2. Selalu butuh validasi
Sebelum bertanya ke orang lain, tanya dulu ke diri sendiri.
Misalnya:
"Menurutku hasil ini sudah 8/10."
"Kalau ada yg kurang nanti bisa diperbaiki."
Biasakan mengambil keputusan kecil sendiri, misalnya memilih baju, makanan, atau membeli sesuatu tanpa harus minta persetujuan semua orang.
3. Sulit menerima koreksi
Ubah cara memandang kritik.
Jangan berpikir:
"Aku gagal."
Coba ganti menjadi:
"Orang sedang mengoreksi pekerjaanku, bukan menilai harga diriku."
Bahkan orang yang sangat ahli pun masih menerima masukan.
ada santri nanya orang kristen bisa masuk surga gk ?
Santri: Cak, kebetulan teman profesi saya beragama Hindu. Beliau sering tanya, nanti setelah mati, selain agama Islam, apakah bisa masuk surganya Allah?
Cak Nun: Sangat bagus pertanyaanmu itu. Tapi ini soal antara qat'i dengan dhanni. Qat'i itu sesuatu yang pasti. Tapi pasti bagi siapa? Bagi kita, itu jadi tidak pasti. Yang kedua, dhanni itu berprasangka kira-kira masuk atau tidak masuk.
Santri lain: Mbah, apakah selain Islam bisa masuk surganya Allah?
Cak Nun: Itu jawabannya qat'i, Mas dan qat'i itu pasti. Tapi coba, aku tanya balik: kamu sendiri pasti masuk surga?
Santri: ...Ragu-ragu, Cak.
Cak Nun: Nah, kan. Dan tidak mungkin ada kepastian, karena kepastian hanya ada di tangan Allah. Kita hidup ini cuma mudah-mudahan "laallakum", bukan kepastian. Sama seperti puasa: kutiba 'alaikumus-shiyam... laallakum tattaqun supaya kamu bertakwa, bukan "supaya kamu pasti jadi takwa". Dinamis, kadang naik kadang turun.
Santri: Jadi bagaimana sikap kita, Cak?
Cak Nun: Kalau saya, posisinya sederhana: ayo didoakan saja. Mudah-mudahan semua orang yang baik diterima Allah, dimasukkan surga. Karena dia Hindu, Buddha, Kristen, atau Islam, itu urusan dia sama Allah bukan urusan saya. Kalau dia bersyahadat, itu kepada Allah, bukan kepada saya. Jadi saya tidak punya urusan menghakimi itu. Yang penting, doakan saja, dan pastikan dia jadi teman yang baik.
Relate banget sama bahasannya. Pas udah nikah baru sadar kalau realitanya emang nggak se-hitam-putih itu, ya.
Bisa jadi banyak yang milih bertahan tuh karena terjebak sunk cost fallacy gak sih? Ngerasa udah telanjur investasi waktu, tenaga, emosi, sampai nama baik bertahun-tahun, jadi sayang banget kalau dilepas gitu aja. Padahal, makin lama bertahan tanpa solusi, makin besar juga biaya mentalnya.
Soal bertahan demi anak juga memang dilema. Betul, cerai bisa bikin anak syok, tapi tumbuh di rumah yang dingin, penuh konflik pasif, atau silent treatment juga bisa jadi trauma. Malah ngerinya mereka jadi mikir kalau hubungan yang gak sehat kayak gitu yang normal.
Makanya kalaupun emang mutusin buat bertahan, kuncinya bukan cuma sekadar statusnya tetep serumah doang, tapi kedua belah pihak kudu punya emotional maturity buat bener-bener berbenah.
Soalnya kalau enggak, takutnya yang diwarisin ke anak bukan keluarga utuh, tapi malah luka.
awal kasus perselingkuhan suami saya itu thn 2024, ketika saya sedang hamil dan kondisi rumah tangga saya sedang baik-baik saja. dan di thn 2024 saya juga menghubungi pihak perempuan dengan sangat baik dan sopan untuk memberitahu jangan ganggu suami saya dan perempuan itu selalu alasan yg tdk masuk akal untuk membela diri nya sendiri, akhir nya saya memutuskan untuk tdk mencari tau keberadaan pelakor ini karena menjaga kandungan di dalam perut saya.
saking saya stress pendam ini semua kandungan saya di katakan lemah dan perlu bnyk istirahat dan di bantu obat penguat kandungan di usia 4bln, karena pelakor ini terus mengganggu rumah tangga saya akhir nya saya harus lahiran di usia 8bln sehingga anak saya lahir prematur dan menginap di NICU 2 minggu, hati saya hancur mental saya rusak ketika saya membutuhkan dukungan suami perempuan ini terus menghubungi suami saya.
cc : peachy.berii
Netizen: Jadi manusia tuh bersyukur dikit napa 😅 Udah PNS, gaji aman, masa kelakuannya begitu... Eh, pas keciduk langsung syar’i mode on! 🧕✨ Cepet banget tobatnya, kalah cepat dari sinyal 5G 🤭”
Sc: @kr1t1kp3d45_r3b0rn
Kebiasaan keempat, jalan kaki itu transportasi bukan olahraga. Ke toko roti jalan, ke stasiun jalan, naik tangga. Kalori yang kebakar dari gerakan kecil seharian seringkali lebih gede dari satu sesi gym.
Ah, teknik basi jaman kakek gua.
Nih, teknik yang gak akan pernah gagal:
"Besok mamah gua ulangtahun. Tapi, bingung mau kadoin apa. Lu mau bantuin gua gak cari kado? Nanti makan gua bayarin deh 🤝"
Bener banget, kalau kata anak sekarang, kita kadang lebih tertarik sama yang bikin bingung daripada yang jelas-jelas sayang.
Dalam psikologi, fenomena ini namanya intermittent reward. Konsepnya mirip banget sama judi slot atau main gacha game. Karena hadiah atau perhatian yang dikasih itu gak konsisten, otak kita malah jadi makin penasaran setengah mati.
Orang yang hari ini perhatian banget, besok tiba-tiba ngilang, terus besoknya lagi balik seolah gak ada apa-apa, itu tuh memicu lonjakan dopamin yang bikin kita ketagihan.
Ujung-ujungnya, kita jadi sibuk sendiri menafsirkan chat dia, ngeliatin dia view story kita, atau ribet nyari arti dari kode-kode yang sebenarnya belum tentu bermakna apa-apa.
Nah, rasa penasaran yang menggebu-gebu inilah yang sering banget kita salah artikan sebagai rasa cinta.
Kebalikannya, orang yang komunikasinya jelas, konsisten, dan gak suka main mind games malah sering dicap boring atau ngebosenin. Padahal, justru kejelasan dan rasa aman kayak gitu yang jadi fondasi utama buat hubungan yang sehat.
Masalahnya ya itu, di fase PDKT banyak orang yang masih aja hobi ngejar sensasi rollercoaster emosi, dibanding milih hubungan yang beneran stabil dan tenang.
🥲 sedih, ini menurut gue penjelasan & wording penyelesaian dari istri sah yang paling tepat, lugas, jelas, tapi nyes banget.
"X (selingkuhan) dengan kehidupannya, Y (suami) dengan kehidupannya, dan saya pun akan melangkah menata kehidupan saya yang baru."
yaAllah SEDIHHH.