inti dari film pesta babi:
"mungkin bagi papua, indonesia adalah israel-nya"
Hal ini tecermin dari realitas kolonialisme modern yang dipertontonkan dalam dokumenter ini, di mana negara secara sepihak merampas 2,5 juta hektare hutan adat untuk Proyek Strategis Nasional (PSN).
Proyek lumbung pangan dan energi ini beroperasi layaknya sebuah pendudukan paksa yang secara brutal menyingkirkan eksistensi, budaya, dan ruang hidup suku-suku asli Papua seperti Marin, Auyu, Muyu, dan Yinan.
Eksploitasi masif ini sepenuhnya dikendalikan oleh kekuatan oligarki yang berlindung di balik kebijakan dan kekuasaan negara.
Tokoh-tokoh konglomerat raksasa memonopoli konsesi lahan sawit dan tebu yang difasilitasi langsung oleh rezim dari era Jokowi hingga Prabowo.
Pada akhirnya, ambisi pemenuhan biodiesel (B50) dan bioetanol ini murni ditujukan untuk memperkaya segelintir elit di Jakarta, sementara penduduk asli Papua terasing di tanahnya sendiri.
Untuk memuluskan ambisi korporasi dan membungkam penolakan, proyek perampasan lahan ini dikawal secara represif oleh aparat militer.
Pembangunan markas-markas tentara (Koramil/Kodim) yang dipaksakan tepat di atas wilayah adat tidak hanya merampas hak kepemilikan warga.
Kehadiran serdadu yang berlebihan ini secara psikologis meneror warga sipil dan membangkitkan kembali memori kelam atas sejarah rentetan kekerasan operasi militer di masa lalu.
Narasi mulia "Food Estate" yang digaungkan pemerintah terbukti hanyalah manipulasi yang mengulang sejarah kegagalan ekologis dari era Orde Baru di Kalimantan hingga proyek SBY dan Jokowi.
Pemaksaan program cetak sawah justru menghancurkan sistem dan kedaulatan pangan lokal warga Papua. Masyarakat yang secara budaya hidup mandiri dari sagu dan umbi-umbian mendadak dimiskinkan karena hutan yang selama ini menjadi "supermarket" alami mereka telah digusur oleh ekskavator.
Dampak dari semua proyek ini bukanlah sekadar kerusakan lingkungan, melainkan sebuah bentuk pemusnahan peradaban dan genosida kultural.
Penghancuran dusun-dusun sagu yang disakralkan sama maknanya dengan membunuh identitas serta roh leluhur mereka.
Dokumenter ini secara tajam membandingkan nasib orang Papua dengan tragedi kepunahan penduduk asli di benua lain atau penderitaan sistematis yang sedang terjadi di Gaza Palestina hari ini.
Menghadapi ancaman kepunahan tersebut, masyarakat adat melakukan konsolidasi perlawanan cerdas melalui jalur kultural dan spiritualitas.
Suku Auyu melawan dengan menancapkan ribuan "Salib Merah" berpalang adat sebagai tanda larangan mutlak agar korporat tidak berani masuk.
Di sisi lain, Suku Muyu secara independen menggelar "Pesta Babi" (Awon Atatbon) dengan persiapan 10 tahun sebagai strategi menjaga kelestarian hutan sekaligus merapatkan barisan aliansi antarmarga dari ancaman penjajahan era baru ini.
Ayo tetap nonton film full-nya dibawah, sebagai bentuk dukungan dan gw yakin narasi filmnya jauh lebih dalam daripada paragraf ringkasan diatas.