Gabriel assist, diam.
Martinelli gol kemenangan, diam.
Havertz nyetak gol penyeimbang, diam.
Quinten Timber gagal penalty :
Oalah pemain Arsenal.
Padahal Jurrien Timber lagi nyantai nonton sambil ngewteet malah dikira dia yang gagal penalty.
Lucu emang kalau hasrat membenci tinggi tidak dilengkapi dengan pengetahuan yang baik 😃
Sepak bola seharusnya menjadi ruang untuk menikmati permainan, merayakan kemenangan, dan tetap setia saat klub sedang terpuruk. Namun di era sekarang, muncul fenomena yang semakin sering terlihat, SIRIKISME. 😂
Fenomena ketika sebagian suporter atau fans tidak lagi fokus pada perkembangan klub yang mereka dukung, melainkan lebih sibuk memantau, mengomentari, dan berharap klub lain gagal juara. Ketika tim sendiri gagal meraih trofi atau prestasi, perhatian mereka tidak tertuju pada MASALAH klub yg mereka sukai.
Yang menjadi fokus justru berapa banyak trofi yang dimiliki rival, bagaimana cara meremehkan pencapaian mereka, dan kapan momen yang tepat untuk mengejek mereka.
"Padahal, keberhasilan klub lain tidak menghapus sejarah klub kita" 🤝
Jumlah trofi klub yg udah dimenangkan tidak membuat koleksi berkurang satu. Namun bagi penganut SIRIKISME, melihat rival sukses sering kali terasa lebih menyakitkan daripada melihat timnya sendiri gagal.
Cirinya cukup mudah dikenali qo:
1. Lebih hafal kekalahan rival daripada kemenangan klub sendiri.
2. Muncul paling depan ketika rival kalah, lalu menghilang saat rival juara.
3. Menganggap setiap prestasi lawan sebagai ancaman terhadap harga diri pribadi.
4. Menjadikan kebencian terhadap rival sebagai identitas utama fandom.
5. Lebih sering membahas klub lain daripada klub yang mereka dukung sendiri.
Padahal esensi menjadi adalah tentang mendukung, bukan sekadar membenci.
Beberapa orang menonton bola untuk menikmati pertandingan.
Beberapa orang menonton bola untuk melihat pemain favoritnya berkembang.
Beberapa orang menonton bola untuk merasakan kebahagiaan ketika klubnya menang.
Tapi ada juga yang menonton bola hanya untuk menunggu klub lain terpeleset. Dan ketika rival terus berkembang, terus memenangkan trofi, dan terus menciptakan sejarah baru, mereka kehabisan bahan pembicaraan.
Ujung-ujungnya yang tersisa hanyalah membuka kembali arsip sejarah lama, mengulang cerita puluhan tahun lalu, dan hidup dalam kenangan yang semakin jauh dari realitas saat ini.
Masa depan dan sekarang tidak menarik bagi mereka.Karena satu-satunya tempat di mana mereka masih merasa unggul adalah masa lalu.
Kita tau sekarang sepak bola selalu bergerak ke depan. Generasi berganti, pemain berganti, pelatih berganti, bahkan dinasti pun berganti.
Kadang klub kita ada di fase jaya-jayanya. Tapi beberapa moment, klub yang kita cintai masuk kedelam jaman kegelapan atau dark era.
Yang terus hidup dalam nostalgia tanpa mampu menerima kenyataan hanya akan menjadi penonton dari sejarah yang sedang ditulis oleh orang lain.
PADA AKHIRNYA,
Klub juara mengangkat trofi 🏆
Fansnya merayakan pencapaian klubnya 💙🖤
Sedangkan penganut SIRIKISME,
mengangkat arsip, berharap masa lalu bisa mengalahkan kenyataan, menghabiskan waktu mengecilkan trofi, mencari celah untuk meremehkan prestasi, atau berharap keberhasilan itu terlihat tidak istimewa 🥲
🔴⚪ Are you not tired? @UTDTrey
10 years since Pep came to the premier league. It's now 4 full years of waking up every single season and praying for Manchester City to win the Premier League. Same prayer. Same energy. Different season. "City will do it." "Arsenal will bottle it." "Pep's men are too good." Year after year after year.
And every time City lifted that trophy — what did YOU gain? Did silverware land in your house? Did your club improve? Or you just needed Arsenal to not win it, and somehow that was enough to carry you through summer?
Omo. That's the life you've been living.
Here's what kills me though. In 2018/19, Liverpool won the Champions League. A whole European trophy. Incredible achievement. And guess what? Man City STILL won the Premier League that same season. You know what Liverpool fans did? They celebrated their own thing and came back the next season and won the league. They didn't sit online praying for someone else's failure. They looked within.
Same people are cheering Man city to win it now that Liverpool is collapsing.
So when I see rival fans RIGHT NOW — rattled, destroyed, behaving like the world is ending — because Arsenal are about to close this thing out? I genuinely cannot locate the logic.
What exactly are you mourning?
It was not oil money. No sovereign wealth fund. No government backing. It's not City — where 115 charges are sitting over an entire empire and nobody truly knows what the foundation looks like underneath. And it's not Chelsea either — because ClearLake spent almost 2 billion pounds in one window and you cannot replicate that. Nobody is letting that happen twice.
Arsenal did it the only way that they know how to do best, which they know will actually lasts.
Step by step. Phase by phase. Year by year. Arteta inherited a club in chaos and rebuilt everything from the floor — the culture, the identity, the belief, the squad depth. When people were laughing in 2022, we were building. When the pundits buried us after 2023/24, we were still building. Brick by brick. Window by window.
And now we're here.
So instead of spending another decade lighting candles for Manchester City, ask yourself one genuinely honest question — can YOUR club just compete? Not one good season. Not a flash of something and then a collapse. Consistently. Year after year after year. Can your board, your manager, your recruitment — sustain a genuine title challenge the way Arsenal/City have?
If the answer is no, that's not Arsenal's fault. That's a conversation you need to have with your own mirror.
Be inspired. Or don't. Either way, this Premier League title is coming to North London.
Just get over it, man.
COYG. Always. 🔴⚪
🚨🎙️ | Ian Wright.:
🗣️ “You told us you’re building — we accepted it. You asked us to trust the process — we did.”
🗣️ “First season, you finish second — we trusted. Second season, same again — we still trusted. Third season, no change — and we still stood by you.”
🗣️ “Now in the fourth season, you asked for squad depth — you got it… and it feels like the same pattern is happening again.”
🗣️ “I really hope it doesn’t… because this time, if it does — I don’t know.”
Apa yang dilakukan sebuah akun fanbase, tidak otomatis mencerminkan fans klub tersebut secara umum.
Udah sama-sama gede, tau mana yang salah dan mana yang benar.. masa sih masih dikit-dikit generalisir pukul rata? 😮💨
Rakyat protes baik-baik, ga ada yg dengerin. Kritik lewat kesenian (lagu, lukisan, buku, musik) dinilai subversif lantas dibungkam. Protes pake demo, dibilang anarkis dan ditangkap kayak kriminal.
Lantas mesti gimana cara ngasih tau pejabat kalo kebijakan mereka tuh ga bijak.
Memakai parameter war tiket konser untuk merepresentasikan kondisi ekonomi masyarakat adalah hal yang konyol. Sudah banyak yg bahas hal ini di medsos. War tiket konser adalah kebutuhan niche tertentu yang hanya merepresentasikan 1-5% kelas teratas.
Kalau mau melihat tanda bagus/tidaknya ekonomi masyarakat secara umum, yang paling simpel tetapi valid adalah lihat grafik penjualan mobil LCGC. Penurunan penjualan mobil LCGC hampir selalu berkorelasi langsung dengan melemahnya daya beli masyarakat menengah dan menengah bawah, terutama karena inflasi pangan dan kebutuhan dasar lainnya.
Tanda lain yg lebih valid lagi, lihat rata-rata saldo pemilik tabungan di bawah 100 juta. Kalau rata-rata saldonya makin mendekati 100 juta, berarti ekonomi bagus, kalau makin menjauh, berarti ekonomi jelek.
Saya nggak pernah kuliah ekonomi, tapi buat tahu hal begini ini kan cukup dengan rajin baca dan rajin nonton video-video "Ayo dipikirkan secara logika".
Anggaran MBG itu 1,2 triliun PERHARI!
Sekali lagi, PERHARI!
Itu program ngaco kalo diliburin seminggu, trus duitnya buat bangun sekolahan, renovasi sekolah rusak, bayar gaji guru dengan layak, dandanin infrastruktur, sama buat beasiswa, udah banyak yg terselamatkan!
MBG taek!
A rapist is still a rapist.
I don’t care if he’s a legend or a kid from the academy — even if it were Thierry Henry, I’d hate him.
What Arsenal’s doing by playing Partey while the case is ongoing is beyond shameful.
This time, I’m disappointed in my own club. #Arsenal