Yang belum tau, dia ini dosen Fisipol UGM sekaligus direktur di lembaga riset Celios. Namanya Mas Media. S2 dan S3 dari The University of Manchester. Omongannya tajem, kritis, dan selalu based on data. Tentu tidak disukai kaum-kaum boikot UI dan UGM.
Villain is me
Beneran berasa jahat sama semua orang. Gimana bisa aku nyaman sedangkan semua ini sebenarnya bikin sakit orang lain.
Harus cari cara untuk berhenti.
Aku percaya, orang yang sudah bisa berdamai dengan kesendiriannya itu justru punya cara mencintai yang paling dewasa.
Karena dia gak datang buat "mengisi kekosongan", dia datang karena memang ingin berbagi hidup, bukan bergantung hidup.
Biasanya orang-orang seperti itu:
18 tahun. Itu tuntutan jaksa buat seseorang yang udah ngabisin waktu bertahun-tahun mencoba memajukan negara ini. Terlepas dari kamu setuju atau gak sama pandangan politiknya, coba deh renungin baik-baik angka itu.
Ini bukan kejadian yang pertama kali. Indonesia itu punya pola yang diam-diam menghancurkan: orang-orang pinter, kompeten, dan punya niat tulus masuk ke pemerintahan, tapi ujung-ujungnya malah dihancurin sama sistem. Gak selalu karena mereka bersalah, tapi seringnya cuma karena kehadiran mereka "dianggap mengganggu".
Tapi anehnya, kita terus-terusan nyuruh anak-anak muda terbaik kita: "Masuk dong ke pemerintahan. Mengabdi dong buat negara. Bawa perubahan."
Siapa juga yang mau kalau mereka ngelihat langsung kejadian kayak gini di depan mata?
Siapa pun dalang di balik semua ini, mereka sama sekali gak lagi ngelindungin Indonesia. Mereka justru lagi ngajarin satu generasi orang-orang berbakat kalau jalan paling aman itu ya mending diam aja. Atau sekalian pergi ke luar negeri.
Buat yang suka nyinyir, "Ya udah, pergi aja sana!", tolong berhenti nutupin ego kalian dari kenyataan. Banyak kok orang Indonesia yang super cerdas dan bener-bener cinta sama negara ini. Mereka tetap stay di sini. Mereka ngebangun sesuatu. Mereka nyari cara lain buat berkontribusi di luar pemerintahan, karena masuk ke dalam sistemnya itu terlalu bahaya.
Tapi ini realita yang lebih pahit: sehebat apa pun startup, kreator, atau inovator kita di kancah dunia, KALAU pemerintahnya tetap korup dan gila kuasa, KALAU aturannya gak ngelindungin rakyat atau gak ngasih ruang buat industri berkembang dengan sehat, terus kita sebagai masyarakat bisa berharap apa?
Ini momen yang sedih banget buat Indonesia. Bukan cuma karena ada satu orang yang lagi diadili, tapi karena pesan yang ditangkap sama semua orang pintar dan idealis yang lagi ngelihatin kasus ini: bahwa negara ini sepertinya belum siap buat ngelindungin orang-orang yang berani membawa perubahan.
Ini semua karena pemerintah kolonial belanda yang ngelarang warga kita metik kopi buat konsumsi pribadi. Saat itu komoditas kopi dan teh lagi mahal2 nya soalnya jadi semuanya dijual ke luar negeri, nah ketika penduduk sadar kalau kotoran luwak ada biji kopinya akhirnya mereka bersihkan dan olah, eh enak ternyata
Jadi deh kopi luwak
Bahaya Tersembunyi Tren "Clean Eating" pada Anak: Jangan Terapkan Diet Dewasa untuk MPASI!
Belakangan ini, saya sering melihat tren di media sosial di mana orang tua bangga memberikan menu "clean" untuk bayi: serba rebus, tanpa lemak, tanpa rasa, dan penuh sayuran hijau.
Niatnya baik, ingin anak sehat sejak dini. Namun, secara medis tren ini bisa membahayakan pertumbuhan anak.
Mengapa Anak Bukan "Orang Dewasa Mini"?
Banyak orang tua terjebak FOMO pola makan sehat dewasa. Padahal, kebutuhan fisiologis anak di bawah 2 tahun—terutama 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK)—sangat berbeda.
1. Otak Anak Adalah Lemak
Sekitar 60% otak manusia terdiri dari lemak. Di masa pertumbuhan pesat, anak butuh lemak sebagai bahan bakar utama perkembangan saraf dan otak. Lemak bukan musuh, melainkan nutrisi esensial.
2. Kapasitas Lambung yang Terbatas
Lambung bayi kecil, hanya seukuran kepalan tangan. Makanan terlalu "bersih" (rendah kalori, tinggi serat) membuat anak kenyang sebelum kebutuhan energi terpenuhi. Akibatnya, risiko defisit energi kronis.
3. Bahaya Defisit Makronutrisi
Diet "clean" ala influencer (misalnya hanya dada ayam rebus dan brokoli tanpa lemak) sering membuat berat badan anak seret (faltering weight). Jika dibiarkan, ini jalur cepat menuju stunting.
Apa yang Seharusnya Dilakukan?
Jangan takut tambahkan lemak sehat ke menu anak: minyak, santan, margarin, mentega, atau lemak alami dari daging agar makanan padat kalori.
Lemak dan sedikit rasa (garam/gula sesuai anjuran) membuat makanan lebih enak, sehingga anak kecil kemungkinan mengalami GTM (Gerakan Tutup Mulut).
Pesan untuk Orang Tua:
Kesehatan anak bukan dari seberapa estetik atau "hijau" piring makan di kamera. Indikator paling akurat adalah kurva pertumbuhan di Buku KIA atau aplikasi kesehatan resmi.
Mari lebih rasional memilah tren. Tugas kita membesarkan anak sehat dan kuat, bukan konten yang terlihat sempurna.
Bagaimana menurut Anda? Pernah tertekan memberikan makanan "serba sehat" tapi anak justru sulit makan? Mari diskusi di kolom komentar.
#KesehatanAnak #MPASI #CegahStunting #ParentingIndonesia #DokterAnak
Dari Novel Negeri 5 Menara:
Tinggalkan negerimu dan merantaulah ke negeri orang
Merantaulah, kau akan dapatkan pengganti dari kerabat dan kawan
Berlelah-lelah, manisnya hidup terasa setelah lelah berjuang
Aku melihat air menjadi rusak karena diam tertahan
Jika mengalir menjadi jernih, jika tidak, kan keruh menggenang
Singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa
Anak panah jika tidak tinggalkan busur tak akan kena sasaran
Jika matahari di orbitnya tidak bergerak dan terus diam
Tentu manusia bosan padanya dan enggan memandang
Bijih emas bagaikan tanah biasa sebelum digali dari tambang
Kayu gaharu tak ubahnya seperti kayu biasa jika di dalam hutan
@snackberryy @ohmy_beautybank Mjb kak, tisu sheetmasknya itu bisa dipake berkali kali ngga sih? Atau sekali pakai langsung buang? Kok sayang banget sama sisa serumnya ya 🫠
emang udah paling bener laki-laki tuh fokus kerja, kumpulin uang yang banyak, beli yang ga bisa dibeli pas waktu kecil dan bahagiain keluarga, sisanya ga penting.
2026
Betapa kejamnya pemerintah membiarkan rakyat kecil berjuang sendiri membangun sekolah seadanya, tanpa uluran tangan sedikit pun. Anak2 SD itu duduk di lantai tanah, berdinding bambu, beratap rapuh—sementara pejabat sibuk berjanji. Namun guru & murid tak sudi menunggu Jakarta