Dari sekian banyak pidato, pidato kali ini bener bener nyesek
Rakyat yang bayar gaji kalian, dikritik malah dibales:
“EMANG GUE PIKIRIN” dan disambut tepuk tangan yang meriah
Kami menuntut:
1. Audit total anggaran BGN Rp 268T buka ke publik, libatkan BPK
2. Hentikan sentralisasi logistik, kembalikan ke swakelola sekolah
3. Cabut semua yayasan terafiliasi elit dari proyek MBG
4. Evaluasi menyeluruh sebelum ekspansi 33.626 korban sudah cukup alasan
Baca tulisan kami:
https://t.co/OlTaxlS5Vs
Teman-teman mohon bantuannya bersuara agar kasus uang jemaat sebesar 28 miliar yang raib di tipu oknum BNI bisa selesai.
Kasus ini sudah berlangsung lama namun tak ada itikad baik,.
@DivHumas_Polri@KejaksaanRI@prabowo
No viral no justice kata @mohmahfudmd
Bantu RT 🙏
Guys, Mahfud MD baru ngomong sesuatu yang bikin gua tidak bisa langsung lanjut scrolling begitu saja.
Di podcast terbarunya dia bahas anggaran MBG
yang sudah lama jadi bahan omongan tapi baru benar-benar diekspos dengan data yang konkret.
Dan yang bikin gua berhenti adalah satu detail kecil yang justru paling menggambarkan betapa bermasalahnya tata kelola program ini.
Kaos kaki.
Rp100.000 per pasang.
Untuk 17.000 pasang.
Total 6,9 miliar rupiah.
Mahfud sampai angkat kaos kakinya sendiri
di depan kamera dan
bilang kaos kaki yang dia pakai itu
Rp100.000 dapat tiga pasang dibeli online.
Dan untuk anggaran MBG satu pasang
kaos kaki dihargai Rp100.000.
Untuk program makan siang anak-anak.
Kaos kaki.
Tapi ini bukan hanya soal kaos kaki yang overpriced. Ini adalah simptom dari sistem
yang jauh lebih bermasalah.
Mahfud ceritakan data dari survei Policy Research Center yang melibatkan 1.168 responden semuanya penerima langsung MBG. Hasilnya sangat mengejutkan.
88 persen mengatakan program ini lebih banyak dinikmati oleh politisi dan pengelola dapur daripada anak-anak penerimanya.
87 persen mengatakan MBG rawan korupsi.
79 persen mengatakan kualitas makanan sengaja diturunkan untuk mengambil keuntungan.
Dan yang paling menohok dari semua pihak yang diuntungkan, anak-anak dan keluarga yang seharusnya jadi penerima manfaat utama hanya dapat 6,5 persen.
Sementara elit dan pejabat publik dapat 44,5 persen
dan pengelola dapur SPPG dapat 44 persen.
Program yang katanya untuk anak-anak hanya 6,5 persen manfaatnya yang benar-benar sampai ke anak-anak.
Mahfud juga cerita pengalamannya sendiri keliling daerah.
Di NTB dia ketemu orang yang sudah punya dapur MBG dan penghasilannya per bulan sudah ratusan juta.
Sudah jadi bahan candaan di kalangan tertentu
eh kamu udah punya dapur belum?
Dan yang punya dapur itu bukan orang sembarangan. Itu aktivis,
orang-orang yang punya koneksi politik,
yang punya akses ke jaringan yang tepat.
Tapi yang menurut gua paling penting dari semua yang Mahfud katakan adalah satu pertanyaan yang dia lempar dengan sangat jelas.
Prabowo sudah keras-keras ancam koruptor. Programnya bagus.
Niatnya bagus.
Tapi yang di bawah tidak menjalankan dengan benar,
laporannya tidak akurat,
dan tidak ada satupun aparat hukum
yang memeriksa kebocoran ini secara serius.
KPK diam.
Kejaksaan diam.
Kepolisian diam.
Padahal kasusnya ada di mana-mana.
Mahfud bilang sesuatu yang sangat tepat
kalau pemerintahan berganti suatu saat nanti
besar kemungkinan semua masalah hukum dari program ini akan terbongkar sekaligus.
Karena sejarahnya selalu begitu.
Yang sekarang aman-aman saja
rezim berganti
semuanya dibuka.
Lebih baik dari sekarang ditata dengan benar.
Lebih baik dari sekarang ada yang berani periksa. Karena semakin lama dibiarkan semakin dalam masalahnya.
MBG itu programnya benar dan rakyat yang benar-benar kekurangan memang senang mendapatkannya. Tidak ada yang menyangkal itu.
Tapi antara niat baik di atas dan eksekusi di lapangan ada jurang yang sangat lebar yang diisi oleh kepentingan politik,
jaringan rente,
dan kebocoran yang sistematis.
Dan selama tidak ada yang mau memeriksa dengan serius uang pajak kita terus mengalir ke kaos kaki seharga Rp100.000 per pasang dan dapur-dapur yang pemiliknya sudah bisa mentraktir orang makan malam mewah setiap bulannya.
Theologian, philosopher, and missionary priest Fr. Nico Syukur Dister, OFM, is remembered for his enduring contribution to theology, philosophy, and religious life in Indonesia.
https://t.co/tJbzQhLmKH
Pemimpin Gereja Katolik Paus Leo XIV menegaskan tidak akan takut atau pun mundur dari sikapnya menentang perang, meski mendapat serangan langsung dari Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.
"Saya akan terus berbicara lantang menentang perang, mendorong perdamaian dan dialog," kata Paus Leo kepada Reuters dalam penerbangan menuju Aljazair, Senin (13/4).
Lebih jauh, Paus Leo juga menegaskan tidak takut terhadap tekanan dari Washington. "Saya tidak takut terhadap pemerintahan Trump, atau untuk berbicara secara lantang," ujarnya.
📸: Dok. Reuters.
Baca selengkapnya dengan klik link di bio. Cari tahu berita update lainnya dengan download aplikasi kumparan di App Store atau Google Play.
📝: newsupdate | update | news | quote | R176 | E051
#bicarafaktalewatberita #kumparan
There has been no harsher critic to possible U.S. military action in Iran than Pope Leo XIV:
“War is back in vogue and a zeal for war is spreading. The principle established after the Second World War, which prohibited nations from using force to violate the borders of others, has been completely undermined.
“Peace is no longer sought as a gift and a desirable good in itself, or in the pursuit of the establishment of the ordered universe willed by God, with a more perfect form of justice among men and women.”
“Instead, peace is sought through weapons as a condition for asserting one’s own dominion.
“This gravely threatens the rule of law, which is the foundation of all peaceful civil coexistence.”
Kalau ketemu orang dengan “coretan” abu di dahinya, mereka umat Katolik yang baru aja merayakan Rabu Abu, hari pertama masa Prapaskah, bulan puasanya orang Katolik.
Tahun ini barengan nih dengan bulan Ramadan umat muslim yang sebagian hari ini udah mulai puasa juga. Semoga lancar-lancar puasanya dan semangat beribadah ya teman-teman ☺️
Yang klinis dibantah, yang klenik disembah. Yang pakar diragukan, yang sensasional dipertontonkan. Orang pintar dibilang bodoh, orang bodoh merasa pintar. Ternyata, sebaik-baiknya makan bergizi gratis, negeri ini lebih membutuhkan pendidikan gratis