“Jangan demo, bikin macet”
“Yang demo fomo doang”
Tone deaf final boss.
Lu nggak tau apa hak-hak dasar yang lu nikmati sekarang itu juga hasil demo-demo di masa lalu? Dongo.
apa yg tidak sampai ke telingamu, itulah cara Allah menjagamu. apa yang sampai lewat mulut orang lain, itu cara Allah mengujimu. dan apa yang sampai langsung dari pelakunya itulah cara Allah beri kesempatan agar hatimu belajar memaafkan. intinya ga ada satu pun takdir Allah yang buruk, semua baik dan semua ada hikmahnya.
Ternyata benar ya, hidup itu jauh lebih tenang ketika kita tau batasan, not everything needs our deserve our energy, ada hal-hal yang lebih baik dibiarkan berlalu, tanpa perlu di dengar, dilihat ataupun dibahas.
Hanya saja semakin pulih seseorang, biasanya ia semakin sadar bahwa nilai dirinya tidak lagi bergantung pada siapa yang dulu meremehkannya.
Karena sembuh bukan tentang melihat orang lain jatuh, tapi tentang tidak lagi hidup untuk membuktikan apa pun kepada mereka.
dulu selalu mikir yang namanya hubungan kuncinya ya komunikasi, ternyata salah. it's all about understanding each other's. mau ngomongin semua yang dirasain sampe mulut berbusa pun ga bakal ada gunanya kalo ga bisa saling ngertiin sudut pandang masing-masing.
Kamu mungkin ngerasa gak punya apa-apa. No privilege, no backing, no connection.
Tapi Allah punya cara dari arah yang gak kamu sangka, ngangkat kamu, dan mempertemukan kamu dengan orang-orang yang tepat, di waktu yang paling tepat juga.
Jadi tenang aja, yang kamu butuhin cukup percayakan sama Allah.
Terlalu sakit, terlalu pilu, memikirkan tragedi yang menimpa Arianto Tawakal, murid usia 14 tahun yang dibunuh oleh seorang oknum Brimob…
Ibu-Bapak yg saya cintai, tren kesewenang-wenangan sudah mencapai sebuah titik di mana kita harus berkaca: kita ingin dikenal sebagai bangsa dengan budaya seperti apa? Apakah di mata Tuhan Allah dan di mata dunia, kita ingin dikenal dan dikenang sebagai masyarakat yang beringas dan liar?
Saya tetap yakin di segenap aparat hukum kita, mayoritas anggota merupakan manusia yang baik. Namun, peristiwa ini harus menjadi peringatan keras untuk mengembalikan profesionalisme sebagai kiblat utama lembaga penegak hukum.
Kematian Arianto Tawakal ini ekstra sedih bagi saya, karena tujuh bulan lalu saya sangat terinspirasi diajarkan oleh sesama tahanan di penjara yang beragama Islam tentang makna kata “Tawakal”, di tengah perjuangan saya untuk mengungkap kebenaran dan mendapat keadilan.
Tambah heran, bahwa kelakuan oknum Brimob ini juga terjadi di bulan suci Ramadan dan di bulan suci pra-Paskah. Saya tidak bisa membayangkan trauma yang dirasakan keluarga Arianto. Innalillahi wa innailaihi roji’un…
Turut berduka yang mendalam; saya dan Ciska doakan Allah SWT menyelimuti keluarga Arianto dengan segala kekuatan dan ketabahan dalam menghadapi tragedi ini…
It’s too painful, too excruciating, to think about the tragedy that befell Arianto Tawakal, a 14-year old schoolboy who was killed by a member of Indonesia’s police paramilitary unit (Brimob)…
My dearest colleagues, this trend of ever-greater impunity has reached a point where we have to reflect: what kind of a society do we want to be known and remembered as? Do we want to be seen in the eyes of the Almighty and in the eyes of the world, as a savage and atrocious people?
I remain convinced that each and every one of our law enforcement agencies consists primarily of good human beings – but this incident MUST be a harsh wake-up call for us to return professionalism as the central guiding principle for our security forces.
It adds an extra layer of sadness for me that around 7 months ago, I was so inspired being taught the meaning and concept of “Tawakal” (utmost thriving followed by surrender to God’s Will) by Muslim fellow inmates in prison, as I was fighting to expose the truth and obtain justice for myself. It’s also bewildering to think that this depravity by a paramilitary police officer took place in the Holy Fasting Month of Ramadan and the Holy Month of Lent…
I can’t imagine the trauma that Arianto’s family is experiencing right now… We belong to Allah and indeed to Allah we shall return…
My deepest condolences to Arianto’s family; Ciska and I pray that God provides any and all strength and resilience to them in confronting this senseless tragedy…
sedih ga sih tiap hari ngeliat dunia makin jahat ke orang-orang yang lemah, tapi lo ga bisa berbuat banyak buat ngubah semua itu.. berdoa, berdonasi, bersuara mungkin itu doang. everyday the evil wins and there’s nothing you can do about it.