PEMERAN PENDUKUNG SINETRON KOLOSAL, anak emas istri ๐๐ก๐ซ๐ ๐๐๐๐๐ซ ๐๐๐ซ๐ฎ๐ฆ yang disukai warga-wargi karena dirinya bak bunga melati keemasan.
โ
Ia menata ekspresinya, membuat garis-garis di bibirnya terangkat alami, begitu pula dengan binar-binar matanya. ".... ketulusan. Memang sederhana, akan tetapi sangat berarti untukku, Ndoro. Akan kusimpan baik-baik."
โ
@Sombadra โ
"Bunga mawar putih adalah wujud lain dari kemurnian, dan ..." Anjani menundukkan wajahnya, nampak terlalu tersipu untuk melanjutkan kalimatnya.
โ
@Sombadra โ
Anjani mengangkat bahunya sembari menghela napas. Ia mendarat di atas kursinya tanpa berpikir dua kali. Diteguknya minumannya dengan cara elegan,
โ
@Sombadra โ
Satu, dua, tiga, empat, dan lima. Anjani memotong-motong ayam panggangnya menjadi bagian-bagian kecil. Cara memotongnya pun detail betul? Seperti ada perasaan tidak puas apabila potongannya tidak 'seragam.'
โ
@Sombadra โ
"Burung mana yang bisa menghapus malam seperti dia, Dinda? Dinda, oh, Dinda. Jangan memijakkan kakimu di rumah orang lain. Ingatlah, seorang perempuan itu semestinya bersikap seperti apa."
โ
@Sombadra โ
"Pertanyaan macam apa yang meluncur dari bibirmu itu?" Anjani menggeleng, "Bukan angin, tetapi api yang membara. Seperti obor yang dinyalakan untuk menghapus malam."
โ