Pak SBY saat jadi Tentara udah puas, karir dari AKABRI, Komandan Peleton, Pangdam, Kaster ABRI, sampai Jenderal TNI ga terputus di tengah jalan.
Jadi obsesi-obsesi di Militer ga ada yang tertunda, dan ga perlu dipaksakan ke lingkungannya lagi.
Beda ama Presiden kita saat ini.
Gw bukan buzzer sumpah.
Cuma mau jelasin dari sisi perpajakan.
Iuran JHT itu sumbernya dari pekerja dan pemberi kerja.
>Iuran JHT yang dibayar pekerja sudah menjadi pengurang penghasilan kena pajak (deductible) saat menghitung PPh 21.
>Nah, bagian yang dibayar pemberi kerja sebenernya adalah kompensasi buat pekerja juga kan?
Secara konsep, itu tetap penghasilan pekerja.
Bedanya, negara menunda pemajakannya. karena kan kita ga nerima manfaat langsung, tapi kita dibayarin iuran untuk dapat manfaat di masa mendatang.
Selama uangnya masih nyangkut di BPJS Ketenagakerjaan dan belum bisa dinikmati pekerja, ya belum dipajaki.
Kapan jadi objek pajak? Saat benefit itu diterima. Alias saat JHT dicairkan.
Pemerintah ngeselin iya.
Tapi kalo soal pencairan JHT ini, sistem pemajakannya memang begini. Silahkan saja cek di negara2 lain. Ga ada isu pemajakan berkali2 di kasus ini. cuma beda waktu pemajakananya ajaa
Yang dipajaki adalah penghasilan yang selama ini pajaknya ditunda karena manfaatnya belum diterima.
Demikian.
Kalo udah ngetik panjang2 masih dikomen "udah mulai jadi mitra bakom sekarang?"
emang anjjj
1/
Jangan terkecoh.
Kasus hukum Nadiem Makarim tidak berhenti pada Chromebook. Kini publik juga harus mencermati dugaan kasus pengadaan Google Cloud di Kemendikbudristek.
Ini bukan lagi soal satu produk.
Ini soal pola.
https://t.co/3qqXzzgXLd
SESAKIT APAPUN KAMU, JANGAN PERNAH PILIH RUJUKAN RS MARINIR!
Di rujuk ke RS Marinir untuk berobat poli gigi,
Ngga sarapan, tiba jam 6 pagi, untuk mengantri,
Niat hati, agar cepat tertangani,
Eh ternyata, baru masuk poli gigi siang hari.
“Maaf ya mas, nunggunya lama” ucap suster
“Disini, urutannya keluarga TNI dulu mas”
ucap front desk
Triase pun geleng-geleng ada sistem
“Keluarga TNI” ini 🤡
gue yg ngantri dari jam 6 pagi baru selesai semuanya termasuk rontgen panoramic di jam 12.40 siang.
1/2 HARI WAKTU GUE ABIS
1/
Kasus Chromebook bukan sekadar perkara laptop.
Ini adalah cerita tentang bagaimana pendidikan nasional bisa diseret oleh arogansi kekuasaan, konflik kepentingan, tata kelola yang rusak, dan kultus teknologi.
Saya menyaksikan sebagian proses itu dari dekat.
Di antara wajah-wajah yang berganti, Persib tetap mengenali dirinya sendiri.
Persib bukan cuma soal tim yang bermain setiap pekan. Ada memori yang dijaga, ada nilai yang diwariskan, dan ada identitas yang terus dirawat.
Masih ada Jupe dan Made, dua hero 2014 yang kini tetap menjadi bagian dari tim. Mereka mungkin tak lagi bertarung di lapangan, tapi tetap membawa memori, pengalaman, dan winning culture dari generasi yang mengakhiri penantian panjang Bobotoh.
Ada Klok yang, sebagai kapten, punya peran besar dalam menjaga standar dan atmosfer di ruang ganti. Presence-nya mungkin tidak selalu tercermin di statistik, tapi pengaruhnya terasa dalam cara tim ini menjaga mentalitas dan arah.
Dan ada Dado. Pemain senior yang dihormati, sosok lokal yang membuat Persib tetap terasa rooted pada tanah dan kultur yang membesarkannya.
Jadi kalau Persib juara lagi, rasanya itu akan selalu berarti lebih dari sekadar trofi.
Karena pada akhirnya, sebuah klub besar bukan cuma soal siapa yang bermain hari ini, tapi juga tentang siapa yang memilih untuk stay and carry the memory, character, and soul of the club. 💙
Menarik nonton pre-match team talk Persib vs Persija.
Bojan bilang jgn kebanyakan protes ke wasit, “referees, foreign, FIFA… one of the best in Asia. so don’t talk to him. focus mentality man. the game is mental more”.
Marc Klok lebih ke emotional trigger: “life or death. Life or death. win or win. win or win”
Fede Barba lebih ke tactical layer, ceramah, beberapa menit isinya full daging jelasin compactness, counter-press, dan exploit ruang saat transisi menyerang 😭
Bojan: “how we think”
Klok: “how we feel”
Barba: “how we play”
LENGKAP
Jerome asumsiin semua ASN ga berkualitas dan ga berintegritas. Inget, jadi berintegritas ga perlu embel, titel, latar belakang mentereng. Ga perlu lulus dari Harvard untuk bisa jujur di kerjaan.
Kalau mau bela jangan pakai narasi begini, fokus ke kasus hukum chromebook dia.
Problem Nadiem di sini adalah typical elit Jakarta: merasa paling pinter dan ga butuh belajar kondisi nyata, terutama di daerah. Iya he eh tau mereka pinter, belajarnya sampe ke amerika segala. Tapi ya kalo empirics di lapangan ga paham, proses jalannya aturan ga paham, ya gini.
Sedang menahan diri untuk komentar, tapi kok ya gemes.
Sudah ada 2 Direktur (PNS) sudah dapat vonis, M dan SW.
Seakan-akan, cuma 2 nama saja (NM & IA) dalam kasus ini.
🙂
Menarik melihat langkah SMAN 1 Pontianak. Secara komunikasi publik, mereka sedang melakukan 'Moral High Ground'. Mereka menolak narasi 'ulang lomba' yang justru berisiko merusak mental siswa dan sportivitas. Mereka tidak menyerang MPR, tapi mengunci argumen pada transparansi poin. Sebuah contoh manajemen krisis yang sangat dewasa di level sekolah menengah. Pendidikan bukan cuma soal menang, tapi soal kejujuran sistem