Gilaak.. ini keren banget, gak pernah sebahagia ini dengerin musik 90an ke 2026. Dia sudah tua rambut sdh panjang dan gw juga.. Ada yang tau ini siapa ? 😆
"Prabowo bedebah memang! Tidak ada satu pun lagi alasan bagi bangsa dan rakyat Indonesia untuk merasa puas terhadap pemerintahan yang dipimpin oleh Presiden Prabowo Subianto," ungkap salah satu orator aksi mahasiswa #MerebutKemerdekaan di dekat Bundaran HI. Menurutnya Prabowo adalah presiden yang gagal.
#Watchdoc
Fhatima Azzahra: DIAM!!!!
Ada rasa kecewa yang sangat dalam di balik kemarahannya seperti seseorang yang sudah berkali-kali disuruh diam, diabaikan, dihadang, dan akhirnya tidak sanggup menahan unek-unek lagi.
Bukan marah yang kosong, tapi marah yang lahir dari rasa frustasi dan kepedihan karena pemerintah (dan aparat) dianggap tidak pernah benar-benar mau mendengar suara masyarakat.
FATIMAH KEREN BANGET KAMU!! 🔥🔥🔥
"KALAU ANDA MASIH BERBICARA, DAN TIDAK MEMBIARKAN SAYA MENGATUR MEREKA, SAYA AKAN SURUH MEREKA TEROBOS!"
#demo#RebutKemerdekaan
Hadir Membawa Harapan di Tengah Duka Bencana NTT 🤝🧡
Merespons gempa bumi Magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Mbay, Nagekeo, Flores, NTT, Tim Kesehatan MDMC Ende langsung bergerak cepat ke lokasi pengungsian.
Di bawah komando dr. Baim, para relawan medis Muhammadiyah tak kenal lelah memberikan layanan kesehatan bagi warga terdampak. Mulai dari pemeriksaan rutin, pengobatan darurat di malam hari, hingga memberikan dukungan moral agar mereka tetap sehat dan kuat di tenda-tenda pengungsian.
Senyum tulus dan ucapan "Terima kasih, Muhammadiyah" dari saudara-saudara kita di sana menjadi penguat semangat para relawan yang terus mengabdi tanpa henti.
Sahabat, duka mereka adalah duka kita bersama. Perjuangan belum usai, dan mereka masih sangat membutuhkan uluran tangan kita. Mari ringankan beban warga terdampak gempa NTT dengan menyalurkan sedekah dan donasi kemanusiaanmu.
💳 Salurkan donasi terbaik Anda melalui rekening Lazismu Muhammadiyah yang tertera pada video (Sertakan Kode Unik 013 di akhir nominal transfer).
🌐 Atau kunjungi tautan: https://t.co/bBvIu7nQSZ (cek link bio)
Satu kebaikan darimu, wujudkan sejuta harapan bagi mereka. ✨
#Lazismu #MDMC #Muhammadiyah #IndonesiaSiaga #GempaNTT
Sedih saya, sampai Ketum Muhammadiyah perlu menjelaskan hal yg sudah mestinya para tokoh pahami.
Sehingga tak perlu keluar pernyataan yg berpotensi membelah umat, walau ada fatwa MUI/Nu sekalipun. Menghindari mudharat itu juga utama.
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, menegaskan bahwa Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) adalah keniscayaan bagi umat Islam di tengah arus globalisasi.
Haedar Nashir menjelaskan bahwa KHGT merupakan respons terhadap keniscayaan globalisasi, yang ia gambarkan sebagai “kereta raksasa” yang dapat menggilas siapa saja yang tidak siap, namun menjadi kendaraan penting bagi mereka yang mampu menghadapinya.
Dalam perspektif universum, Islam disebut sebagai agama kosmopolit yang mengandung nilai-nilai universal, sebagaimana termaktub dalam Al-Qur’an, “Wama arsalnaka illa rahmatan lil alamin” (QS. Al-Anbiya: 107), yang menegaskan bahwa risalah Islam ditujukan untuk seluruh alam dengan nilai-nilai rahmat.
Haedar menyoroti sejarah Islam yang telah menunjukkan sifat globalnya sejak dulu. Islam menyebar dari Jazirah Arab hingga ke Magribi, Eropa (Andalusia, Balkan), Rusia, Asia Timur, dan Asia Tenggara, meskipun dengan keterbatasan transportasi pada masa itu. “Ini bukti nyata bahwa Islam telah mengglobal sejak awal, sebagai wujud rahmatan lil alamin,” ujarnya.
Oleh karena itu, di era globalisasi yang menghapus sekat administratif, kehadiran kalender hijriah global menjadi mutlak untuk menyatukan umat Islam dengan satu tanggal dan satu hari di seluruh dunia.
Ia menegaskan bahwa Muhammadiyah tetap berpijak pada identitas kebangsaan Indonesia, sebagaimana diwujudkan dalam dokumen resmi Pancasila dan Darul Ahdi Wasyahadah. Namun, untuk kepentingan universal, kalender global ini dianggap sebagai langkah strategis yang tidak dapat dihindari.
“Kita tidak lagi bisa hanya berbasis kalender lokal, kecuali untuk keperluan tertentu. Kalender global adalah jihad akbar dan ijtihad umat Islam menghadapi perkembangan global,” tegas Haedar.
Dari perspektif kesatuan, Haedar menekankan pentingnya ukhuwah (persaudaraan) sebagai keniscayaan untuk menjaga keutuhan umat Islam, baik di Indonesia maupun dunia. Ia merujuk pada Al-Qur’an, “Innamal mukminuna ikhwah” (QS. Al-Hujarat: 10), yang memerintahkan umat Islam untuk bersaudara, serta perintah untuk berpegang teguh pada tali Allah dan tidak berpecah belah (QS. Ali Imran: 103).
Namun, ia mengakui bahwa ukhuwah sering sulit dipraktikkan dalam dua isu besar: konflik Palestina dan penentuan kalender hijriah.
Haedar menyebut penentuan kalender hijriah sebagai “jalan terjal” bagi Muhammadiyah, terutama karena perbedaan pandangan di tingkat lokal dan global. Ia mencontohkan kebingungan umat awam ketika tanggal penting seperti 1 Ramadan, 1 Syawal, atau 10 Zulhijah berbeda-beda, bahkan hingga dua atau tiga hari, padahal peredaran bulan, matahari, dan bumi bersifat eksak.
Meski demikian, Haedar menegaskan bahwa Muhammadiyah terbuka untuk dialog dan musyawarah demi mencapai mufakat. “Prosesnya mungkin lama, bisa 10, 50, atau 100 tahun, tapi Muhammadiyah akan sabar menanti,” ujarnya.
Ia juga mengapresiasi inisiatif individu dan organisasi lain yang telah merintis gagasan serupa, serta mengajak semua pihak untuk menyisihkan kepentingan pribadi demi persatuan umat. Kalender global tunggal mungkin punya kekurangan, tapi sistem lain juga tidak sempurna. “Mari duduk bersama untuk satu tujuan: satu hari, satu tanggal,” ajaknya.
Dari sisi saintifik, Haedar menjelaskan bahwa Muhammadiyah menggunakan metode hisab sebagai salah satu parameter kalender global, di samping prinsip satu hari satu tanggal untuk seluruh dunia. Ia menegaskan bahwa hisab dan rukyat sama-sama memiliki dasar dalam Al-Qur’an dan hadis, seperti hadis dari Ibnu Umar, “Fain gumma faqdurullahu,” serta ayat yang menyebutkan kepastian peredaran matahari dan bulan (QS. Yunus: 5).
Haedar menekankan bahwa perubahan metode tidak perlu ditakuti, karena metode hanyalah wasilah (sarana) untuk mencapai tujuan. Muhammadiyah sendiri pernah beralih dari rukyat ke hisab hakiki, menunjukkan keterbukaan terhadap pembaruan.
Ia juga merujuk pada konsep falsifikasi dalam ilmu pengetahuan Barat, yang membuka peluang untuk menguji dan memperbarui teori. “Jika kalender global ini dikritik, kami terbuka. Bahkan ijtihad yang salah pun mendapat pahala,” ujarnya, mengutip prinsip bahwa ijtihad adalah kunci peradaban Islam.
Haedar berharap kalender ini tidak hanya menjadi milik Muhammadiyah, tetapi milik umat Islam secara keseluruhan. “Hilangkan nama Muhammadiyah jika perlu, yang penting kita bersatu untuk satu kalender global,” katanya.
Ia juga menyoroti kebutuhan generasi milenial dan Gen Z akan kepastian kalender, serupa dengan kalender Masehi yang telah mapan, seperti perayaan Natal yang selalu jatuh pada 25 Desember di seluruh dunia.
Meski tantangan masih besar, Haedar optimistis bahwa dengan dialog, musyawarah, dan keterbukaan terhadap ilmu pengetahuan, kalender hijriah global tunggal dapat terwujud. “Jika tidak sekarang, mungkin 25, 50, atau 100 tahun ke depan. Tapi jangan terlalu lama, karena generasi muda menanti,” pungkasnya.
Sumber: https://t.co/Ki6OYgVFy8
#SaatnyaKalenderHijriahGlobalTunggal #SiapLebihAwal #Muhammadiyah