Gak pake lama, FUZE garapan David Mackenzie (Hell or High Water) udah langsung ngasih kita ketegangan dari menit awal. Ada bom tua seberat 500kg bekas peninggalan perang dunia ke-2 yang gak sengaja ditemuin sama pegawai konstruksi di tengah kota London yang sibuk. Dari sini kekacauan dimulai. Tentara dan polisi dikerahin buat evakuasi warga dan ngelakuin proses penjinakan bom itu.
Ketika kamu berpikir FUZE bakal berakhir jadi film tentang penjinakan bom, jelas kamu salah! Lewat naskah Ben Hopkins, Mackenzie dengan “licik” udah nipu kita mentah-mentah.
FUZE punya kejutan, gak cuman satu, gak cuman dua, jumlahnya bahkan lebih banyak dari semua twist filmnya Shyamalan digabungin. Ini yang kemudian bikin jadi menarik, dan juga bikin susah untuk ditulis reviewnya tanpa bocorin apapun.
Ya, FUZE adalah jenis film yang makin dikit kamu tau makin baik. Sebuah action thriller yang bakal bikin para ‘penyepong’ twist berlapis bakal senang. Kamu beneran gak tau apa yang kamu tonton sampe ia berakhir nanti. Tiap kali kamu mikir “oke, setelah ini pasti bakal gini”, boom!!—ada twist lagi. Twist yang bikin kamu ngakak sendiri karena meski sebenarnya udah dikasih petunjuknya dari awal, tapi sering kelewat. Karena gak cuman Mackenzie langsung ngegas sejak menit awal yang bikin penontonnya gak punya waktu buat mencerna, tapi juga pinter mainin ekspektasi penonton yang udah biasa nonton film serupa. Dia ngasih ketegangan ala bomb-disposal klasik, sekaligus bikin kita bertanya-tanya “woi! Apa yang sebenarnya lagi terjadi?!”
Nah! Sangking ngebut temponya, kita gak dapat itu apa namanya character development. Bukan karena malas, tapi emang dibutuhin untuk bisa terus ngejaga misterinya di plot yang serba ketat ini agar bisa sampe ujung. Tiap karakter, dari Aaron Taylor-Johnson sebagai perwira penjinak bom. Theo James, Sam Worthington, Gugu Mbatha-Raw, semuanya punya peran penting dengan motivasi dan agenda pribadi yang bikin diajak terus nebak-nebak siapa dan kenapa.
FUZE jadi sajian thriller yang serba surprise. Surprise karena filmnya berbelok-belok dari sekedar penjinakan bom menuju sesuatu yang beneran beda. Suprise karena ia datang tanpa banyak gembar-gembor tapi jatuhnya enjoyable. Ini jelas bakal menghibur buat siapa aja yang nyari film yang dipenuh kejutan, film yang gak perlu mikir terlalu dalam, tapi cukup pintar buat bikin kamu tetep betah nunggu sampe akhir.
3,5/5
Masih ngasih kita permainan petak umpet mematikan yang sama, dan juga korban: si pengantin perempuan yang sama—bahkan Samara Weaving pun masih pakai kostum gaun berdarah yang sama. Ready or Not 2: Here I Come ngelanjutin apa yang sebenarnya gak penting-penting amat buat dilanjutin. Ya, sebagai sekuel, ia mesti aja harus punya sesuatu yang lebih buat dijual, dalam kasus Here I Come, setelah Grace ngeledakin suami, mertua dan keluarga iparnya, kini—bahkan belum sempat ia bener-bener pulih karena set waktunya langsung ngelanjutin dari ending film pertamanya— ia terpaksa terjebak lagi dalam mimpi buruk yang sama, tapi dengan taruhan yang lebih gede, karena pesertanya bukan lagi dari keluarga Le Domas.
Universe-nya jadi lebih lebar dari sekedar keluarga suami dan mansion mewah. Sekarang ngelibatin elite global: orang-orang kaya gila pemuja setan dari seluruh yang berlomba memburu Grace untuk jadi yang paling berkuasa. Sayangnya, pelebaran skalanya justru jadi pedang bermata dua. Di satu sisi, kita bisa ngeliat gimana ekspansi worldbuiling-nya yang dikit banyak udah ingetin sama sekuel John Wick. Kita jadi tau kalau ritual tumbal sinting ini ternyata bukan tradisi dari satu keluarga aja, melainkan bagian dari jaringan kekuasaan dunia. Adegan-adegan gore bercampur dark humor masih ada, Samara Weaving juga balik ngebawa energi yang sama gila dan tangguhnya sebagai Grace, dan di sini ia gak lagi sendiri, ada Kathryn Newton yang didapuk jadi adik perempuannya. Meski sekali lagi, juga bukan karakter penting yang ngaruhin jalan cerita.
Tapi di sisi lain, Here i Come kehilangan apa itu yang namanya keintiman dari pesan besar anti pernikahan yang bikin ketegangan film pertama jadi begitu efektif dan berkesan. Emang masih ada sisi fun lewat momen bunuh-bunuhan yang brutal dan kreatif, tapi rasanya seperti pengulangan yang sama, gak ada yang baru di sini. Sekarang dengan menjadi terlalu besar, terlalu rame, dan terlalu berisik, bikin efek klaustrofobiknya untuk home invasion survival horor jadi berkurang drastis. Beberapa plot terasa dipaksain demi shock value, dan endingnya… well, sebenarnya cukup fun buat yang nyari closure, tapi jadi agak terlalu rapi untuk film yang seharusnya bisa diakhiri sebuah kekacauan total.
Masih menghibur, masih brutal dan masih ngasih Samara Weaving yang tangguh. Tapi jangan terlalu berharap Here I Come bisa ngasih pengalaman yang sama seperti pendahulunya. Duo Matt Bettinelli-Olpin dan Tyler Gillett seperti terlalu sibuk sendiri buat ngelebarin universenya dengan nambahin dan maksain terlalu banyak hal, sampai lupa kalo yang bikin kuat film pertamanya itu hanya kegilaan sederhana, sisi misterius dan ketegangan personal yang efektif.
3/5
Ini mah beneran di luar perkiraan BMKG! Gak nyangka kalao Ikatan Darah bisa nerusin legacy The Raid sebagai film berantem terbaik yang dipunyai Indonesia. Ya, semua yang kamu cari di sebuah martial arts action movie ada di sini. Dari karakter jagoan tangguh yang gak ada capeknya, villain-villain ikonik, world building solid, serta tentu saja yang paling utama: koreografi pertarungan yang dahsyat, dan brutal tanpa ampun
Sidharta Tata yang nyebrang dari sutradara spesialis horor ternyata nyaman banget di dunia barunya. Semua dieksekusinya dengan baik, dari duel satu lawan satu sampe satu lawan banyak, dari perkampungan kumuh sampe ruang sempit, tangan kosong atau pake senjata tajam, dengan eskalasi yang terus naik sampe meledak di ujungnya lewat final showdown berdarah-darah. Semuanya dibungkus sama koreo jempolan, editing cepat, sound dan camera works apik yang bikin experience tiap pertarungannya jadi berasa nonjok!
Bahkan untuk film yang jualan action, Ikatan Darah juga masih peduli sama karakter dan ceritanya. Narasinya gak sampe luar biasa memang, sederhana malah; tentang mantan atlet silat nasional perempuan yang kepaksa berurusan sama gangster sadis yang dipimpin sama seorang pendeta sesat demi nyelametin abangnya. Tapi ini udah lebih dari cukup untuk ngasih emosi dan bikin kita peduli sama karakter dan relasi keluarga mereka. Narasinya walaupun simpel tapi bisa bekerja maksimal karena emang didukung sama casting sampe akting yang kuat, karakterisasi musuh-musuhnya yang unik—tukang jagal, preman Sunda yang demen makan gorengan, sampe bos besar dalam wujud Pendeta gila— termasuk humor-humor tipis dan tek-tekoan dialognya yang ngalir natural banget sampe ke bahasa-bahasa kasarnya yang gak pake malu-malu lagi.
Gak ada yang pernah menyangka kalau Ikatan Darah datang dengan kekuatan penuhnya sebagai sebuah salah satu martial arts action movie terbaik Indonesia yang berhasil ngebawa spirit The Raid. Sebuah pertunjukan brutal dan berdarah-darah dari sebuah pertarungan hidup mati demi membela keluarga.
Ikatan Darah udah tayang mulai hari ini di bioskop!
4/5
Ghost in the Cell buat saya jelas lebih baik dan lebih menghibur dari karya terakhir Joko Anwar; Pengepungan di Bukit Duri. Keliatan banget kalo seorang Joko Anwar coba lebih lepas dan having fun banget dengan mainan favoritnya: darah dan horor yang kali ini dicampur kental dengan humor absurd. Bayangin aja: segerombolan napi dari blok C di sebuah lapas berantem sembari joget-joget demi rebutan “aura positif” biar gak dimutilasi sama hantu. Premis Konyol memang, tapi sekaligus menarik karena bisa bekerja berkat timing-nya pas dan chemistry solid dari cast yang separuhnya diisi sama wajah-wajah familiar aktor favorit Joko Anwar.
Di sini, Joko Anwar lebih berani dalam kritik sosialnya. Gak lagi pakai metafora halus-halusan biar semua penontonnya bisa langsung nangkep, termasuk yang paling bodoh sekalipun, termasuk dengan lantang nyebut “ Indonesia “ sembari majang bendera merah putih di depan gedung lapas.
Joko Anwar langsung ngegas buat lepasin unek-unek dan keresahannya buat nyinyirin pemerintah tanpa ampun, nyebut-nyebut politisi busuk yang jadiin agama buat nafsu pribadi, eksploitasi para napi sebagai komoditas, termasuk sentilan sospol, lingkungan dan ketidakadilan sistemik yang disampaikan lantang. Nah! Masalahnya sangking terlalu latangnya, ini udah kayak iklan layanan masyarakat mahal yang efeknya bisa bikin sebagian penontonnya jadi eneg karena terus disuapi sama kritik sosial di hampir tiap dialognya.
Penjara di sini gak cuma tempat tahanan doang, ini juga playground yang brutal sekaligus miniaturnya Indonesia di mana Abimana Aryasatya Endy Arfian, Bront Palarae, Morgan Oey, Lukman Sardi—semuanya dilempar ke dalam penjara sempit, lembap dan kotor, sebagai perwakilan dari kehidupan masyarakat kita yang kejepit di ruang sempit bau keringat, darah, dan korupsi. Di sini, mereka saling sikut, saling tusuk, tapi juga dipaksa berkolaborasi karena punya musuh bersama yang gak kasat mata.
Selain teknis dan visual Ical Tanjung yang udah pasti ok, dinamika antar karakter ini juga jadi jantung Ghost in the Cell. Tek-tokanya asik, humornya cukup banyak yang kena, kata-kata dan umpatan kotor keluar tanpa filter pun terasa natural dari jajaran para pemainnya yang juga tampil solid. Kudos terutama buat Aming, bintang Ghost in the Cell yang sayangnya terlalu cepat meredup, padahal karakter Tokek-nya bisa seru tuh kalau dieksplorasi lebih jauh.
Selain kritik sosial yang terlalu ‘berisik ’, di 20-25 menit terakhir, momentumnya mulai kedodoran. Seperti penyakit Joko Anwar di banyak filmnya, ia gak mampu nutup filmnya sebaik ia ngebukanya. Bos terakhir seperti terlalu bodoh, cepat dan mudah dikalahin cuman karena trik berulang dari panggilan telepon tanpa nama yang konyol. Banyak plot thread yang mau ditutup sekaligus. Beberapa twist yang seharusnya bisa powerful jadi melempem karena udah terlalu banyak masuk angin dari awal.
Tapi dibalik segala kekurangannya, kali ini saya bisa maafkan karena energi liar, brutal dan kebebasan yang dikasih sama Joko Anwar yang lagi having fun ini bisa nular ke penontonnya yang menikmati tiap kematian, tiap humor, teror dan tiap jogetan absurd-nya. Meski ya, mestinya penonton kita bisa diajari satir yang lebih cerdas, gak perlu kelewat cerewet seperti ini. Sisanya, Ghost in the Cell udah berhasil menunaikan tugasnya jadi film horor-komedi Indonesia yang paling berani dan paling entertaining tahun ini.
3,5/5
Dari kunjungan berdarah-darah ke rumah ortu pacar di Why Don’t You Just Die! (2018), Kiril Sokolov mencoba ngelakuin upgrade besar-besaran dengan ngelebarin panggung gore fest-absurd stylish Rusia-nya ke tanah Amrik lewat They Will Kill You.
Ada orang kaya pemuja iblis yang doyan numbalin orang miskin buat hidup abadi di yang ngelibatin petak umpet, kejar-kejaran dan pembantaian brutal di sebuah apartemen pencakar langit mewah di New York. Ya, dengan aturan main yang hampir sama, gak heran kalau banyak yang bilang They Will Kill You ini seperti sekuel “tiri” dari Ready or Not yang sesungguhnya juga udah punya seri lanjutannya sendiri tahun ini.
They Will Kill bisa dibilang adalah upgrade sekaligus downgrade Why Don’t You Just Die!. Upgrade karena Kirill Sokolov bikin skala teknisnya lebih gede, terutama di set-nya yang pindah dari rumah calon mertua yang sempit ke apartemen mewah New York. Sokolov udah bikin seluruh gedung The Virgil jadi arena bermainnya yang dipenuhi warna merah darah, mutilasi sampai ke level brutal yang bikin kita ikut bersorak!
Dengan bujet lebih besar bikin brutality-nya jelas juga naik kelas. Kalau di Why Don’t You Just Die! kita cuma dikasih pertarungan brutal di ruang tamu sempit dengan palu, bor listrik, dan shotgun, di sini penontonnya makin lebih puas karena si para satanis sadis jahanam di sini susah matinya
Nah, downgrade-nya ia gak lagu punya soul yang lepas kayak di Why Don’t You Just Die! Dulu Sokolov terasa nyantai dan nyaman bikin sebuah kekacauan keluarga personal, klaustrofobik, dengan gigitan sosial yang tajam. Di They Will Kill You, semua kesenangan yang dijejeli ke penontonnya seperti dipaksain buat terlihat keren dengan ngasih banyak koreo dan momen pembunuhan stylish tapi berasa kosong gak berkesan, termasuk ngorbanin logika paling dasar yang malah ciptain lubang di sana sini hanya demi gaya. Sementara kritik “eat the rich” + elemen satanist cuma jadi background yang cuma sekedar permisi numpang lewat. Setelah 30-40 menit pertama yang ngegas, They Will Kill You mulai agak repetitif—kejar-kejaran, potong-potongan, regenerasi, ulang lagi. Ending-nya juga gak sampe terlalu memorable kalau dibandingin sama twist gila di Why Don’t You Just Die!.
Lewat They Will Kill You, Kirill Sokolov kembali bawa DNA chaotic-nya ke pasar Amerika. Meski gak sampe se-memorable Why Don’t You Just Die!, tapi ini jelas adalah action-horror comedy brutal yang menghibur buat dinikmati di sepanjang 94 menit durasinya sembari ngeliat Zazie Beetz ngamuk dalam full rage mode lawan final boss kepala babi di gedung penuh setan tajir.
3/5
Ada ayah, ibu dan dua putranya yang tinggal di sebuah rumah di daerah terpencil Yorkshire, utara Inggris di Heel garapan Jan Komasa (Corpus Christi). Tapi ada yang aneh, ini bukan keluarga biasa. Putra tertua mereka: Tommy (Anson Boon), lehernya dirantai di rubanah, kadang ayahnya, Chris (Stephen Graham) ngasih hadiah kalau ia patuh (makanan enak, pujian, bahkan pelukan hangat), tapi gak jarang ia juga kena hukuman fisik atau mental kalau memberontak. Tapi yang menarik, Tommy bukan putra kandung mereka. Ia hanya pemuda asing brengsek dari London, pecandu, hobi pesta liar, tukang berantem, dan demen bikin konten kekerasan di TikTok yang diculik ketika ia lagi mabuk suatu malam di gang sempit.
Suka gimana Komasa berhasil ngejaga misterinya. Dia gak langsung ngasih tau motif dan penjelasan panjang lebar kenapa keluarga normal di rumah terpencil Yorkshire ini tiba-tiba punya “proyek” manusia di basement mereka. Misterinya dibangun pelan, seperti kabut Yorkshire yang tebal. Tiap kali Tommy berontak atau berusaha kabur, kamera Komasa justru lebih sering fokus ke reaksi keluarga, bukan ke backstory Tommy. Kita diajak bertanya-tanya: apa ini semua cuma eksperimen rehabilitasi yang pake Stockholm Syndrome dengan ngasih kekerasan sebagai pendidikan ala-ala Clockwork Orange? Atau ada trauma keluarga yang lebih dalam? Apa Tommy cuma korban acak, atau Chris sudah “berburu” berulang kali? Komasa sengaja buat nahan semua informasinya demi bikin penonton gelisah sepanjang film, dan itu berhasil!
Pertunjukan aktingnya juga kuat banget. Stephen Graham sebagai Chris berasa seperti ayah idaman yang berubah jadi psikopat ramah. Anson Boon juga bikin Tommy dari monster kecil jadi manusia rapuh, dan chemistry antara Tommy dengan seluruh anggota keluarga itu makin lama jadi makin disturbing sekaligus… menyentuh?
Heel adalah thriller psikologis hitam yang cerdas. Komasa gak takut bikin penontonnya buat ngerasa gak nyaman, dengan banyak twist kecil yang bikin kita bakalan terus nebak -nebak apa motif sebenarnya keluarga ini. Misteri yang dia jaga sepanjang film dibayar lunas dengan ending yang nempel lama di kepala. Dia nunjukkin kalau trauma, isolasi, dan “cinta” yang salah bisa ngerombak identitas seseorang sampai gak bisa balik lagi. Mirip sama Dogtooth-nya Lanthimos atau bahkan elemen dari Clockwork Orange-nya Kubrick.
4/5
Ada yang bilang kalau Undertone adalah horor paling seram yang pernah mereka dengar. Ya, kamu gak salah baca: “dengar” alih-alih “lihat”. Bukan typo, karena emang debut directing dari Ian Tuason ini ngejual suara sebagai trigger terornya di sepanjang filmnya, seperti yang pernah dilakukan sama Berberian Sound Studio 2012 silam.
Kita diajak ketemu sama Evy, host dari podcast paranormal populer yang mesti balik ke rumah masa kecilnya buat ngerawat ibunya yang sedang sekarat. Nah! Suatu hari, bareng rekan online-nya ia dapet 10 file audio anonim yang isinya suara rekaman dari pasutri tentang pengalaman supranatural di rumah mereka. Makin lama dia dengerin tuh suara-suara rekaman makin aneh jadinya. Kayak ada pesan tersembunyi yang muncul lewat lapisan suara tipis misterius di balik suara utama yang entah gimana, paralel sama hidupnya sendiri.
Undertone adalah sajian horor minimalis dengan set dan karakter terbatas yang lebih milih buat fokus ke apa yang kita dengar ketimbang yang kita lihat. Dan itu yang bikin dia jadi beda. Cara Tuason ngejadiin suara sebagai bintang utamanya barengan Nina Kiri sebagai Evy si podcaster skeptis itu emang juara. Undertone manfaatin negative space (ruang kosong visual) sebagai bahan buat nge-trigger imajinasi liar penontonnya sembari ngasih pesan ‘undertone’ (nada bawah) tentang duka, ngurus orangtua, isolasi, dan gimana trauma keluarga bisa jadi sesuatu yang mengganggu. Semuanya lalu dipaduin sama audio yang imersif: suara-suara halus, bisikan, reversal audio dari lagu anak-anak yang dibalik, sampe efek keheningan mendadak ala-ala noice canceling yang bikin penonton jadi ikutan terseret investigasi mereka, dan jadi lebih peka sama tiap suara yang muncul di set rumah asli milik Tuason sendiri.
Tapi ini bakal boring bagi penontonnya yang gak suka sama horor slow-burn, penonton yang masih prefer ke teror visual. Undertone bisa jadi berasa terlalu “kosong” karena fokusnya beda. Belum lagi soal narasinya yang sebenarnya masih sama-sama aja dengan formula horor paranormal kebanyakan, tanpa ada efek kejut atau twist gede, meski saya suka gimana Tuason ngasih paralel cerita yang cukup cerdas antara file audio itu dengan hidup dari karakter Eve.
Ya, Undertone bukan tipe horror yang bakal kasih kamu banyak pertunjukan visual dengan segala penampakan setan, jump sacre atau adegan brutal. Dia lebih ke tipe yang merayap pelan lewat suara ke telinga penontonnya, ngebangun rasa unsettling dengan set klaustrofobik sembari bermain dengan imajinasi. Ini horor yang berani bilang: “Coba dengerin aja dulu… karena seringnya yang serem-serem itu datangnya malah dari yang gak keliatan.”
3,5/5
Sekeluarga pindah rumah baru di pinggir kota yang digentayagin sama bocil perempuan yang mati dibunuh, “House of Sayuri” memulai semuanya layaknya horor rumah hantu “normal” yang nge-chceklist semua elemen J-horror klasik: suara ketawa bocah perempuan di malam hari, bayangan di tangga, penampakan di cermin, kerasukan, sampe adegan brutal. Penonton yang udah biasa nontonin sub-genre macam Ju-on atau Ringu bakal mikir kalau Koji Shiraisi (Noroi) kali ini kok turun standarnya dengan milih main aman bikin horor rumah hantu konvensional, termasuk ngebuang semua style found footage andalannya. Tapi siapa sangka setelah separuh durasi, Shiraisi ngebalik semuanya jadi kegilaan yang gak terduga.
Ya, pas separuh jalan, ketika saya mikir kalo House of Sayuri bakal berakhir jadi tontonan rumah hantu biasa, yang meski tetep serem tapi gak istimewa, ternyata saya salah. Twist besar itu datang. Dari sini House of Sayuri berubah drastis jadi semi-horor komedi dengan vibe revenge absurd. Situasi yang tadinya mencekam jadi konyol, tapi menariknya, Shiraisi tetep bisa ngejaga vibe creepy-nya.
Shiraisi bahkan masih bisa ngash backstory buat hantu Sayuri yang emosional. Sayuri bukan cuma bocil korban pembunuhan biasa, tapi ada lapisan trauma yang gelap banget, sensitif, dan bikin kita mikir ulang siapa sih yang sebenarnya “monster” di sini.
Shift tone dari pure horror ke komedi ini mungkin bisa terasa bikin penontonnya kayak kena jetlag, terutama buat mereka yang nyari J-horror “lurus“. Beberapa joke-nya mungkin juga akan terlalu absurd. Tapi buat saya ini jadi kekuatan House of Sayuri. Shiraisi sukses ngubah ekspektasi dari genre yang udah mati-matian diulangnya selama 20 tahun terakhir, jadi tontonan yang lebih mainstream namun tetep chaotic, berdarah, lucu, dan surprisingly touching.
4/5
Ketika banyak horor diakhiri dengan gregetan karena polisi datang telat, di Bodycam-nya Brandon Christensen, ada dua aparat yang lagi ngelakuin rutintas patroli malam hari memulai segala dari sebuah kisah mimpi buruk mengerikan.
Dimulai ketika Officer Jackson (Jaime M. Callica) dan Officer Bryce (Sean Rogerson) yang merespons panggilan ribut-ribut rumah tangga dari perumahan kumuh di pinggir kota. Apa yang mestinya rutinitas biasa dengan cepat bereskalasi jadi tragedi gak terduga melibatkan penembakan yang gak sengaja, korban gak bersalah dan elemen supernatural, cult, dan entitas yang jauh lebih mengerikan ketimbang sekadar kesalahan prosedur.
Cepat, ringkas, dan pendek—cuman 75 menit, alias satu jam 15 menit aja. Ya, gak butuh waktu lama buat Bodycam untuk langsung nyeret penontonnya ke dalam sebuah patroli berujung maut lewat opening yang kuat. Dan sekitar 20-30 menit pertamanya, Christensen ngasih kita salah satu sequence found-footage paling tegang dan realistis tahun ini. Christensen juga pintar buat ngebagun rasa gak nyaman dengan dialog polisi yang autentik, pencahayaan minim, dan gerakan kamera yang shaky tapi gak berlebihan
Konsep bodycam dipakai dengan cerdas. Gak cuman gimmick, gak maksa seperti banyak found footage lain yang sering bela-belain terus ngerekam meski nyawanya terancam. Di sini kamera dada polisi yang gak boleh dimatiin jadi bikin terornya berasa imersif dan mentah, ngajak kita terjebak dalam klaustrofobik benar-benar yang bikin sesak namun tetep berasa real, udah kayak lagi nononin bukti rekaman yang bocor. Transisinya dari realisme polisi ke elemen okultisme juga cukup organik dan bikin makin mencekam.
Ya, tapi setelah setengah jam awal yang solid dan mendebarkan, Bodycam mulai agak kehilangan momentumnya. Ada beberapa momen yang terasa draggy, dan kelamaan meski durasinya sebenarnya singkat, sebelum proses menuju ending yang intensitasnya naik lagi. Tapi gak semua pertanyaan bisa terjawab, malah mungkin sedikit ditutup terburu-buru. Jadi buat yang suka closure jelas, ini bisa jadi mengecewakan.
3,5/5