tadi lagi nulis postingan di LinkedIn tapi bingung kata-katanya yang bener gimana, terus explore deh nemu web yang bisa convert kalimat kita ke LinkedIn Speak, cocok banget buat mahasiswa yang lagi sering-seringnya update post disana, atau yang bingung gimana cara bales email 🥹
Rule jadi pemain tengah di kantor:
- Baik ke atasan, jangan sampai jadi penjilat.
- Akrab dengan teman, jangan terlalu buka semua kartu.
- Paham politik kantor, jangan ikut tenggelam.
- Dengar banyak hal, jangan semua dikomentari.
- Bantu rekan lain, jangan sampai semua beban dilempar ke kita.
- Ramah ke semua orang, tapi tetap punya pagar.
- Kerja yang benar, tapi jangan mudah dimanfaatkan.
Di kantor, yang bertahan paling lama seringnya bukan yang bersuara paling keras.
KENAPA KITA SERING MERASA CAPEK, PADAHAL GAK MELAKUKAN APA-APA?
Pernah nggak sih…
baru bangun tidur, tapi rasanya udah lelah duluan?
Padahal hari itu belum ngapa-ngapain.
Nggak angkat beban. Nggak kerja fisik berat. Bahkan kadang cuma rebahan sambil scrolling HP.
Tapi entah kenapa kepala penuh, hati sumpek, dan badan rasanya “nggak punya tenaga hidup”.
Kalau iya, kamu nggak sendirian.
Kita Bukan Capek Fisik. Kita Capek Mental
Sekarang hidup makin aneh.
Badan diam.
Tapi pikiran lari ke mana-mana.
Baru buka mata:
* lihat chat kerja
* lihat pencapaian orang lain
* mikirin masa depan
* overthinking omongan kemarin
* merasa tertinggal
* merasa harus produktif terus
Akhirnya otak kita nggak pernah benar-benar istirahat.
Kita kelihatan santai dari luar, padahal di dalam kepala… rame banget.
“Istirahat” Zaman Sekarang Kadang Bukan Istirahat
Lucunya, banyak dari kita merasa sedang healing, padahal cuma mengalihkan distraksi.
Contohnya:
“Capek ah, scrolling TikTok bentar.”
Eh tahu-tahu 2 jam lewat.
Bukannya recharge, malah makin kosong.
Karena otak tetap menerima stimulasi terus-menerus.
Kadang yang kita butuhkan bukan hiburan tambahan.
Tapi ruang tenang.
Kenapa Topik Ini Relevan Banget Sekarang?
Karena banyak orang hidup dalam mode “survival” tanpa sadar.
Kita terbiasa:
* memendam emosi
* membandingkan diri
* merasa harus selalu kuat
* takut dianggap gagal
* terus online tanpa jeda
Dan semua itu pelan-pelan menguras energi.
Makanya ada orang yang fisiknya sehat, tapi hidupnya terasa berat.
Coba Tanya Diri Sendiri
Mungkin kamu bukan malas.
Mungkin kamu cuma terlalu penuh.
Penuh ekspektasi.
Penuh tekanan.
Penuh pikiran yang nggak pernah dikasih jeda.
Kadang capek terbesar bukan karena terlalu banyak bergerak.
Tapi karena terlalu lama “menahan”.
Tips Praktis yang Bisa Dicoba
* Kurangi konsumsi yang bikin pikiran makin penuh
(termasuk konten yang bikin insecure)
* Kasih jeda 10–15 menit tanpa layar
* Tulis isi kepala sebelum tidur
* Belajar bilang:
“Hari ini cukup.”
* Jangan paksa diri selalu produktif untuk merasa berharga
Pelan-pelan aja.
Nggak semua fase hidup harus dijalani sambil lari.
Mungkin selama ini kamu bukan kurang istirahat.
Kamu cuma terlalu lama keras sama diri sendiri.
Kalau artikel ini relatable, share ke orang yang akhir-akhir ini kelihatan “baik-baik aja”, padahal sebenarnya lagi capek diam-diam.
Instagram Ahmad Dhani
Sama seperti Raffi Ahmad dan Nagita Slavina (benar ya nulisnya?), saya tidak nonton pernikahan anak Ahmad Dhani dan Maia Estianty (dua idola saya di waktu kuliah).
Tapi apa yang ditulis Dhani di Instagram-nya saya baca, dan langsung teringat dengan salinan putusan pengadilan agama Jaksel yang dulu pernah beredar di Twitter (masih bernama itu, belum X).
Saya ulas di sini karena cukup mengernyitkan dahi ketika membaca tulisan Dhani itu.
"Kok, beda dengan yang saya baca dulu?"
Saya urai sejauh bacaan saya, apakah "pengakuan" Dhani ini sesuai dengan fakta hukum 2008 atau tidak?
(Disclaimer: ini putusan tingkat pertama [PA], bukan putusan kasasi MA. Untuk amar di banding atau kasasi, saya belum pegang berkasnya)
1. "Maia ditalak 3"
Talak satu bain sughra, bukan talak tiga. Dan ini bukan Dhani yang menjatuhkan, melainkan putusan pengadilan atas gugatan cerai Maia.
Dhani justru menolak perceraian.
2. "Maia selingkuh dengan pemilik TV swasta, diakui tertulis dan ditandatangani"
Tidak ada di dokumen. Majelis menyatakan tegas (kutipan langsung):
"...tidak ada yang mengarah kepada terjadinya nusyuz Penggugat kepada Tergugat."
3. Narasi "suami selingkuh dengan orang ketiga" disebut drama palsu Maia
Tamara Geraldine bersaksi di bawah sumpah mendengar langsung pengakuan perempuan yang mengaku dinikahi siri Dhani, di rumah Melly Goeslaw, sekitar 2006.
Menurut kesaksian Tamara, Dhani pernah mengirim SMS ke perempuan itu mengakui "memang enak punya dua isteri".
Setelah pengakuan itu, Tamara menerima teror dari Dhani. Majelis tidak memutus sah-tidaknya nikah siri, tapi mencatat isu ini nyata-nyata memicu kehancuran rumah tangga.
4. "Laporan KDRT palsu"
Maia melapor ke Polda Metro Jaya 20 April 2007 (bukti P.22). Tiga saksi di bawah sumpah (ayah, ibu, pembantu Maia) menerangkan: barang Maia dikeluarkan dari rumah, pakaian dikirim ke Surabaya, kamar dibongkar, lemari dijebol, baju dirobek, sepatu dibuang. Banyak hal terjadi saat Maia umrah.
Dhani tidak membantah peristiwanya. Pengakuannya sendiri: itu cara "memberi pelajaran" karena Maia tidak menuruti perintahnya.
Tidak ada temuan majelis bahwa laporan itu palsu.
5. "MA hanya mengabulkan permohonan cerai saja, hak asuh tidak dikabulkan"
Putusan PA Jaksel mengabulkan: cerai (talak satu bain sughra), hak asuh tiga anak ke Maia sampai dewasa, Dhani wajib serahkan anak, nafkah anak Rp 7.500.000 per anak per bulan, sita marital atas tujuh aset sah, harta bersama dibagi dua.
NB: HAK ASUH
Oiya, ini tidak ada di Instragam, tapi ada di PA (bahkan saya juga kaget karena dulu gak baca sampai sana): Maia dituduh memakai narkoba oleh saksi-saksi yang dihadirkan Dhani.
Awalnya Maia menggugat agar tiga anaknya (Al, El, dan Dul) ditetapkan dalam asuhannya. Dhani menolak keras dan menghadirkan sembilan saksi yang menggambarkan Maia tidak layak mengasuh.
Salah satunya: Maia adalah pemakai narkoba.
Beberapa saksi yang dihadirkan Dhani bahkan mengaku ikut memakai narkoba bersama Maia.
Kemudian, Maia mengajukan hasil tes lab dari RS Azra Bogor dan RS Marzoeki Mahdi Bogor, dan keduanya membuktikan bahwa Maia negatif narkoba.
Majelis menerima bukti ini.
Maia juga dituduh mengabaikan anak. Namun Maia mengajukan 14 rapor sekolah anak (2006-2008) yang ditandatangani sendiri sebagai bukti keterlibatan.
Plus, ijazah S1 FISIP UI sebagai bukti kapasitas mendidik.
Amar putusan: hak asuh tiga anak ke Maia sampai dewasa. Dan Dhani dihukum menyerahkan anak, dan wajib memberi nafkah anak Rp 7.500.000 per anak per bulan.
Saya akan lampirkan berkasnya di reply, silakan baca sendiri. Dan sila koreksi jika ada kekeliruan.
Nobody taught us this in school. 🧵
That cream in your medicine cabinet? You might be using the WRONG one.
Save this post. Share it with someone who needs it.
Your skin will thank you later. 🙏
@Bunaspace aku mantan karyawannya, ngaku orang kaya tapi tukang kebun sama bersihin kolam gak bayar berbulan bulan sampe gak mau ngebersihin lagi karena kapok, ngaku orang kaya tapi hutang dikonveksi kagak lunas lunas sampe ditagihin tapi suruh diemin wkwkwk
5 PERTANYAAN REFLEKSI DIRI UNTUK EVALUASI KARIER
Pernah gak sih, lagi kerja tiba-tiba kepikiran: “Gue sebenarnya lagi maju… atau cuma sibuk doang?”
To-do list penuh, meeting jalan terus, tapi rasanya… stuck.
Dunia kerja makin cepat. Kita bisa terlihat “produktif”, tapi sebenarnya gak bergerak ke mana-mana. Tanpa refleksi, karier bisa jalan autopilot capek, tapi gak jelas arahnya.
1. “Gue lagi belajar atau cuma ngulang?”
Kalau kerjaan hari ini sama persis kayak 6 bulan lalu, itu sinyal bahaya.
Contoh: dulu struggling bikin report, sekarang udah lancar. Tapi setelah itu? Ada skill baru lagi gak?
2. “Kerjaan ini mendekatkan gue ke tujuan atau menjauhkan?”
Coba bayangin tujuan 2–3 tahun ke depan.
Kalau kerjaan sekarang gak ada hubungannya, mungkin waktunya evaluasi bukan langsung resign, tapi mulai geser arah.
3. “Energi gue habis di mana?”
Ada kerjaan yang bikin capek tapi puas. Ada juga yang bikin capek + kosong.
Bedain dua ini penting banget.
4. “Gue dihargai atau cuma dimanfaatkan?”
Bukan cuma soal gaji. Tapi juga: didenger gak? diapresiasi gak? berkembang gak?
5. “Kalau gue tetap di sini 2 tahun lagi, gue bakal bangga?”
Ini pertanyaan paling jujur. Jawabannya biasanya langsung terasa di dalam.
Tips praktis biar gak cuma jadi wacana
* Tulis jawabannya, jangan cuma dipikir
* Pilih 1 hal kecil untuk diubah minggu ini
* Ngobrol sama mentor/teman buat perspektif baru
Refleksi itu bukan buat overthinking, tapi biar kita gak jalan tanpa arah.
Coba jawab 5 pertanyaan ini hari ini.
Kalau kena di kamu, share ke temanmu yang lagi “sibuk tapi bingung arahnya”. Siapa tahu, dia juga lagi butuh ini.
Mari Bedah Formula
1. LET → Menamai formula
2. WRAPROWS → Membungkus array, 1 baris berisi n kolom
3. VLOOKUP → Mencari nilai berdasarkan kode
4. TEXTSPLIT → Memecah kode berdasarkan delimiter "/"
5. TEXTJOIN → Menggabungkan kode dengan delimiter "/"
6. HSTACK → Menyusun array secara horisontal
7. XLOOKUP → Mencari harga
8. CHOOSECOLS → Mengambil kolom ke-n dari suatu array
Apakah penggunaan rumus diatas adalah efisien?
terntunya tidak, lebih ke arah eksplorasi dan menambah wawasan formula. 😁😁
Lalu pake apa?
Coba ganti IF pakai SWITCH atau pakai VLOOKUP dgn array konstan (tidak perlu tabel bantu).
MERASA STUCK DI KARIER?MUNGKIN KAMU BUTUH REFLEKSI DIRI
Pernah gak sih, kamu lagi kerja… tapi rasanya kayak autopilot? Datang, ngerjain task, pulang. Repeat. Tapi di dalam hati ada suara kecil: “Ini beneran yang gue mau?”
Kalau iya, kamu gak sendirian.
Kenapa Perasaan “Stuck” Makin Sering Muncul?
Di fase tertentu (apalagi umur 20 akhir–30an), standar hidup kita berubah. Dulu mungkin ngejar “naik jabatan” atau “gaji naik”. Sekarang… mulai mikir: “Kerjaan ini bikin gue berkembang gak ya?”
Masalahnya, kita sering terlalu sibuk jalan… sampai lupa ngecek arah.
Akhirnya stuck bukan karena gak mampu. Tapi karena gak pernah berhenti buat refleksi.
Mungkin Bukan Kariernya yang Salah, Tapi Arahmu yang Belum Jelas
Coba bayangin ini:
Kamu lagi naik ojek online. Motornya kenceng, drivernya jago. Tapi kamu gak pernah kasih tahu tujuan.
Mau sekencang apa pun… tetap gak akan sampai.
Begitu juga karier.
Banyak orang kerja keras, tapi gak pernah tanya:
“Gue sebenarnya pengen jadi apa?”
“Skill apa yang mau gue kuasai?”
“Gue kerja ini karena mau, atau cuma kebawa arus?”
Refleksi Diri Itu Bukan Ribet, Tapi Jujur
Gak perlu journaling panjang atau retreat ke gunung.
Mulai aja dari 3 pertanyaan simpel:
1. Apa bagian kerjaan yang bikin gue paling hidup?
2. Apa yang paling sering bikin gue capek (bukan fisik, tapi mental)?
3. Kalau gak ada batasan, gue pengen coba apa?
Dari situ, kamu mulai lihat pola.
Tips Praktis Biar Gak Stuck Terus
* Sisihkan 10–15 menit tiap minggu buat mikir, bukan cuma kerja
* Catat hal yang bikin kamu excited vs drained
* Coba hal kecil di luar rutinitas (project baru, belajar skill baru)
* Jangan takut mengubah arah pelan-pelan, gak harus drastis
Kadang kita gak butuh motivasi baru. Kita cuma butuh berhenti sebentar… dan jujur sama diri sendiri.
Karena bisa jadi, kamu bukan stuck.
Kamu cuma belum sempat dengerin diri sendiri.
Kalau kamu lagi di fase ini, share ke orang yang mungkin ngerasain hal sama. Siapa tahu… mereka juga lagi butuh “pause” hari ini.
Prepare for these 12 questions to succeed your next job interview
Bookmark 🔖
Remember, preparation + positivity = success.
What’s your underrated interview tip?