@arieparikesit and how about this, kadang memamg bingung dengan sejarah peradaban di malaysia, masalah bab agama pun beberapa dari mereka tidah terima kalo nenek moyang mereka beragama hindu dan budha, dan bersikukuh bahwa mereka sudah beragama islam dari jaman nenek moyang
@Hon3ygainseeker@zhpm5rp18 Indonesians and Europeans have been doing mixed marriages since hundreds of years ago, even 10-15% of the Dutch population today has Indonesian blood, maybe you see Dutch women/men with blonde hair and blue eyes but their grandparents are Indonesian.
Un international du Laos 🇱🇦 a été arrêté en lien avec des matchs truqués à l'ASEAN Championship 2026
Il est soupçonné d'être l'un des joueurs opérant pour un syndicat criminel vietnamien lié aux paris
Bizarrement, il a été le seul pris pour le moment alors que nos sources indiquent qu'il est loin d'être un cas isolé...
Enquête avec @ed_aarons
https://t.co/EzP84snoMy
@goodlucksofea wkwk mustahil SG boikot indonesia 🤣🤣🤣 lawakan macam apa ini, Indonesia sumber bisnisnya orang-orang cina Singapura yakali mau di boikot 🤣🤣🤣
Messi’s farewell, Zizou’s return, and FIFA ASEAN Cup glory for Indonesia and Hong Kong, China…
This international match window had it all! 🌍📸
#FIFAWorldCup
Tadi malam, ketika melihat Indonesia untuk pertama kalinya mengangkat trofi ASEAN Cup di Gelora Bung Karno, saya berpikir bahwa sepak bola sedang mengajukan sebuah pertanyaan yang jauh melampaui lapangan: apa artinya menjadi bagian dari sebuah bangsa?
Sebagian besar pemain dalam tim nasional ini lahir di luar Indonesia. Bahkan, pada suatu titik, kesebelas pemain di lapangan semuanya lahir di luar kepulauan Indonesia. Sebagian adalah anak atau cucu orang Indonesia yang tumbuh di negara lain. Hal ini membuka perdebatan yang sangat kami kenal di Meksiko: apakah keturunan saja sudah cukup? Apa peran budaya, bahasa, pengalaman hidup, dan ikatan emosional dengan sebuah negara?
Meksiko secara aktif mencari talenta-talenta muda keturunan Meksiko yang lahir di Amerika Serikat. Banyak dari mereka tumbuh di antara dua budaya dan dapat merasa sepenuhnya Meksiko sekaligus Amerika. Hukum kami memungkinkan kedua kewarganegaraan tersebut; Indonesia menghadapi realitas hukum yang berbeda.
Mungkin karena itu, percakapan ini terasa begitu universal bagi saya. Bangsa-bangsa di abad ke-21 tidak lagi dapat dibatasi oleh garis perbatasan. Migrasi telah membuat jutaan orang memiliki lebih dari satu rumah, lebih dari satu bahasa, lebih dari satu ingatan, dan terkadang lebih dari satu cara untuk merasa menjadi bagian dari sebuah negara.
Sepak bola membuat semua ini terlihat dengan cara yang luar biasa emosional. Ketika seorang pemain yang lahir jauh dari tanah leluhurnya menyanyikan lagu kebangsaan dan mengenakan jersey negara orang tua atau kakeknya, belum tentu ia sedang memilih antara dua identitas. Bisa jadi, ia sedang menemukan bahwa keduanya adalah bagian dari dirinya.
…..
Anoche, viendo a Indonesia levantar por primera vez la Copa ASEAN de la FIFA orgullosamente en el Gelora Bung Karno, pensaba que el fútbol les puso a los amigos indonesios una pregunta que trasciende el fútbol ¿qué significa pertenecer a una nación o a un país o a una selección?
Una parte importante de este equipo que ganó anoche nació fuera de Indonesia, en algún momento los 11 jugadores en la cancha no habían nacido en el archipiélago. Algunos son hijos o nietos de indonesios que crecieron en países europeos y eso ha provocado una gran polémica ¿basta con tener ascendencia? ¿qué papel juegan la cultura, el idioma, la experiencia de vida y el vínculo emocional con el país? ¿en qué momento alguien deja de ser “diaspora” para convertirse simplemente en “indonesio”?. Me resulta imposible mirar esta discusión sin pensar lo que hemos ya discutido en México.
México busca activamente a jóvenes de origen mexicano nacidos en Estados Unidos. Muchos crecieron entre dos culturas y pueden sentirse (o no) plenamente mexicanos y estadounidenses al mismo tiempo. Nuestra legislación permite esa doble pertenencia, Indonesia enfrenta una realidad jurídica distinta, o acepta doble nacionalidad.
Quizá por eso el debate me parece tan universal. Creo que las naciones del siglo XXI ya no caben dentro de sus fronteras. La migración ha generado que millones de personas puedan tener más de una casa, más de un idioma, más de una memoria y, a veces, más de una manera de sentirse parte de un país.
El fútbol simplemente hace visible esa conversación de una manera extraordinariamente emocional. Cuando un país decide abrir lugar a esos jugadores, también está decidiendo algo sobre sí mismo: quiénes somos y a quiénes consideramos nuestros.