Messi lost the 2007 Copa América final.
He lost the 2014 World Cup final.
He lost the 2015 Copa América final.
He lost the 2016 Copa América final.
Back then, nobody was calling him “FIFA’s favorite.” They mocked him, said he was finished with Argentina, that he only performed for Barcelona because of Xavi and Iniesta.
Then he won the 2021 Copa América, the 2022 World Cup, and the 2024 Copa América.
Suddenly he’s “FIFA’s favorite.”
The hypocrisy is obvious. Losing? He’s a failure. Winning? It’s because he’s protected. The goalposts never stop moving.
Mana kemarin yang ngeributin Messi ga pelanggaran injak kaki pemain Aljazair?
Ini pemain Spanyol diinjak juga gak ada tuh pelanggarannya😒 masih teriak-teriak anak FIFA? Cuiihhh
ليه توني اشوف هاللقطه
محمد صلاح بنفسه ما احتج ولا طالب بالبلنتي لأن يدري مافيها شي
ليه الصياح الي نشوفه بالتايم؟ قسم بالله كارثه ادمنوا الصياح بشكل مب طبيعي https://t.co/NKLMswGg9V
Saya sudah nonton konferensi persnya Jampidsus, intinya seperti ini:
Sikap terhadap Institusi Polri
- Kejaksaan Agung menghormati proses penegakan hukum oleh Kepolisian.
- Jampidsus meminta masyarakat bijaksana menilai informasi agar opini tidak menyimpang.
Klarifikasi Aset dan Rumah Sentul
- Rumah di Sentul diakui sebagai properti pribadi miliknya sejak lama.
- Uang dan emas yang ditemukan diklaim memiliki pemilik dan kegiatan jelas.
- Seluruh temuan aset dipastikan dapat dipertanggungjawabkan melalui jalur hukum formal.
- Jampidsus membantah keterlibatan dalam kepemilikan bisnis restoran di Cipete.
Bantahan Isu Mundur dari Jabatan
- Rumor mengenai rencana pengunduran diri Jampidsus dibantah secara tegas.
- Beliau tetap bekerja menerima perintah pimpinan untuk menyelesaikan pemberkasan kasus.
Tanggapan Kasus Pemadaman Listrik (Blackout)
- Jampidsus mengaku tidak paham atas kaitan dirinya dengan kasus blackout Sumatera.
- Kasus batubara PLTU tersebut disarankan melewati proses audit menyeluruh terlebih dahulu.
Fokus Kasus Hukum Kejaksaan
- Gedung Bundar memprioritaskan penanganan perkara tata kelola pertambangan dan transfer pricing.
- Kejaksaan ikut mengawal akuntabilitas pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Ada yang mau ditambahin?
Aneh memang..😌😌🙃
PM Swedia pakai jam sekitar Rp18 juta, PM Norwegia bahkan cuma Rp1,5 juta. Sementara di Indonesia, gubernur saja kerap pakai jam miliaran.
Ini bukan soal mampu atau tidak. Tapi soal simbolisme dan prioritas.
Di negara maju yang indeks korupsinya rendah, pemimpinnya cenderung rendah hati dan menghindari kesan mewah berlebihan. Di kita, jam mahal sering jadi "pajangan status" yang justru memicu pertanyaan publik.
Seharusnya, semakin tinggi jabatan, semakin bijak dalam menjaga citra kesederhanaan. Karena rakyat butuh teladan, bukan pamer kekayaan.
Setuju ya??
TITIK TERTINGGI AKU REVIEW CV : NEMU CV SPEK DEWA🔥🔥🔥
Ini CV dari HR Profesional yang baru 3 tahun, tapi bisa menjabarkan dirinya seeegong ini🔥
Tau ga alasannya apa?
Nilai jual :
✅ Personal branding kuat banget
✅ Achievement ditulis sekaligus terukur pake angka
✅ Pengalaman lintas industri
✅ Layout bersih clean khasnya ATS
Apa ga punya kekurangan? Tentu ada sayang, tapi MINOR
❌ Ada beberapa achievement belum terukur pake angka
❌ Bagian skill belum pake bullet point
Definisi CV yang langsung masuk shortlist tanpa banyak babibu kalo aku lagi cari : HR Generalist, People Development, atau Talent Acquisition✅🔥
Karena dari semua history pekerjaannya emang bener2 menunjukkan “ada hasil yang dicapai”.
Menurut kalian kalo ada kandidat kaya gini, pasnya dikasih gaji berapa nih?🤭
cc : lindarafeby
Ini bukti anak yang tumbuh dengan privilege bisa konsen belajar, fokus mengembangkan diri dan bebas mengadvokasi kepentingan rakyat. Di kosan gak mikir, ntar malem indomie goreng telur ceplok atau sarimi ayam bawang. Tinggal go food.
Kalau benar Fatimah di FK ambil program KKI, berarti dari keluarga mapan.
Fyi, Admission Fee di KKI FK UI antara Rp60.000.000 hingga Rp70.000.000. Tuition Fee Rp50.000.000 per semester.
Sebuah inspirasi melahirkan generasi mapan dan kritis, tidak terjebak di zona nyaman.
NANIK S. DEYANG:
WARTAWAN YANG JADI PEJABAT NEGARA PALING SIBUK
DOUBLE JABATAN BERGENGSI
KOMISARIS PERTAMINA + KEPALA BGN
GAJI ESTIMASI 210 JUTA/BULAN
GAJI ESTIMASI 5.5 MILYAR/TAHUN
Nanik S Deyang memulai kariernya sebagai wartawan di Tabloid Bangkit, berkembang ke posisi manajerial di sejumlah perusahaan media nasional, termasuk sebagai direktur utama tabloid Info Kecantikan dan pemimpin umum majalah Femme.
Jalan menuju puncak kekuasaan terbuka setelah Prabowo menang Pilpres 2024.
Pada Oktober 2024, Nanik dilantik sebagai Wakil Kepala I Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan.
Kemudian pada 12 Juni 2025 ia diangkat menjadi Komisaris Independen Pertamina.
Pada 17 September 2025, ia dilantik sebagai Wakil Kepala BGN, dan pada 2 Juni 2026 naik menjadi Kepala BGN menggantikan Dadan Hindayana.
BERAPA PENGHASILAN DARI BGN?
Sebagai Kepala BGN yang setingkat menteri, Nanik menerima gaji pokok Rp5.040.000 per bulan.
Ditambah tunjangan jabatan dan representasi sekitar Rp13.608.000 per bulan.
Total gaji dan tunjangan resmi sekitar Rp18.648.000 per bulan.
Tapi ini baru angka formalnya.
Di luar itu ia berhak atas rumah jabatan resmi, kendaraan dinas beserta sopir, jaminan kesehatan premium, tunjangan komunikasi, listrik, air, keamanan, serta biaya perjalanan dinas dan protokol.
Bila seluruh fasilitas ini dimonetisasi, nilainya bisa mencapai Rp50–80 juta per bulan dalam bentuk ekuivalen tunai.
BERAPA PENGHASILAN DARI PERTAMINA?
Ini bagian yang jauh lebih besar. Berdasarkan struktur remunerasi BUMN, anggota Komisaris Pertamina menerima honorarium sekitar Rp141,75 juta per bulan — belum termasuk tunjangan dan insentif tambahan.
Data publik dan dokumen RUPS menyebutkan komisaris lainnya mendapatkan kompensasi berkisar antara Rp100 juta hingga Rp150 juta per bulan.
Selain honorarium bulanan, tantiem yang diberikan di akhir tahun bisa mencapai miliaran rupiah, tergantung performa perusahaan.
Berdasarkan laporan keuangan 2023, total tantiem yang diberikan ke komisaris Pertamina bisa menyentuh angka Rp2–5 miliar per orang per tahun.
Komisaris juga mendapat tunjangan transportasi 20% dari honorarium, THR setara satu bulan honorarium, dan asuransi purna jabatan.
ESTIMASI TOTAL AKUMULASI PENGHASILAN NANIK
Berikut kalkulasi berdasarkan data resmi dan estimasi benchmark industri:
PERIODE JUNI 2025 — JUNI 2026 (12 BULAN sebagai Komisaris Pertamina + Wakil/Kepala BGN):
- Honorarium Komisaris Pertamina: Rp141,75 juta x 12 = Rp1,701 miliar
- Tantiem Pertamina (estimasi): Rp2–3 miliar (satu kali per tahun)
- Gaji/tunjangan BGN (Wakil & Kepala): Rp18,6 juta x 12 = Rp223 juta
- Fasilitas negara BGN (rumah dinas, mobil dinas, dll): ekuivalen Rp50 juta x 12 = Rp600 juta
Total estimasi dalam 12 bulan pertama:
sekitar Rp4,5 miliar hingga Rp5,5 miliar
ESTIMASI PENDAPATAN PER BULAN (kondisi saat ini rangkap jabatan):
Komisaris Pertamina: Rp141,75 juta
BGN (gaji + tunjangan): Rp18,6 juta
Fasilitas negara BGN: ekuivalen Rp50 juta
Total per bulan: kisaran Rp210 juta
ESTIMASI PER TAHUN:
Honorarium + tunjangan tunai: Rp1,92 miliar
Tantiem Pertamina: Rp2–3 miliar
Fasilitas setara tunai: Rp600 juta
Total per tahun: Rp4,5 miliar — Rp5,5 miliar
ESTIMASI PER LIMA TAHUN (2025–2030):
Dengan asumsi jabatan dipertahankan dan tantiem stabil:
Total akumulasi: kisaran Rp22 miliar Rp27 miliar
BGN belum mengeluarkan keterangan resmi terkait status rangkap jabatan ini setelah Nanik menjabat Kepala BGN.
Posisi Kepala BGN saat ini menjadi salah satu jabatan paling strategis di pemerintahan Prabowo karena bertanggung jawab atas pelaksanaan Program MBG yang menyerap anggaran negara dalam jumlah sangat besar.
Di sinilah letak masalah etisnya. Kepala lembaga yang mengelola anggaran Rp71 triliun per tahun seharusnya fokus penuh.
Bukan sambil merangkap sebagai komisaris BUMN strategis.
Karena publik tidak hanya menghitung berapa yang diterima, tapi juga menghitung apakah setiap rupiah itu menghasilkan nilai yang sepadan bagi 270 juta rakyat !!
NANIK S. DEYANG:
WARTAWAN YANG JADI PEJABAT NEGARA PALING SIBUK
DOUBLE JABATAN BERGENGSI
KOMISARIS PERTAMINA + KEPALA BGN
GAJI ESTIMASI 210 JUTA/BULAN
GAJI ESTIMASI 5.5 MILYAR/TAHUN
Nanik S Deyang memulai kariernya sebagai wartawan di Tabloid Bangkit, berkembang ke posisi manajerial di sejumlah perusahaan media nasional, termasuk sebagai direktur utama tabloid Info Kecantikan dan pemimpin umum majalah Femme.
Jalan menuju puncak kekuasaan terbuka setelah Prabowo menang Pilpres 2024.
Pada Oktober 2024, Nanik dilantik sebagai Wakil Kepala I Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan.
Kemudian pada 12 Juni 2025 ia diangkat menjadi Komisaris Independen Pertamina.
Pada 17 September 2025, ia dilantik sebagai Wakil Kepala BGN, dan pada 2 Juni 2026 naik menjadi Kepala BGN menggantikan Dadan Hindayana.
BERAPA PENGHASILAN DARI BGN?
Sebagai Kepala BGN yang setingkat menteri, Nanik menerima gaji pokok Rp5.040.000 per bulan.
Ditambah tunjangan jabatan dan representasi sekitar Rp13.608.000 per bulan.
Total gaji dan tunjangan resmi sekitar Rp18.648.000 per bulan.
Tapi ini baru angka formalnya.
Di luar itu ia berhak atas rumah jabatan resmi, kendaraan dinas beserta sopir, jaminan kesehatan premium, tunjangan komunikasi, listrik, air, keamanan, serta biaya perjalanan dinas dan protokol.
Bila seluruh fasilitas ini dimonetisasi, nilainya bisa mencapai Rp50–80 juta per bulan dalam bentuk ekuivalen tunai.
BERAPA PENGHASILAN DARI PERTAMINA?
Ini bagian yang jauh lebih besar. Berdasarkan struktur remunerasi BUMN, anggota Komisaris Pertamina menerima honorarium sekitar Rp141,75 juta per bulan — belum termasuk tunjangan dan insentif tambahan.
Data publik dan dokumen RUPS menyebutkan komisaris lainnya mendapatkan kompensasi berkisar antara Rp100 juta hingga Rp150 juta per bulan.
Selain honorarium bulanan, tantiem yang diberikan di akhir tahun bisa mencapai miliaran rupiah, tergantung performa perusahaan.
Berdasarkan laporan keuangan 2023, total tantiem yang diberikan ke komisaris Pertamina bisa menyentuh angka Rp2–5 miliar per orang per tahun.
Komisaris juga mendapat tunjangan transportasi 20% dari honorarium, THR setara satu bulan honorarium, dan asuransi purna jabatan.
ESTIMASI TOTAL AKUMULASI PENGHASILAN NANIK
Berikut kalkulasi berdasarkan data resmi dan estimasi benchmark industri:
PERIODE JUNI 2025 — JUNI 2026 (12 BULAN sebagai Komisaris Pertamina + Wakil/Kepala BGN):
- Honorarium Komisaris Pertamina: Rp141,75 juta x 12 = Rp1,701 miliar
- Tantiem Pertamina (estimasi): Rp2–3 miliar (satu kali per tahun)
- Gaji/tunjangan BGN (Wakil & Kepala): Rp18,6 juta x 12 = Rp223 juta
- Fasilitas negara BGN (rumah dinas, mobil dinas, dll): ekuivalen Rp50 juta x 12 = Rp600 juta
Total estimasi dalam 12 bulan pertama:
sekitar Rp4,5 miliar hingga Rp5,5 miliar
ESTIMASI PENDAPATAN PER BULAN (kondisi saat ini rangkap jabatan):
Komisaris Pertamina: Rp141,75 juta
BGN (gaji + tunjangan): Rp18,6 juta
Fasilitas negara BGN: ekuivalen Rp50 juta
Total per bulan: kisaran Rp210 juta
ESTIMASI PER TAHUN:
Honorarium + tunjangan tunai: Rp1,92 miliar
Tantiem Pertamina: Rp2–3 miliar
Fasilitas setara tunai: Rp600 juta
Total per tahun: Rp4,5 miliar — Rp5,5 miliar
ESTIMASI PER LIMA TAHUN (2025–2030):
Dengan asumsi jabatan dipertahankan dan tantiem stabil:
Total akumulasi: kisaran Rp22 miliar Rp27 miliar
BGN belum mengeluarkan keterangan resmi terkait status rangkap jabatan ini setelah Nanik menjabat Kepala BGN.
Posisi Kepala BGN saat ini menjadi salah satu jabatan paling strategis di pemerintahan Prabowo karena bertanggung jawab atas pelaksanaan Program MBG yang menyerap anggaran negara dalam jumlah sangat besar.
Di sinilah letak masalah etisnya. Kepala lembaga yang mengelola anggaran Rp71 triliun per tahun seharusnya fokus penuh.
Bukan sambil merangkap sebagai komisaris BUMN strategis.
Karena publik tidak hanya menghitung berapa yang diterima, tapi juga menghitung apakah setiap rupiah itu menghasilkan nilai yang sepadan bagi 270 juta rakyat !!
Guys gw mau jujur soal sesuatu.
Prabowo bilang dia bangun jam 2 atau jam 3 pagi buat pantau YouTube dan update berita global.
Dan gw mau bilang sesuatu yang mungkin tidak enak didengar.
Gw juga bisa bangun jam 3 pagi dan buka YouTube.
Bukan hal yang istimewa. Siapapun bisa melakukan itu.
Yang istimewa adalah setelah lu baca semua berita itu apa yang lu lakukan?
Karena kalau jawabannya cuma 'saya pantau' — itu bukan kelebihan seorang presiden. Itu kebiasaan orang yang insomnia.
Presiden yang bangun jam 3 pagi tapi harga bahan pokok masih mencekik rakyatnya sama saja dengan tidak bangun.
Presiden yang bangun jam 3 pagi tapi aktivis yang disiram air keras oleh intelijen militernya sendiri belum ada yang diadili sama saja dengan tidak bangun.
Presiden yang bangun jam 3 pagi tapi 700 triliun investasi mangkrak karena izin tidak selesai-selesai sama saja dengan tidak bangun.
Presiden yang bangun jam 3 pagi tapi kelas menengah terus menyusut sama saja dengan tidak bangun.
Satu setengah tahun menjabat. Dan yang bisa diklaim dengan data konkret masih terlalu sedikit dibanding besarnya masalah yang ada.
Gw tidak bilang tidak ada yang dikerjakan. Ada jembatan yang dibangun. Ada pupuk yang disederhanakan regulasinya. Ada efisiensi Rp308 triliun yang diklaim.
Tapi rakyat tidak butuh presiden yang impressive di depan kamera forum diskusi.
Rakyat butuh presiden yang kebijakannya terasa sebelum gajian habis di tengah bulan.
Bangun jam 3 pagi itu mudah.
Yang susah adalah memastikan bahwa semua yang lu baca jam 3 pagi itu berujung pada keputusan yang mengubah sesuatu di kehidupan nyata orang-orang yang bangun jam 4 pagi bukan untuk pantau YouTube tapi karena harus kerja shift pagi dengan upah minimum yang tidak cukup untuk bayar kontrakan.
Kalau pantau doang gw juga bisa Pak.