gw tu toxic banget kayanya, gw gabisa kalo pasangan gw tbtb hilang kabar, gw gabisa ada perubahan dikit aja di pasangan gw, karna hal itu bisa bikin gw nangis sampe tremor, kayanya gw emang jangan sama siapa siapa dulu deh
Hari ini, Tom divonis 4,5 tahun penjara. Keputusan yang amat mengecewakan bagi siapa pun yang mengikuti jalannya persidangan dengan akal sehat, meski sayangnya tidak mengejutkan.
Selama proses berjalan, berbagai laporan jurnalistik independen dan analisis para ahli telah mengungkap kejanggalan demi kejanggalan dalam dakwaan. Fakta-fakta di ruang sidang justru memperkuat posisi Tom, tapi semua itu diabaikan. Seolah-olah 23 sidang yang telah digelar sebelumnya tak pernah ada. Seolah-olah bukti dan logika tak diberi ruang dalam proses peradilan.
Jika kasus sejelas ini saja bisa berujung pada hukuman penjara, jika seseorang seperti Tom yang dikenal dan terbukti integritasnya di pengadilan, terbuka dan disorot publik perkaranya, masih bisa dihukum semena-mena, maka bayangkan nasib berjuta lainnya yang tak punya akses, sorotan, atau kekuatan serupa.
Vonis hari ini adalah penanda bahwa keadilan di negeri ini masih jauh dari selesai. Demokrasi belum kokoh berdiri. Kita dihadapkan pada keraguan mendasar tentang kredibilitas sistem hukum, dan tentang keberanian negara menegakkan kebenaran. Ketika kepercayaan terhadap proses peradilan runtuh, maka fondasi negara ikut rapuh.
Senin lalu, Tom menyampaikan dalam dupliknya bahwa ia belajar tentang makna kata tawakkal, tentang berusaha sekuat tenaga lalu menyerahkan hasilnya pada Tuhan. Sayangnya hari ini, hasil itu belum berpihak padanya. Tapi ini bukan ujung. Ini satu babak dari perjuangan panjang untuk menghadirkan keadilan yang belum tuntas dan akan terus kita jalani bersama.
Tom dan tim pengacara masih mempertimbangkan respon terhadap putusan ini. Tapi satu hal yang jelas, kita akan terus mendukung penuh langkahnya untuk mencari keadilan sampai titik akhir. Apapun yang akan ia hadapi ke depan, kita terus pastikan bahwa Tom tidak akan pernah berjuang sendirian.
Teman-teman, Ibu-bapak yang saya hormati, saya sudah baikan. Sudah tidak lagi demam (yang minggu llau sampai 38.6 derajat celcius), dan bahkan sekarang sudah kembali olahraga rutin seperti biasa. Sedihnya, berat badan saya turun 3 kg dalam ~2 minggu. Tapi saya terus semangat, apalagi proses hukum saya di tingkat Pengadilan Negeri mulai masuk ke tahap final, dengan Putusan Majelis Hakim sudah harus terbit sebelum akhir Juli 2025. Terima kasih yang dalam pada ibu-bapak, kakak-adik yang mendoakan saya lekas sembuh 1-2 minggu ini. Mari kita terus semangat dan mari kita terus cinta Indonesia.
My dearest and most honorable friends, ladies & gentlemen: I've recovered from my ilness, with no more fever now (last week my fever reached 38.6 degree celcius), and by now I've even returned to my regular exercise routine. Sadly, I lost 3 kg of body weight these 2 weeks. But I continue to be in good spirits, all the more as my judicial processat the District Court level enters its final phase, with the verdict from the Panel of Judges due end of July 2025. My deepest thanks to all of you who prayed for my speedy recovery these 1-2 weeks. Let's maintain high spirits, and let's continue to love Indonesia.
Jakarta, 30 May 2025
AKUN INI SEMENTARA DIKELOLA OLEH TIM ATAS ARAHAN PAK TOM MELALUI KUASA HUKUMNYA
(0/13) Teman2, utas saya soal mengapa orang miskin punya banyak anak mendapat banyak tanggapan. Terima kasih. Senang sekali bisa berdiskusi. Izinkan saya memberi beberapa tanggapan lanjutan, semoga bisa memperjelas maksud dan membuka ruang pikir kita bersama.