thyme
8. Before pain balms, there was arnica
9. Before sleep aids, there was lavender
10. Before eczema cream, there was calendula
11. Before anxiety pills, there was chamomile
12. Before muscle relaxants, there was valerian
13. Before iron pills, there was nettle leaf
14. Before probiotics, there was sauerkraut
15. Before scar creams, there was rosehip oil
16. Before vapor rub, there was eucalyptus
17. Before band-aids, there was plantain leaf
18. Before energy drinks, there was ginseng
19. Before everything came from a lab, it came from the earth.
Humans are afraid of Love.
Not because love wounds us —
but because real Love transforms us.
True Love is not emotion, attraction, instinct, or attachment.
It is a spiritual force powerful enough to dissolve the rigid boundaries of the ego.
And the ego fears dissolution.
The ego wants control.
Love demands freedom.
The ego wants certainty.
Love requires vulnerability.
This is why people often choose relationships built on roles, habits, expectations and comfort.
They feel safe.
But spiritual Love is different.
You cannot force it.
You cannot possess it.
It must be freely created between 2 individual beings.
And freedom makes it frightening.
To truly Love someone is to encounter their individuality — not your idea of them.
You stop seeing a partner, friend or family member.
You begin to meet the mystery of another "I."
When 2 individual "I's" genuinely meet, something new enters the world.
Love becomes creation.
A new relationship.
A new moral possibility.
A new future.
Creation always carries risk.
Because the moment you are truly free, you become responsible for what you create.
The highest Love cannot come from instinct, blood, sexuality, obligation, or authority.
It must come from the free human spirit.
And freedom leaves nowhere to hide.
No instinct can decide for you.
No authority can tell you how to Love.
You must see.
You must choose.
You must act.
And you must accept the consequences.
Every genuine relationship becomes part of our spiritual development.
Love transforms what comes from the past and creates what will shape the future.
Love changes destiny.
This is why Love is the great battlefield of spiritual development.
Because Love requires everything the ego avoids:
Courage.
Self-knowledge.
Sacrifice.
And the willingness to let another human remain free.
Love is not one emotion among many.
It is a creative force through which the human being becomes truly human.
It awakens what is sleeping.
It softens what is hardened.
It creates where nothing existed before.
It breaks the prison of the isolated ego.
Humans are afraid of Love because Love asks them to become something new.
Not weaker — but stronger.
Not less free — but truly free.
Not destroyed — but transformed.
Love is the courage to encounter another spirit freely.
And that is why the deepest Love is also the deepest spiritual path.
🚨 ELON MUSK ACABA DE SOLTAR LA VERDAD QUE NADIE QUIERE ESCUCHAR 🚨
El tipo que manda cohetes a Marte, fabrica autos que se manejan solos y está construyendo la IA más poderosa del planeta… acaba de decir algo que te va a helar la sangre:
“Normalmente soy el primero en defender la tecnología… pero lo digo sin rodeos:
NO debería existir NI UNA SOLA máquina de votar.”
Punto. Sin diplomacia. Sin filtros.
Las urnas electrónicas ya no son el futuro.
Son una puerta abierta al desastre total.
Con la inteligencia artificial creciendo a velocidad de locura, cualquier sistema digital puede ser hackeado, manipulado o controlado en silencio.
Nadie se enteraría… hasta que el daño ya esté hecho.
No es una película.
Es exactamente lo que Musk ve venir.
Y es el único con los huevos de gritarlo en la cara del mundo.
La única forma REAL de proteger las elecciones es tan simple que duele:
✅ Boleta de papel
✅ Voto en persona
✅ Identificación obligatoria
Todo lo demás es regalar el poder a quien sepa manipular un código.
Musk no es un político de discurso vacío.
Es el hombre que más entiende de tecnología real en 2026.
Y su mensaje es brutal:
O volvemos al papel… o perdemos el control de la democracia para siempre.
No esperes a que sea tarde.
Comparte esto AHORA.
Exige boletas de papel.
Exige voto presencial con ID.
Exige elecciones que NADIE pueda hackear.
El futuro de tu voto está en juego.
Hoy.
Suka atau tidak suka, BPJS adalah sistem yang diwajibkan oleh negara. Ini bukan soal sukarela, tapi aturan hukum yang harus dipatuhi oleh setiap warga negara. Karena ini program bentukan pemerintah, semua regulasi dan pemotongan biayanya sudah ditentukan oleh sistem yang berlaku.
Logika postingan nakesindo yang membandingkan iuran BPJS dengan "harga sekali makan di kafe" atau menganggap nominalnya "cuma kecil" adalah bentuk logika yang keliru dan nirempati.Uang 50 ribu atau 1% yang dipotong dari gaji itu bukan iuran sukarela atas kemauan masyarakat, melainkan kewajiban hukum yang memaksa.
Di dalam hukum jaminan sosial, hak atas pelayanan yang layak tidak pernah diukur dari besar kecilnya nominal rupiah yang dipotong, melainkan dari status sah kepesertaan mereka yang dilindungi undang-undang.Nakes harus paham bahwa jutaan pekerja sehat yang tidak pernah memakai BPJS pun gajinya tetap dipotong setiap bulan agar sistem gotong royong ini bisa berjalan dan membayar fasilitas kesehatan.
Meremehkan potongan gaji masyarakat dengan kalimat "Jangan merasa hebat kali gaji dipotong" justru merusak hubungan kepercayaan antara pasien dan tenaga medis.
Tugas nakes adalah memberikan pelayanan medis yang humanis dan profesional sesuai hak pasien, bukan malah menjadi beking instansi dengan menghakimi isi dompet rakyat yang sudah dipaksa patuh oleh sistem negara.
Berkaca dari Yurizal, saya malah flashback ke Prita Mulyasari. Sama² mengeluhkan tentang faskes dan nakes tapi malah mendapatkan respon yang kurang baik. Sekarang pertanyaan saya : APA FASKES DAN NAKES JADI TEMPAT ANTI-KRITIK SEHINGGA PASIEN GA BOLEH NGELUARIN UNEK-UNEK TENTANG PELAYANAN FASKES DAN NAKES? saya tau, tiap kerjaan pasti ada oknum (hey, oknum kok banyak?). Apa yang pelayanannya ramah + ga judes + hasil kerja bagus itu baru di sebut oknum?
cc alvin_dj23
1000 Powerful Claude Prompts 🤯
Built for developers, creators & builders.
I spent weeks collecting the most useful prompts for:
• Coding & debugging
• AI workflows
• Research & analysis
• Automation
• Content creation
• Productivity systems
These prompts can save you hours of manual work every single week.
To celebrate finishing this prompt collection,
I’m giving free access to a few people here 👀
How to get it:
1. Follow (so I can DM you)
2. Like + Repost
3. Comment “Prompt”
Guys, ini gilaa sihh
Suster Natalia.
Perempuan yang tidak menikah.
Tidak punya harta pribadi.
Mengabdikan seluruh hidupnya untuk gereja dan umatnya di Labuhanbatu, Sumatera Utara.
Dan sekarang dia harus menanggung beban Rp28 miliar yang raib bukan uangnya sendiri
tapi uang 1.900 jiwa umat yang dia jaga amanahnya.
bahkan dia bilang
ke teman dia yang suster juga
dia akan masuk penjara.
dia cerita
Setiap kali ketemu umat yang sederhana itu,
saya selalu katakan:
mari, masa depan anak-anakmu melalui menabung.
Tapi sekarang masa depan mereka itu hancur di tangan saya.
Kronologi yang perlu semua orang pahami:
Credit Union Paroki Aek Nabara koperasi simpan pinjam di bawah naungan gereja sudah berjalan 45 tahun tanpa masalah.
Umat menabung perak demi perak.
Untuk sekolah anak.
Untuk biaya sakit.
Untuk masa depan.
Total yang terkumpul dan ditempatkan di deposito: Rp28 miliar lebih dari 1.900 anggota.
Di 2019 Andi Hakim Febriansyah
Kepala Kas BNI Unit Aek Nabara
mendatangi pengurus CU.
Menawarkan produk bernama BNI Deposito Investment
dengan bunga 8% per tahun.
Lebih tinggi dari deposito biasa.
Pengurus percaya.
Karena siapa yang tidak percaya kepada kepala kas bank negara yang datang dengan seragam resmi, ID card BNI, dan pick-up service resmi yang sudah berjalan sejak 2015?
Tujuh tahun berjalan.
Bunga masuk rutin setiap bulan.
Tidak ada masalah.
Sampai Desember 2025 dan semuanya mulai runtuh:
CU mengajukan pencairan Rp10 miliar untuk pinjaman ke anggota.
Bertahap minta Rp2 miliar dulu.
Januari 2026 tidak cair.
Februari 2026 tidak cair.
5 Februari Suster Natalia panggil Andi.
Andi bilang besok.
Besok tidak cair.
Andi minta semua bilyet deposito untuk pembaruan. Suster menyerahkan semuanya karena percaya.
Sore hari Andi sudah di jalan ke Medan katanya cuti.
Lalu 23 Februari bukan Andi yang datang.
Tapi kepala kas baru.
Dengan kalimat yang mengubah segalanya:
Per hari ini saudara Andi Hakim Febriansyah bukan pegawai BNI lagi.
Dan produk yang ditawarkan itu bukan produk BNI.
Suster Natalia pingsan lima menit.
Yang lebih ngeri dari hilangnya uang itu:
Bilyet deposito yang dipegang Andi dibakar. Sengaja. Supaya tidak ada barang bukti.
Tapi Andi salah hitung.
Satu bilyet tersimpan di tangan pastor lain yang kebetulan tidak ada di tempat saat pengambilan.
Satu bilyet itu yang menjadi bukti bahwa semua ini nyata.
Andi sudah menyiapkan skenario dari jauh hari. Tanggal 23 Februari itu hari yang sama dia ambil semua bilyet dia sudah mengajukan pengunduran diri. Dan dua hari kemudian dia terbang ke luar negeri bersama istrinya lewat Bali ke Australia, lalu ke New Zealand.
Sambil cuti dia masih angkat telepon Suster Natalia. Masih bilang "aman, Suster."
Masih janjikan pencairan.
Setelah red notice diterbitkan oleh Interpol dan Australian Federal Police Andi kembali ke Indonesia 30 Maret 2026 dan ditangkap di Kualanamu.
Di dalam pemeriksaan dia mengakui semua perbuatannya.
Uangnya?
Dipakai untuk sport center, kafe, mini zoo, tanah, dan berbagai aset yang kini sedang dilacak dalam proses TPPU.
Dan sekarang masuk ke bagian yang paling mengkhawatirkan:
BNI melakukan verifikasi internal sendiri.
Tanpa transparansi.
Tanpa melibatkan korban dalam proses.
Hasilnya: BNI bersedia mengganti Rp7 miliar.
Dari Rp28 miliar lebih.
Dan pada 26 Maret 2026 tanpa persetujuan CU-PAN BNI mentransfer Rp7 miliar itu ke rekening korban secara sepihak.
Seolah dengan mentransfer itu kasus selesai.
Kuasa hukum CU-PAN dari Gani Djemat & Partners menolak keras.
Karena:
Berdasarkan prinsip Vicarious Liability perusahaan bertanggung jawab atas tindakan pegawai yang dilakukan dalam kapasitas jabatannya.
Andi beroperasi dengan ID card BNI, jabatan BNI, fasilitas pick-up service BNI, dan atas nama BNI selama tujuh tahun.
Ini bukan tindakan pribadi yang kebetulan dilakukan oleh orang yang bekerja di BNI. Ini tindakan yang bisa terjadi karena dia adalah BNI di mata korban.
POJK Nomor 22 Tahun 2023 Pasal 10 ayat 1 juga menegaskan: pelaku usaha jasa keuangan wajib bertanggung jawab atas kerugian konsumen akibat kesalahan pegawainya.
Tidak ada klausul kecuali kalau pegawainya nakal.
Dan respons BNI yang paling menyakitkan menurut korban:
Enam kali mediasi.
Satu kali aksi damai.
Sepanjang itu tidak satu pun pejabat BNI dari kantor cabang atau wilayah yang mengucapkan kata "maaf" atau kami prihatin kepada korban.
Yang datang dari pihak BNI hanya satu permintaan berulang: Berikan kami bukti pendukung.
Padahal semua data transaksi ada di sistem BNI sendiri.
Semua perpindahan uang dari kas lancar ke rekening Andi tercatat di rekening koran BNI.
Bukan di tangan korban.
Baru Wakil Menteri BUMN yang mengundang korban dan itulah pertama kalinya ada pejabat yang mengucapkan kata permohonan maaf dan rasa prihatin.
Satu hal yang tidak bisa diabaikan:
Suster Natalia sekarang punya utang pribadi ke beberapa orang.
Karena ada anggota CU yang butuh uang untuk berobat yang tidak bisa dia biarkan meninggal di rumah sakit sementara dana CU tidak bisa diakses.
Dia yang tidak punya harta pribadi meminjam uang untuk membayar tagihan rumah sakit umatnya.
"Saya tidak bisa biarkan umat meninggal di rumah sakit, Pak."
BNI adalah bank BUMN.
Bank milik negara.
Diawasi oleh OJK.
Dijamin kepercayaannya oleh nama negara Indonesia.
Dan di bawah namanya selama tujuh tahun seorang kepala kas menjalankan skema penipuan yang menyedot uang 1.900 jiwa umat gereja yang menabung perak demi perak untuk masa depan anak-anak mereka.
BNI tidak bisa menyebut ini hanya masalah oknum lalu cuci tangan dengan transfer Rp7 miliar yang tidak transparan prosesnya.
Karena korban bukan menyimpan uang kepada Andi Hakim.
Korban menyimpan uang kepada BNI.
Dan BNI harus mengembalikannya penuh tanpa pengecualian.
Kalau tidak ini bukan hanya kasus kriminal biasa.
Ini adalah konfirmasi bahwa di negeri ini orang miskin yang menabung untuk masa depan anaknya bisa kehilangan segalanya karena sistem yang seharusnya melindungi mereka justru membiarkan hal ini terjadi selama tujuh tahun.
Bolo, ada cerita polisi yang lagi bikin netizen haru banget nih. Namanya Aipda Vicky Aristo Katiandagho dari Polda Sulawesi Utara. Dia mundur dari kepolisian dan sekarang jadi tukang kopi. Alasannya? “Lebih baik jualan kopi daripada tunduk sama penjilat.” ☕🫡