@usabperning_@TMidn_news ya nggak harus ke mana-mana juga. Harapannya liga 2 dan liga 3-nya jadi sesemarak liga 1 saat ini. Kualitas meningkat dengan masuknya mereka, jadwal teratur, penonton TV tertarik nonton, lalu industrinya makin hidup secara agregat ๐
@benchpigeon@tonobuwono Sepakat, pernah pakai argumen yang sama ke tone diskusi yang mirip. Harapannya sih ya supaya ekosistem liganya membaik secara keseluruhan ya ๐
https://t.co/n1xR3Vj1Ef
@usabperning_@TMidn_news ya nggak harus ke mana-mana juga. Harapannya liga 2 dan liga 3-nya jadi sesemarak liga 1 saat ini. Kualitas meningkat dengan masuknya mereka, jadwal teratur, penonton TV tertarik nonton, lalu industrinya makin hidup secara agregat ๐
@garagarabola_ Logika yang sama yang diharapkan nanti ada kalau timnas senior lebih sering "biasa" di papan atas asia dan atau bahkan masuk pildun, sehingga "beban ekspektasi" di satu kesempatan jadi lebih rasional. Supaya nggak terlalu "klo nggak sekarang, kapan lagi" ๐
@WiraSangJejaka@FaktaSepakbola Yaa gimana ya, pengen sih sama2 pengen, namun sepertinya supaya cuan dan sustain memang pasnya home dulu. Industri olahraga ini seperti industri hiburan yang lain, ya kita2 ini aslinya yang menghidupi sebagai konsumen supaya sustainable ๐
@AbumuidAmg@Bali_Football Sepakat. Mungkin ini benar. Lapangan bola belum dianggap sebagai lapangan kerja oleh sebagian suporter. Dengan ngerusuh, rusaklah iklim kerja di situ, ada yang kehilangan pekerjaan, belum lagi infrastruktur stadion yang bisa jadi dibiayai dari APBD. Duit rakyat lagi ujung2nya ๐
@narasibola@gilabola_ina Sepakat, Bang. Semoga enggak dipandang semata-mata dari kacamata glory-hunter ya, sehingga pencapaian adik-adik ini tidak terkesan jadi nihil. Gameplay seperti ini juga sudah merupakan pencapaian, menurut hamba. ๐
@Bali_Football Sepakat, Bli. Emang udah konsekuensinya ngikut di circle "abang-abangan" regional kayak gini ya ketemu tim-tim kuat. Yang support juga perlu sabar kalo jadinya timnas kayak tim yang nggak terlihat istimewa. ๐
@wunderkid_id Thanks, Min, udah menyuarakan. Kultur haus gelar (yangmana memang tetap perlu supaya kompetisi tetap kompetitif) punya sisi berlawanan dengan pembinaan pemain muda (yangmana juga perlu untuk sumber pemain yang kompetitif di masa mendatang). Bisa salah satu atau jalan barengan
@Almight02399450@manusiabum63191@idn_abroad Sepakat, kemungkinan besar memang ada celah, karena belum diatur persis siapa yang harus aktif melakukan sesuatu. Jadi, begitu semuanya pasif, ya nggak ada yang salah jadinya. Semoga memang demikian ๐
@sbmptnfess Bro, Plis. Itu jawabannya 6. Tanpa perlu kertas buat coret2, bisa di angan2 saja, gak pakai rumus2 rumit. Tapi plis siapapun dirimu sebagai sender, untuk kebaikanmu, kejar materi yang tertinggal sampe dirimu kirim ini di fess. Ini alasannya
https://t.co/dGXGx2XIzI
As a fisikawan ini VALID
Sedari sekolah kita diajarkan fisika tuh kaya gini
ketemu soal โ cari rumus โ masukin angka โ selesai.
Misalnya gini yah, ada suatu rumus dasar tentang gaya yaitu (F = m.a). Di sekolah, guru kita langsung ngajarin substitusi angka ke dalam rumus. Kita ga diajarin analisis seperti
โIni gaya dari mana?โ
โKenapa arahnya begitu?โ
โKalau kondisinya diubah, hasilnya gimana?โ
Padahal rumus F = m.a
Adalah sebuah cerita bahwa gerak benda akan berubah ketika diberikan sebuah gaya, dan perubahannya berdasarkan berapa besar massa bendanya...
End up di kelas fisika jadi kelihatan spt matematika mekanis. Padahal fisika berbeda dgn matematika, inti FISIKA adalah MODEL REALITAS ALAM. Harus belajar gimana analisis situasi dulu (free body, arah gaya, energi mengalir ke mana), baru rumus dipakai buat ngecek atau memperjelas.
Di jepang fisika jadi menyenangkan karena guru memakai konsep kehidupan sehari-hari.
Contoh simpel:
Untuk nyeritain materi GLBB (Gerak Lurus Berubah Beraturan) mereka memilih jelasin konsep "naik motor terus ngerem mendadak".
Itu sebenernya fisika apaa?? Apakah ada gaya gesek, percepatan, arah gerak, momentum berubah??
Nah hal itulah yang dianalisis, ketika sudah paham konsep maka siswa ga perlu hafal rumus udah tau harus menghitung seperti apa.
Tapi aku ga akan nyalahin guru guru fisika di Indonesia. Yang salah jelas pemerintah memberi gaji guru kecil bgt, belum lagi beban administrasi terlalu banyak. Guru jadi ga fokus bikin media pembelajaran yang baik dan juga fokus cari side hustle utk bertahan hidup.
@Bali_Football Lhaini, Bli. Contohnya ini waktu kitapun harap-harap cemas ketika Tijjani masuk provisional squad timnas pusat 2023 lalu
https://t.co/q08uyo3wIw
Tijjani Reijnders (24/CMF) ๐ณ๐ฑ๐ฎ๐ฉ gets his first called up Oranje ๐ฆ
He's in the provisional squad #UEFANationsLeague
Kenny Tete (27/RB) ๐ณ๐ฑ๐ฎ๐ฉ๐ฒ๐ฟ also back after impressing at the PL ๐๐ป
#FTReport
@usabperning_@TMidn_news Masih ada Liga 2 dan Liga 3 sih. Harapan baiknya, penonton yang meminati pemain lokal meningkatkan eksposur kedua divisi itu, kue keekonomian keseluruhan industri liga ini makin gede, tim liga 1 juga makin punya daya saing klo berkompetisi di Asia. In my humble opinion.
@TheThanos_100@sporttiaphari Probabilitas yang ketemu dengan angka besar, Bang. Semakin dia populer dipadu dengan faktor lain kayak misal, murah, keterjangkauan, luangnya waktu, dll, ya muncul deh karakteristik yang kayak gitu2 itu
@malikarrahiem@kndaru Sepertinya memang Gunung Anyar ini yang dimaksud Junghuhn, Pak. Berdasar Gmap dari pusat kota tua Sby, jaraknya sekitar 15 km. Masih ada lumpurnya hingga sekarang
https://t.co/8cDJ2EFhKC
@HadiGunawan1306 Dengan tesis yang sama, kali ini terjadi hal serupa di AFC U17, Bung. Indonesia dan Australia bertukar tempat. Walaupun turnamen belum selesai, namun menunjukkan prestasi di AFF U16 sah-sah saja umpama hanya jadi target antara. Target utama di Asia ๐